
Dengan lemas Rania berusaha meraih gagang pintu kontrakan nya, ia benci bila harus mengingat penghinaan yang terlontar dari Rima. Orang tua lelaki yang sangat ia cintai.
'Apa aku harus menyerah dengan semua ini, apakah bertahan adalah pilihan yang tepat untuk ku, Lalu bagaimana dengan yang sudah terjadi, rasa sakit yang terlalu banyak aku dapat, dari perlakuan ibunya. Oh tuhan ... Sampai kapan kau uji cinta kami,' Gumam Rania bicara dalam hatinya.
Ia lelah bila harus bergelut dengan keadaan, terkadang tanpa ia ketahui Rima merencanakan niat untuk memisahkan mereka.
Rania berjalan gontai menuju kamar mandi, ia duduk merengkuh dirinya di bawah guyuran air yang terjatuh lewat celah shower.
Sesekali ia menyeka buliran air mata yang terjatuh,dan tercampur dengan murni nya air.
"Aku benci dengan semua ini, kenapa keadaan tidak pernah berpihak kepadaku tuhan ...," teriak Rania menangis sejadi-jadinya. "Bahkan sedetik pun kau tidak pernah memberi kebahagiaan itu untuk ku, kenapa kau sangat senang menyiksaku ... Hiks ..., Hiks ..., Hiks," Lirihnya bersandar pada tembok kamar mandi.
Hatinya sedang hancur, Ia lelah menghadapi semuanya, hanya seperti inilah caranya menumpahkan kekesalannya.
Rania yang terlihat selalu tegar, ia selalu menyembunyikan sisi rapuh nya, ia tak mau jika orang lain tahu jika dirinya lemah.
"Katakan padaku jika aku salah mencintainya, jika memang benar aku salah karena telah menaruh hatiku untuk nya. Kenapa kau membiarkan diantara kami saling mempunyai perasaan yang sama," teriak Rania frustasi, memaki Tuhan, entah setan mana yang merasukinya. Sehingga berani mengumpat pada sang pemilik alam ini.
Malam semakin larut, Semilir angin terasa dingin menusuk ke tulang. Terlihat seorang gadis cantik bergelar dokter, siapa lagi jika bukan Diana.
Iya menatap hamparan samudera di depannya, ombak silih berganti berdatangan menyapu pantai.
Namun Diana masih betah menatap hamparan samudera itu, tak terasa buliran air mata mulai terjatuh dari matanya.
Hatinya terasa sakit, saat melihat pria yang dia cintai sudah menjadi milik orang lain.
"Fachri ... Aku bersalah telah mencintaimu ... Tapi aku sangat menyayangimu Fachri," teriak Diana melepaskan keperihan di hatinya.
"Kenapa aku harus mencintai pria beristri sepertimu, kenapa Fachri ...," lirih Diana.
Deburan ombak terus menyapu pantai, lampu-lampu berkedipan di antara suasana pantai.
"Kau sama sekali tidak bersalah Diana ... Aku juga sangat mencintaimu. Tapi aku tak bisa bila harus meninggalkan Aisyah."
Deg ...
Diana langsung menoleh ke sumber suara yang menyadarkan nya, ia melihat sosok Fachri disana, sedang tersenyum ke arahnya.
"Fachri ... Benarkah itu kau!" ucap Diana menghambur ke pelukannya.
"Bahkan ribuan Fachri kau bisa mendapatkan nya adikku, kau tak perlu menangisinya. Rebut lah jika kau mau," ucapnya.
Sontak saja Diana melepaskan pelukannya, setelah mendengar ucapan dari pria yang sedang di peluk nya. Yang ternyata bukanlah Fachri, melainkan Hendry kakaknya.
"Bang Hendry ... Mau apa kau datang kemari? kau menguntit ku yah!" ucap Diana menyeka sisa-sisa air mata di pipinya.
"Hey ... Kenapa dengan adik abang yang cantik ini? Kenapa kau tergila-gila dengan dokter itu." Ucap Hendry kembali mengulang kalimatnya.
"Sok tahu kamu ... Sudah aku mau pulang, males. Ngebahas hal yang gak penting." Ujar Diana, segera bergegas menuju ke mobilnya.
"Diana ... Diana ... Abang tahu kamu menyukai dokter itu Dee," ucap Hendry menatap kepergian adiknya.
