A Word Of Love From The Traitor

A Word Of Love From The Traitor
CH 33 : Ada Duka di Antara kabar gembira



"Bagaimana Mas...,Apa kamu sanggup memberikan 15% Saham Wijaya_group untuk ku."


"Hahhh...,Kau gila Ayana.!"


"Baiklah Kalau tidak bisa memberikan Saham itu Untuk ku." lebih Baik kita tak Usah Saling kenal Lagi."


"Baiklah Aku akan memberikan 15% Saham milikku, Tapi setelah kita menikah. Apa kau mau menikah dengan ku,,?"


"Baiklah Aku akan menikah dengan Kamu, Begitu dong Sayang itu baru Namanya. Calon suami."


Kemudian Ayana bangkit dan memeluk Hendry yang Masih dalam keadaan berdiri. " Aku menyayangimu Mas...,Maka jangan berfikir kamu untuk meninggalkan Aku lagi. Aku sudah meningalkan Dunia ke Artisan hanya untuk menjadi sekretaris mu, Maka kau harus mengingat pengorbanan Ku."


"Tentu saja aku akan selalu mengingat itu Sayang." Hendry membalas pelukan kekasihnya itu.


"Akhirnya kau jatuh lagi ke pelukan Aku mas, Lihat saja kali ini aku tidak akan melepaskan mu begitu saja." Gumam Ayana dengan seringai Nakalnya.


......................


Sementara Rania masih terpaku memandangi Danau dengan Hamparan Rumput di pinggir nya, Ia merasa sudah Cukup untuk menenangkan dirinya.


kini Rania berniat kembali Ke Rumah Sakit tempat Dimana Damar sedang di Rawat.


Rania berjalan gontai menyebrang jalan Raya, Untuk segera Menyelesaikan pekerjaan nya, Merawat Damar Yang masih terbaring Tak Sadarkan diri.


"Hahhh..., Akhirnya aku kembali lagi ke pekerjaan yang menyebalkan ini, Mengurus bayi besar yang Tak kunjung bangun." Sejenak Rania menghela Nafasnya, Kemudian memasuki Rumah Sakit yang sangat terkenal se Asia itu.


"Nona Rania,,?"


"Ada apa Rel, Kau mau memerintah aku lagi." kata Rania menoleh kepada Arel yang memanggil nya.


"Tidak Nona, Saya hanya ingin menawarkan Kau makanan saja."


"Tidak Usah, Saya tidak lapar." jawab Rania sekilas Memasuki Ruangan Damar.


"Baiklah..., Nampaknya Kau masih Marah." sahut Arel.


"Nit..,Nit..,Nit." Suara mesin pendeteksi Jantung itu berbunyi di Ruang perawatan Damar Yang Sunyi. Tak berapa Lama Dokter Kim kembali memasuki Ruangan itu.


"Halo Mis Rania!!!" Sapa Kim terhadap Rania.


"Halo Dokter Kim," Sambil Menyunggingkan Senyum Ramahnya.


"Miss Rania...,Benarkah Kata Tuan Adhi, Sebenarnya Anda ini Adalah Perawat Andal di bidang Medis." Seru Kim terhadap Rania.


"Hahhh...,Kau berlebihan Dokter, Tidak Saya hanya perawat biasa. kebetulan Saya pernah merawat Tuan Damar se waktu di Indonesia, Saya tidak se Andal Yang Tuan Adhi ceritakan Pada Anda."


"Begitu Rupanya..., Tapi Anda bisa kan merawat Tuan Damar, Membantu Saya di sini."


"Ya...,Saya bisa karena itu memang pekerjaan Yang harus saya selesaikan."


"Ok...,Kalau begitu Mulai Hari ini Anda Resmi merawat Tuan Damar, Memantau Respond Tuan Damar."


"Ya baiklah." Saya akan berusaha sebisa Saya." Timpal Rania berjalan mendekat ke Arah Ranjang Perawatan.


"Baiklah kalau begitu Saya Pamit Nona Rania."


"Yah Baiklah Dok"


Kemudian Dokter Kim pergi meninggalkan Rania bersama Damar Yang terbaring di Ranjangnya.


Sesekali Rania menatap wajah Tampan seorang Damar, Ia Tersenyum saat mengingat kejadian Yang lucu bersama Damar.


"Hay...,Kapan Kau bangun Tuan, Tidak ingin kah Kau membalas semua Yang telah berlaku Tak adil terhadap mu." Bahkan kau Masih enggan untuk membuka Mata mu."


Seketika Damar membuka Matanya, Seolah terbangun Dari mimpi Buruknya.


"Uhuk...,Uhuk...,uhuk."


Betapa Kagetnya Rania saat melihat Damar terbangun Tanpa Ada Aba-aba gerakan Tangan Atau Apapun.


"Kau...,Kau Bangun.!!! Akhirnya Aku terbebas Dari kesialan ini." Rania menari ke Girangan disampingnya Damar.


"Hei...,Kau kenapa,,? Ra-ni-a ku." Ucap Damar dengan Terbata-bata.


