
Hari demi hari Damar berangsur pulih. Arel dan Dokter Kim turut merasakan kebahagiaan yang di rasakan oleh Damar dan Rania.
"Halo Mar, Gimana badan kamu sudah enakan,,?" Ucap Rania seraya tersenyum.
"Ya aku merasa sudah sangat sehat sekarang. Aku ingin secepatnya pulang Rania."
kemudian Adhi dan Rima Menghampiri putranya. " Apa kau yakin Nak! Ingin segera pulang dari sini. Apa kau tak ingin berlibur dulu, Mumpung sekalian kita semua berada disini."
"Maksud Papa liburan kemana,,?" Tanya Damar Antusias.
"Pah...,Enggak usah lah. Kita harus secepatnya pulang ke indo." Sahut Rima pada suaminya.
"Maa...,Tentu saja kita akan pulang. Maksud papa yang liburan itu Damar dan Rania saja, Kita Dan Arel pulang ke indo." Ucap Adhi.
"Ide bagus itu pah, Kamu mau kan Rania liburan bareng aku." Ucap Damar antusias Kemudian meminta pendapat Rania.
"Aku ikut saja apa yang kamu mau, Asalkan kamu juga merasa senang." Sahut Rania merasa bahagia.
sementara Rima menatap tajam pada Rania, Iya terlihat tak menyukai pendapat Rania yang terlontar.
"Hukhhh...,Gadis ini membahayakan! untuk saat ini mungkin aku tak bisa berbuat apa-apa. Tapi suatu saat aku pasti akan mendepak jauh dari kehidupan putraku." Gumam Rima. Terpaksa harus senyum agar terlihat menyetujui hubungan mereka.
"Kalau kalian setuju silahkan pergilah, Ini Tiket kalian untuk berlibur ke pulau Jeju." Ucap Adhi sambil menyerahkan dua tiket masuk ke Wisata yang terkenal di Korea Selatan itu.
"Terimakasih Paa..., Terimakasih Maa...,Damar sangat beruntung mempunyai Orang tua seperti kalian."
"Kami yang beruntung nak, Dan yang pastinya Rania disini yang paling beruntung. Iya kan Rania." Ucap Rima Sedikit Menyindir Rania .
Kemudian Rania membantu mengemas pakaian Damar dan juga mengemas pakaian calon mertua nya.
"Rania tidak usah repot-repot, Mengemas barang-barang ku. Biarkan Arel saja yang melakukan nya." Ucap Damar kemudian Arel mengambil alih pekerjaan itu dari Rania.
"Biarkan saya saja yang melakukan nya Rania. Kamu ikuti saja apa yang di minta Tuan Damar." Arel mengemas barang-barang milik Damar.
"Yasudah kalau begitu terimakasih nya Tuan Arel." Sahut Rania Menyunggingkan senyum.
Setelah mengemas barang-barang nya, Mereka memutuskan untuk berpamitan kepada Dokter Kim dan Staf rumah sakit.
"Saya berterimakasih sekali pada Anda Tuan Kim, Jika bukan karena kelengkapan alat di rumah sakit anda saya tak tahu anak saya bisa kembali atau sebaliknya."
"Kau berlebihan Tuan Adhi, Saya hanya manusia biasa hanya seorang Dokter, Kau jangan mendahului kehendak Tuhan Tuan."
"Ahahahaha...,Benar sekali yang di katakan Tuan Kim. Paah!!!."
"Baiklah tuan Kim kalau begitu saya beserta keluarga mohon pamit."
"Silahkan Tuan...,Jangan lupa di lain kesempatan jika berkunjung ke Korea lagi mampir lah ke Rumah saya." kata tuan Kim.
Kemudian Adhi mengajak istrinya dan juga Arel untuk segera, Pergi menuju Bandara.
Sementara Damar dan Rania telah pergi sejak tadi. Dengan menggunakan mobil menuju dermaga penyeberangan ke pulau Jeju.
......................
Deburan ombak menyapu pasir putih di tepi pantai pulau Jeju, Semilir angin berhembus terasa sejuk. Rania berjalan di tepi pantai dengan mengenakan bikini, Sementara Damar hanya memakai celana pendek lengkap dengan kemeja yang tak di kancing kan. Sehingga mengekspos Otot-otot kekarnya.
"Apa kau menyukai pemandangan disini Rania." Tanya Damar sambil memeluk Rania yang sedang memandang ke lautan lepas di hadapan nya.
"Tentu saja aku menyukai nya...,Papa mu memang hebat yah. Merekomendasikan agar kita berlibur ke tempat yang se indah ini."
