A Word Of Love From The Traitor

A Word Of Love From The Traitor
CH 24 : Kekesalan Rima



Rima berjalan sambil mengumpat menumpahkan, Kekesalannya terhadap Ayana & Juga Rania. Karena semenjak Dibohongi Oleh Ayana, Kini Rima sangat berhati-hati pada setiap wanita yang dekat dengan putranya.


Sementara Adhi Terlihat heran dengan Sikap istrinya Yang sedang marah-marah,Sambil berjalan ke Arahnya.


"Maa..., Kamu kenapa? Marah-marah seperti ini. Baru juga sampe Sudah marah-marah Aja, Ada apa sih,,?"


"Hahhh...,Mama Gerah dengan kelakuan Ayana di luaran Sana pah! Ternyata Ayana benar-benar menyelingkuhi Anak kita."


"Dari Awalkan Damar sudah bilang, Mama saja yang Tak percaya."


"Iya...,Mulai sekarang sejengkal pun, Mama tidak akan membiarkan wanita licik itu mendekati Damar lagi, Apalagi wanita miskin itu. Hahhh..., Rasanya mama ingin Menampar wajahnya yang sok malaikat itu."


"Siapa Maksud mama,,?"


"Siapa lagi kalau bukan Istrinya selingkuhan Si Ayana itu pah! Mama jadi curiga dia cerai dari Hendry,Terus mengincar Anak kita."


"Ma...,jangan Soudzon sama orang Tidak baik mah! Lagian kita belum tahu betul karakter orang itu seperti Apa, Bisa saja dia memang orang baik kan."


"Papa,ini. Gak Ada Di dunia ini Orang miskin Yang baik! Mereka semua itu palsu pah."


"Yasudah Terserah mama Saja deh!" Timpal Adhi.


Kini mereka berdua berada di dalam Ruang perawatan putranya yang masih belum sadarkan diri,Alat Rumah sakit seperti Jarum gantung, selang makan. Dan Monitor. Kini menempel pada Tubuh Yang Terbaring Tak sadarkan kan diri itu. Rima Sangat Sedih melihat putra semata Wayangnya Sang Ceo kaya Raya se Asia itu, Belum juga siuman.


"Kira-kira Kapan ya pah, Damar siuman. Rasanya mamah tak tega melihatnya seperti ini."


"Papa Juga Tak Tahu Mah...,Yang jelas Kita jangan putus berdoa Ya mah!"


Rima merangkul Suaminya, Sambil menatap Nanar kepada Damar Yang masih belum sadarkan diri.





Aisyah berjalan keluar dari Ruangan nya, Setelah Selesai memeriksa Pasien yang berkonsultasi padanya, Ia berniat menuju Ruangan Suaminya. Namun Saat Aisyah Berjalan di depan Toilet Tiba-tiba saja ia mendengar Suara Tangis dari balik Tembok disana.


Dengan langkah penasaran Akhirnya Aisyah kini Tahu siapa Yang sedang menangis itu.


"Rania,,?"


"Dokter...,Hiks...hiks...hiks." Rania langsung menubruk Aisyah yang sudah ia anggap seperti Keluarga nya.


"Kamu kenapa? Menangis seperti ini Rania,,?"


"Saya Hanya sedang bersedih Saja...,Dokter! Saya Masih belum terima dengan semua kenyataan Yang amat pahit ini Don." Buliran Putih terus terjatuh membasahi pipinya.


"Sudah Rania, Saya Yakin kamu Adalah wanita Yang sangat tegar. Sudah Yah...,Jangan Nangis lagi." Aisyah menyeka Buliran yang menetes dari mata Rania.


Tangis Rania Seketika mereda Saat melihat Rima sedang berjalan Gontai ke Arahnya.


"Terimakasih Ya Dok, Dokter sudah mengerti dengan perasaan Saya."


"Tidak apa-apa Rania..., Bukankah Saya sudah pernah bilang jika kamu punya Masalah. ceritakan Saja pada Saya, Saya siap menampung keluh kesah kamu."


Saat Aisyah dan Rania saking merangkul, Tiba-tiba Saja Rima berdiri tepat di hadapan mereka.


"Hati-hati dengan Ulat bulu kecil ini Dokter, Diam-diam Dia Sangat mematikan."


Kemudian Rania dan Aisyah menoleh Secara bersama, Ke Arah Sumber suara, Dan pemilik suara itu adalah Rima.


"Tante." Rania terbata-bata memanggil Rima.


"Sudah Saya bilang, Panggil Saya Nyonya!" Rima membentak Rania.


"Anda ini siapa,,?" Tanya Aisyah terhadap Rima.


"Perkenalkan Dokter, Nama Saya Rima. Saya Mama nya Damar Adhi Nugraha."