Sementara Ayana sekarang sedang di buat geram oleh hendry, yang tak kunjung pulang ke rumah.
'Dimana kamu mas ... kenapa semalam ini kamu belum pulang juga,' ucap Ayana menatap jam di tangannya.
"Sudah malam, sudah cepat tidur," ucap Artha yang tiba-tiba datang.
"Kamu sedang menunggu Hendry kan, sudah jangan kau tunggu dia, paling anak itu sedang berkunjung ke rumah Rania," Artha sengaja membuat Ayana panas dingin, karena yang Artha inginkan Hendry berpisah dari Ayana.
"Hahh ... mama jangan mengada-ngada deh, gak mungkinlah mas Hendry pulang ke rumah Rania, lagipula mas Hendry kan tidak mencintai gadis desa itu." Skakmat Ayana terhadap mertuanya.
"Ehhh ... dibilangin malah ngeyel kamu ini, saya ibunya saya tahu yang terbaik untuk anak saya," gerutu Artha yang marah terhadap Ayana.
"Hah ... Terserah mama deh mau ngomong apa, yang jelas aku tidak akan terpancing oleh omongan mama, bye mama mertua ku sayang." ujar Ayana pergi meninggalkan ibu mertuanya.
"Dasar menantu kurang ajar, berani sekali dia bertingkah seperti itu pada saya, memang yah hanya Rania yang sangat anggun dan tepat untuk Hendry," ucap Artha pada dirinya sendiri.
Sementara Rima masih dibuat kesal, atas perbuatan Rania yang menolak sejumlah cek yang berisikan ratusan juta, dam di robek begitu saja oleh Rania.
"Heuh ... menyebalkan, lihat saja Rania sekuat apapun kamu ingin mempertahankan hubunganmu, dengan putraku. Aku tidak akan tinggal diam membuat hubungan mu hancur," geram Artha memukul-mukul kemudinya.
"Ma ... kau baik-baik saja kan?" tanya Adhi yang menyadarkannya.
"Mama baik-baik saja pa, kenapa memangnya?" sahut Rima kemudian keluar dari mobil.
"Mama sedang marah-marah pada siapa sih, kok memukul-mukul stir mobil?"tanya Adhi lagi.
"Mama bukan marah tapi mama kesal pada Rania," ujar Rima.
"Kesal kenapa memangnya, Rania buat kesalahan apa pada mama sehingga mama kesal padanya?" Adhi mengulang kalimatnya kembali.
"Akhhhhh sudahlah jangan di bahas, mama capek mama mau istirahat," ujar Rima beranjak menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Sementara Adhi hanya menatap heran terhadap tingkah Istrinya, yang semakin hari semakin bertingkah aneh, dan selalu mencampuri urusan putranya.
'Mama ... mama ... sampai kapan kamu akan mengurusi hubungan anak kita ma, mereka sudah besar sudah bisa membedakan mana yang baik dan yang salah,' batin Adhi menatap Istrinya yang masih merutukki dirinya sendiri.
Tidak berapa kama Damar barusaja terlihat pulang, ia terlihat murung tidak seperti biasanya.
"Damar ... kamu kenapa?" tanya Adhi terhadap putranya.
"Tidak apa-apa, memangnya kenapa pa?" balas Damar menjawab pertanyaan papanya.
"Itu wajahmu ditekuk, ada apa memangnya?" ucap Adhi mengulang kalimatnya.
"Entahlah" Damar juga bingung dibuatnya, aku heran dengan perubahan sikap Rania padaku pa, dia seperti menghindari ku sekarang. Apa ini ada hubungannya dengan mama yah?" ujar Aldi.
"Terus saja kamu hubung-hubungkan semuanya dengan mama, jika Rania berubah pada kamu, itu tandanya dia tidak serius dengan kamu Damar ... sudah lebih baik kamu tinggalkan saja dia." Celetuk Rima berjalan menuruni tangga.
"Mama kok bisa menyimpulkan seperti itu, atau jangan-jangan. Memang benar yah, semua ini ada hubungannya dengan mama," ujar Damar menatap pada ibunya.
"Kamu kok jadi membela perempuan itu ya, ketimbang mama yang melahirkan mu. Damar ingat ya pesan mama, segera tinggalkan perempuan itu, sebelum kau menyesalinya nak." sahut kembali Rima.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Halo Readers ikuti terus kisahnya yah...
Bantu Vote, like ,komen ...
Happy reading ....