
"Syukurlah Jika Damar sudah sembuh, Kita turut berbahagia mendengar nya. Iya kan istriku." Ucap Fachri terhadap Aisyah.
"Iya Rania kami ikut senang mendengarnya." Sahut Aisyah menyunggingkan senyum.
"O iya dok ..., Kedatangan saya kemari ada perlu pada kalian berdua. Apakah kalian punya waktu untuk saya." Ucap Rania.
"Kami selalu mempunyai waktu untuk mu Rania, Kau ..., Ada perlu apa memangnya?" Sahut Aisyah.
"Silahkan duduk Rania, Mari kita bicarakan." Ucap Fachri mempersilahkan Rania untuk duduk di kursi yang berada di kantin tersebut.
Akan tetapi Rania terdiam, Ia enggan mengutarakan keinginannya pada Aisyah dan Fachri yang telah banyak membantu nya.
"Katakanlah apa perlu mu pada kami Rania?" ucap Fachri membuka obrolan.
"Apakah posisi sekretaris di rumah sakit ini, Masih kosong dok?" Tanya Rania, Mulai berbicara.
Fachri dan Aisyah terdiam, Lantaran posisi itu sudah terisi oleh pegawai baru.
"Maafkan kami Rania ..., Posisi itu sekarang sudah terisi, Tapi jika kau menginginkan posisi itu, kami siap membantu mu." Kata Aisyah terhadap Rania.
"Tidak-tidak ..., Saya tidak menginginkan posisi itu. kalau sudah ada yang mengisinya ..., Saya tidak ingin menghalangi rejeki orang lain dok." Sambung Rania.
Fachri dan Aisyah sangat kagum dengan kebijaksanaan hati yang dimiliki Rania, Bahkan mereka malu karena pernah memanfaatkan Rania. Saat posisi rumah sakitnya di ambang kebangkrutan.
"Baiklah." Sahut Aisyah.
"Tapi masih ada satu profesi, Pastinya kamu juga akan menyukainya Ra." Ujar Fachri.
"Sebagi apa dok?" Sambung Rania.
"Sebagai perawat! Apakah kau masih mau menjadi seorang perawat." Ucap Fachri.
Alangkah senangnya hati Rania, Akhirnya dia memiliki pekerjaan lagi. Padahal tanpa bekerja pun Rania sudah memiliki uang yang banyak, Seperti harta gono-gini dari Hendry. Serta uang bayaran dari Adhi Nugraha , Saat merawat Damar sewaktu di Korea.
Akan tetapi Rania malah tak mau menerima semua itu, Karena dia hanya mau menikmati uang hasil keringatnya sendiri.
"Saya sangat berterimakasih pada kalian dok, Sekali lagi saya mohon maaf telah merepotkan kalian." Ucap Rania, Tersenyum.
"Sama-sama Rania ..., sebaliknya kami juga berterimakasih padamu. Berkatmu rumah sakit kami masih berjalan hingga sekarang." katanya, Berterimakasih terhadap Rania.
"Saya sangat tersanjung atas ucapan kalian dokter," Kalau begitu kapan saya bisa mulai bekerja." Tukas nya.
"Kapan pun kau mau, Silahkan saja. Seperti yang kami bilang sebelumnya rumah sakit ini selalu menerimamu Rania." Sahut dokter Fachri.
Namun dari arah lain terlihat Diana sedang mengawasi mereka, Ia tidak menyangka jika Fachri dan Aisyah berteman baik dengan Rania, Mantan istri kakaknya.
'Benarkah itu kak Rania ..., Ia itu kak Rania, Aku tidak mungkin salah melihat,' Batin Diana.
Sekilas Rania menoleh ke arahnya, Hingga kedua mata mereka bertatapan.
"Diana." Ucap Rania menoleh, Terkejut.
"Kalian saling mengenal?" Tanya Diana menghampiri mereka bertiga.
"Ya." Kami saling mengenal D ..., Wah kebetulan sekali yah kita bertemu disini," Kemudian Rania melirik penampilan Diana dari atas hingga bawah.
"Kenapa kak?" Tanya Diana heran.
"Kamu bekerja di rumah sakit ini?" Ucap Rania mengulang pertanyaan.
"Iya kak," Kebetulan aku menjadi dokter sekarang." Tukasnya, Melempar senyuman.
"Iya Rania ..., Dia salah satu dokter terbaik di rumah sakit kami saat ini." Puji Aisyah terhadap Diana.
"Betulkah." Kalau begitu selamat ya D ..., Kak Rania ikut bahagia mendengar nya." Ujar Rania tersenyum.
"Yasudah," Kalau begitu lebih baik kita kembali bekerja yah, Ini sudah waktunya kita kembali bekerja." Ucap Fachri melihat arloji di tangannya.