Deg...," Seketika Rania Bernostalgia dengan Kata-kata Yang Terlontar dari Mulutnya Damar.


"Kau panggil aku Apa Tadi,,?"


"Ra-ni-a..., Ku..." Kau Sahabatku kan." Seketika Bayangan Saat Damar pertama kali menginjakkan kakinya di Jakarta. Terlintas begitu Saja.


"Kau kenapa, Tuan Kau kenapa." Tunggu sebentar Saya panggil kan Dokter Yah."


Rania berlari dengan Panik mencari-cari Dokter Kim, Arel Yang melihat Rania berlari-lari. Dengan Segera Menghampiri nya.


"Kau kenapa Nona,,?" Tanya Arel dengan Cemas.


"Papapanggilkan Dokter Kim, Damar Siuman Akan tetapi dia kesakitan. Cepat Kamu Cari Dokter Kim." Ucap Rania Gugup campur Panik.


"Baiklah Kamu tunggu di dalam Ruangan Saja, Biar Saya yang memanggil Dokter Kim." Tutur Arel dengan Segera menuju Ruangan Dokter Kim.


kemudian Rania kembali Ke Ruangan Damar, Ia masih melihat Damar Yang mengerang Kesakitan di Bagian kepalanya.


"Arghhhhh..., Arghhhhh Sa-kitttttt." keringat bercucuran dari Badan Damar.


"Kau Harus bersabar Tuan Damar, Dokter Saat ini Pasti sedang menuju Kemari."


"Arghhhhh...,Kepalaku Sakit Rania." Akhhhhh..." Histeris Damar merasakan Sakitnya.


Tak berapa Lama Dokter Kim Bersama Arel memasuki Ruang Perawatan Damar.


"Cepat Kamu Ambilkan Obat pereda Rasa Nyeri, " perintah Kim terhadap Rania.


Rania dengan segera mengambil Obat yang di maksud Dokter Kim. " Ini Dok Obatnya." Ucap Rania menyerahkan Obat itu.


Kemudian Kim menyuntikkannya Ke dalam botol Infus. Perlahan Damar terlihat Tenang dan kembali memejamkan Matanya.


"Apa Yang terjadi Dok,,? kenapa tiba-tiba Saja dia bangun Dan merasakan kesakitan Yah!!!"


"Dia mengalami Kemunduran Ingatan, Dia Hanya Mengingat Masalalu nya. Dan Orang-orang terdekat di Masalalu nya."


"Apa Artinya dengan Semua ini, berarti Dia memanggil ku seperti tadi, Akhhhh tidak mungkin, Dia orang Yang sama." Rania berusaha menampik semua Yang berseliweran di dalam fikirannya.


"Lalu bagaimana Dengan keadaan nya sekarang Dok." Tanya Arel yang merasa khawatir.


"Beliau Akan baik-baik Saja, Hanya Saja dia tidak akan mengingat Apa yang terjadi kepadanya. Karena di dalam memori Otaknya, Ada Trauma yang begitu menyiksa batin nya." Tutur Dokter Kim terhadap Arel dan Rania.


"Trauma...,Apakah Masalalu nya. Siapa sebenarnya Damar." Gumam Rania kembali.


"lebih baik kalian keluar, Biarkan Tuan Damar beristirahat dahulu."


"Baiklah."


Kemudian Rania dan Arel keluar dari Ruangan itu. Rania terus melangkah kan kakinya, Meski hatinya sedang berkelana dan fikirannya tak henti Bertanya-tanya.


Kemudian Arel berjalan menjauhi Rania, Karena Ia akan menghubungi Pihak keluarganya Damar, Yaitu Adhi dan juga Rima kedua orangtuanya Damar.


"*halo Tuan...,Kabar gembira Tuan."


"Ya Kabar gembira Apa Rel," Ucap Adhi di seberang sana.


"Tu..,tu..,Tuan Damar siuman Tuan." Timpal Arel Dan Adhi pun bersyukur.


"Terimakasih Tuhan, Kau telah mengembalikan putraku." Ucap Adhi menutup Saluran telponnya*.


Sementara Rima Yang baru saja pulang dari Swalayan, Ia terlihat membawa beberapa jenis sayuran. Seketika Kaget luar biasa mendengar kabar Putra nya telah Bangun dari Koma nya. di belahan Negara Asia Timur.


"Pah..., Benarkah Yang mamah denger barusan."


"Ya mah Benar, Damar sudah Siuman."


"Kita Harus segera ke Korea Pah, untuk menjemput Damar Pah."


"Tapi Damar hanya mengingat Masalalu nya mah, Ingatan dia mundur 2th ke belakang, Begitu info Yang papah dapatkan barusan."


"Tidak...,Tidak mungkin pah. Kalau ingatan Damar mundur 2th kebelakang berarti Damar Tidak mengingat Kita Pah." Lirih Rima Harus menerima Kenyataan Yang Memilukan.


...----------------...


**Hallo Readers!!!


Ikuti terus kisahnya Yah...


Jangan lupa seperti biasa, Bantu like, Komen dan Vote, Sebagai bantuan Dukungan Kalian untuk karya saya...


Happy reading**...