"Ada Urusan apa Anda dengan Rania, Maaf Nyonya , Anda harus sopan. Jangan menyakiti Hati sahabat saya, Karena Saya tidak suka pada orang seperti Anda. "


Aisyah mengajak Rania segera pergi dari Hadapan Rima Yang mengumpat. Serta mengatai Rania dengan sebutan Ulat bulu.


"Sombong Juga Dokter, Aisyah!" Gumam Rima Dalam hati." Awas Saja Dokter kamu akan menyesal, Karena telah berbuat baik pada Orang miskin seperti Rania." Rima Menatap langkah demi langkah Rania dan Dokter Aisyah,Perlahan menjauh dari Pandangan nya.


"Bukan Siapa-siapa nya Saya Dok, Sudahlah Dok. Jangan bahas Orang tadi."


"Iya...Iya...Saya Takkan membahasnya lagi."


Kini Aisyah dan Rania berada di Ruangan Dokter Fachri. Terlihat disana Dokter Fachri Tampak sibuk sedang mengetik sesuatu di komputer nya.


"Selamat Siang."


" Hey..., Saya kira kalian Takkan Kesini! Oh ya.., Rania, Tolong Antarkan Proposal ini ke Ruangan Dr Wank,"


"Baik Dok, Sini proposal nya." Timpal Rania mengulurkan Tangannya mengambil proposal dari Tangan Fachri.


Kemudian Rania berjalan Gontai, Menuju ke Ruangan Dr Wank.


"Selamat Siang Dok!"


"Silahkan Duduk Suster Rania," Dr Wank menyambut Rania


"Terimakasih Dok, Saya kemari Hanya Untuk mengantarkan Proposal ini, Dari pak Fachri." Rania menunjukan proposal dari Fachri untuk nya.


"Ok..., Terimakasih. letakkan saja di meja Saya." Ucap Dr Wank.


Setelah itu Rania Kembali ke Ruangannya, Tak sengaja lewat depan Ruang Rawat Damar. Kakinya seolah melangkah sendiri Tanpa Sadar ia telah berada di dalam Ruangan Damar. Namun Rania Tak mengetahui kalau di Ruangan itu ada "Adhi" Yaitu Ayahnya Damar.


"Ekhem..." Kamu Rania Kan! " Adhi berdehem dan menanyai Rania. Sekilas Rania Menoleh ke sumber Suara Yang mengagetkan nya.


"Ma..Maafkan, Saya Om, Telah Lancang masuk ke Ruangan ini." Rania Gugup lantaran Adhi mengagetkan nya.


"Tidak Apa-apa...,Kamu temannya Anak saya kan." Tanya Adhi.


"Bu..Bukan Om, Saya hanya kenal sedikit Saja." Jawab Rania Gugup.


"Saya Malah Bakal setuju Kalau kamu, Bukan Temannya. Saya Ingin kamu mendekati Anak saya." Buat Anak saya Jatuh Cinta padamu, Maka Saya akan Bayar kamu Berapapun."


Mata Rania membulat sempurna, Bagaimana mungkin seorang Ayah, mencarikan Anaknya Seorang perempuan dengan Cara membayar Si Calon pacarnya.


"Berapapun, Om. Maksud Om..., Saya Jadi Pacar Sewaannya, Damar." Ucap Rania menelan Saliva nya.


"Ya..., kurang lebih seperti itu!" Sahut Adhi.


"Maafkan Saya! Saya tidak bisa menyanggupi permintaan Om Adhi." Rania langsung pergi dari Ruang perawatan Damar.


Rania berjalan Gontai Keluar dari Ruang perawatan Damar, Saat Rania menggapai Handel pintu Tiba-tiba saja, Rima yang baru dari Toilet Membuka Handle pintu Ruangan Damar Secara Bersamaan. Rima menatap Tajam Pada Wanita yang kini bertatapan dengannya.


"Sudah Saya duga.., Wanita ini benar-benar mengejar Anak Saya." Gumam Rima menatap Tajam pada Rania .


"Tan..te..." Rania gugup setelah mengetahui kedatangan Rima.


"Untuk Apa kamu menemui Anak saya!" Bentak Rima Menatap Tajam Rania Sambil menariknya.


"Keluar Kamu, Dari Ruangan Anak Saya! Sudah Saya katakan, Jangan coba Menemui Damar, Apalagi kamu mendekati nya." Rima Merekatkan Rahangnya sambil menatap Tajam Terhadap Rania, Ia Sangat marah Pada Rania.


Tiba-tiba saja Adhi mendengar Kebisingan Suara Istrinya, Yang tengah memarahi Rania.


"Hentikan Ma...,Jangan Buat Keributan disini. Malu pada Orang lain Ma." Ucap Adhi Nugraha.





Next part...


Halo Readers...


Ikuti terus kisahnya yah.


Jangan lupa bantu Like,Vote,Dan Komentar.


Bantu Saya di season5 ini Yah...