"Ya ..., Aku sangat bersyukur ternyata kedua orang tua ku. Sangat menyayangi ku."
"Kau ini...,Tentu saja semua orang tua itu sangat menyayangi anaknya. Terlebih lagi kau anak yang membanggakan mereka." Puji Rania terhadap Damar.
"Iya...,Iya...,Kamu pandai sekali berkata bijak Rania."
"Tentu saja, Itu semua belajar dari kamu." Sahut Rania.
Langit hitam di hiasi dengan bertabur nya bintang-bintang. Damar membaringkan badannya di atas pasir pantai, Di temani oleh Rania yang ikut berbaring di sebelahnya.
"Rania...,Aku mau bertanya satu hal padamu, Bolehkah,,?"
"Tentu saja boleh, Memangnya apa yang ingin kau tanya dariku."
Damar Terdiam sejenak, lalu mengambil nafas dalam-dalam dan memberanikan diri untuk mengatakannya.
"Apa kau mau menikah dengan ku."
Deg...,Degup jantung Rania berdetak sangat cepat, Berpacu dengan waktu, Mengalir dan membisu.
Hening
"Rania...,Aku sangat menginginkan kamu menjadi istriku. Apa kau bersedia menikah denganku." Damar mengulang pertanyaan nya.
Namun Rania masih diam membisu. Lalu Damar bangkit ia merasa malu karena tak mendapatkan jawaban dari Rania.
"Kamu mau Kemana?" Tanya Rania yang ikut bangkit.
Akan tetapi dengan segera Damar meninggalkan tepi pantai itu. Ia hendak kembali menuju hotel.
"Damar...,Tunggu aku! Apa kau tak mau mendengarkan jawaban dariku."
Sejenak Damar menghentikan Langkahnya. lalu menoleh lagi. "Ya aku ingin mendengar jawaban darimu."
"Apa kau yakin ingin mendengar nya."
Damar sangat geram karena merasa sedang di permainkan oleh Rania, sehingga ia langsung menyimpulkan jawabannya sendiri. Tanpa mau mendengarkan jawaban dari Rania.
"Ahahahaha...,Aku sudah tahu jawabannya Rania. Sudahlah tidak usah di jelaskan." Sahut Damar dan pergi meninggalkan Rania.
"Damar..., Tunggu! kau belum mendengarkan jawaban ku."
"Sudahlah aku sudah tahu Jawabannya, Kau tidak usah bicara lagi." Ucap Damar yang merasa malu karena penolakan dari Rania.
Sementara Rania menganggap bahwa Damar, Sudah tahu benar dengan perasaan Cinta nya.
"Terimakasih Damar kau sudah tahu soal perasaan ini, Meski aku belum menjawab nya." Rania Menyunggingkan Senyumnya, Menatap pria tampan nya melanggkah memasuki kamar hotel.
"Aku tahu kau akan menolak ku Rania. Bahkan kau tak merasa bersalah sama sekali, Padahal aku sangat sedih dengan penolakan ini." Gumam Damar.
Rania Sangat gembira karena Damar sudah mengatakan, Bahwa Damar akan menikahinya. Ia berjalan gontai menuju kamarnya yang bersebelahan langsung dengan kamar Damar.
"Damar...,I love You...,I love you to Rania." Ucap Rania menjawabnya sendiri, Rupanya Rania telah salah paham dengan ucapan yang terlontar dari mulut Damar, Bahwa Damar telah tahu akan Jawabannya.
Sementara Damar sedang duduk termenung dilanda kegalauan. Sesekali Damar menghela nafasnya. Ia menyesal karena telah menyatakan cintanya, Namun di tolak. padahal sebenarnya Rania menerima dan bersedia menikah Dengan nya.
"Hukhhh ..., Kau bodoh Damar, Kenapa kamu mempermalukan dirimu sendiri. Bodoh...,Bodoh...,Bodoh." Ucap Damar merutuki dirinya sendiri
"Rania ..., Rania ..., Kau berhasil mematahkan hati ini. Oh Tuhaaaan!!! Apa artinya ciuman tadi kalau begitu." Damar berbicara sendiri seperti Orang gila.
......................
**Happy Reading...
Laki-laki seperti Damar ini Tipe laki-laki yang gak punya pendirian ya Gaesss...
Kasihan Rania Telah bahagia Sendirian.
Jangan lupa bantu Vote, Like, komentar...
Tambahan ke kolom favorit kalian yah...
Happy reading**...