Sedangkan Ayana dan Hendry kini berada di kantor nya, Mereka sangat geram pada tingkah laku Rania dan Damar yang memamerkan kemesraan di depan publik.
'Sialan ...,'
"Kau kenapa mas ..., Marah-marah tak jelas. Oh aku tahu pasti kamu cemburu dengan mereka tadi kan." Ucap Ayana, Heran dengan tingkah suaminya.
"Tentu saja bukan, Untuk apa aku cemburu Rania hanyalah mantan istriku. lagi pula pernikahan kami hanyalah perjanjian hitam di atas putih." Jawabnya, Berkilah menutupi kecurigaan Ayana.
'Mas ..., Mas ... Kau fikir aku sebodoh itu. Sudah jelas terlihat dari matamu, Bahwa kamu cemburu pada mereka.' Batin Ayana bergumam dalam hatinya.
"Baiklah," Aku pegang kata-kata mu mas ..., Tapi awas yah. Jika suatu saat terbukti kau berbohong padaku." Ucap Ayana dingin.
"Sayang ..., Kau kenapa sih! Kalau aku tidak berbohong padamu, Mana mungkin sekarang kamu menjadi istrimu." Ucap Hendry, Sambil memeluk Ayana.
"Sudahlah mas ..., Kau tak perlu bersandiwara lagi. Aku sudah ragu soal perasaanmu padaku." Ucapnya, Sambil melepaskan pelukan Hendry dari pinggangnya.
Kemudian Ayana bergegas pergi meninggalkan ruangan Hendry, Setelah berhasil melepaskan pelukan suaminya.
'Wanita ini rupanya sangat berbahaya, Aku tak habis fikir dia bisa menjadi se licik ini.' Gumam Hendry, Menatap tajam pada Ayana yang bergegas keluar dari ruangan nya.
Sementara di rumah, Rima berjalan mondar-mandir Ia bingung memikirkan cara untuk memisahkan Rania dan Damar putranya.
Namun dari lantai atas, Adhi tak berhenti menatap istrinya yang tampak terlihat sedang berusaha menyusun rencana.
"Ma ..., Kau ini kenapa?" Tanya Adhi, Sekilas Rima menoleh ke sumber suara suaminya, Adhi.
"Tidak," Kau yang kenapa!" Sahut Rima membalikan pertanyaan.
Adhi Nugraha mengernyitkan dahinya, Ia heran dengan sikap istrinya yang semakin hari tampak aneh, Semenjak Damar dan Rania mempunyai hubungan spesial.
"Kau ini, Suami bertanya malah bertanya balik. Ada apa dengan mu ma?" Ucap Adhi.
"Sudah ku bilang, Tidak ada apa-apa. Kau ini kenapa sih ..., " Sahut Rima cuek," Ahhh ..., Sudahlah kau tidak akan mengerti pah."
Rima terduduk di sofa, Sambil bersedekap tangan. Sambil memikirkan kembali rencananya.
Sedangkan Adhi hanya menatap heran terhadap istrinya, Kemudian Adhi menuruni anak tangganya. Perlahan mendekat ke arah istrinya yang sedang terduduk merenung di sofa.
"Ma ..., Sebenarnya kau kenapa?" Sebenarnya apa yang sedang kau fikirkan." Tanya Adhi terhadap istrinya.
"Sudah aku katakan pa ..., Tidak ada apa-apa!" Sahut Rima, Marah pada suaminya. Melangkah pergi meninggalkan Adhi.
Namun Adhi menghentikan langkah Rima yang berusaha menghindari nya. "Ma ..., Jika kau sedang mempunyai masalah." ..., Tolong bicarakan dengan ku, Kita uraikan bersama-sama, Supaya menemukan jalan keluarnya." Sambung Adhi, Berusaha menenangkan istrinya.
Namun, Rima bersikukuh tidak mau berbagi masalahnya. Lantaran ia takut Adhi mengetahui niatnya, Yang akan memisahkan Rania dengan putranya.
"Papa ..., kau ini, Mama kan sudah mengulangi kalimatnya berulang-ulang, Bahwa mama sama sekali tidak mempunyai masalah. Sudah ya pah ..., Tolong berhenti bertanya, Mama pusing tahu gak!" Jawabnya ketus, Kepada suaminya.
"Oke." Kalau begitu papah minta maaf yah. Jika mama mempunyai masalah tolong cerita ke papa, Jangan di pendam sendirian ya." Sahut Adhi, Dengan rasa herannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Halo Readers maaf update nya kelamaan yah.
Pokoknya ikuti terus, Ceritanya yah!
Bantu like,Komen dan Vote ...
Tambahkan ke kolom favorit kalian ...
Sampai bertemu di part berikutnya ...
Happy reading ....