
Ayana Bangkit dari tempat Ia Terduduk, Berjalan menghampiri Rania Yang sedang menatapnya dingin.
"Tanpa Kamu suruh pun, Aku akan pergi dari sini,aku cuman Mau memperingatkan Kamu Rania. Jangan Coba-coba kamu Rebut Hendry lagi dari Aku."
"Hahh...,Aku haus sekali setelah mendengar Ucapan Kamu Ayana." Rania Melangkah Masuk mengambil h Segelas Air mineral dari dispenser di Ruangan nya.
"Dengarkan Perkataan Aku Rania...,Kamu Harus Ingat Hendry tak pernah mencintaimu." Dia menikahi mu Hanya karena Kasihan Saja pada keluarga Kamu, Yang Banyak hutang kepada Keluarganya."
"Kamu Sangat menyedihkan, Nana! Aku Tekankan Lagi Pada Kamu...,Bahwa Aku sama sekali Tak pernah Ada Niat kembali kepada Hendry. Jika Kamu Inginkan dia Ambilah, Aku sudah Tak peduli." Ucap Rania Dingin.
"Oke...,Aku pegang Kata-katamu! Jika Kamu ingkar awas Kamu."
Ayana Segera bergegas meninggalkan Ruangan Sekretaris Rania, Dengan Rasa kekesalannya Terhadap Hendry, Telah berhasil dia lampiaskan Pada Rania.
"Hhhhhhh...," Menghela Nafas Panjang.
"Sebegitu Cintanya Ayana terhadap Mas Hendry, Kasihan Sekali dia! Bahkan Hendry Tak melihat Begitu Besarnya Cinta Ayana Untuk nya." Ucap Rania Terduduk Sambil menatap Langit-langit Ruang kerjanya.
"Akhhhhh...,Kenapa Aku jadi memikirkan Urusan Mereka, Seharusnya Aku senang melihat Ayana Kena Karma nya."
• • •
"Aisyah." Panggil Dokter Fachri terhadap Istrinya, Seketika Langkah Aisyah terhenti Di ambang Pintu Ruangan Suaminya.
"Kenapa Mas,,?"
"Tolong Jangan pergi dulu ...,Sayang."
"Baiklah Kalau begitu...,Mas."
Tadinya Aisyah Akan kembali ke Ruangannya, Namun Saat Fachri memintanya Agar tetap Tinggal, Aisyah kembali memasuki Ruangan Fachri dan Terduduk di Sopa.
"Aisyah..., Menurut Kamu Kita harus menyetujui Ide Dari Rania, Atau kita Ambil jalan tengah nya Saja."
"Maksud Kamu Jalan tengah Yang seperti Apa Mas,,? "
"Maksud Mas...,Kita setujui Saja Permintaan Hendry, Untuk tak lagi membantu Rania. Atau Kita mengambil Langkah Menyetujui ide dari Rania."
"Kenapa Kamu sepertinya Mulai gusar seperti ini Mas..., Apa Kamu meragukan Kemampuan Rania." Saya Yakin Rania bisa mencari Investor pengganti Untuk Menggantikan Wijaya group, Kamu Jangan Khawatir Ya mas."
"Mas Bukannya Meragukan kemampuan Rania, Akan Tetapi Kita Harus berfikir Realita nya Sayang." Hendry Mampu mempengaruhi Investor Yang lain, Untuk menarik Dana dari perusahaan kita. Apa kamu tidak berfikir sampai ke situ."
"Mas...,Kita lihat perkembangan nya Saja dulu, Jangan memikirkan Sesuatu Yang belum tentu Terjadi Mas. Jangan gegabah dalam memecahkan Masalah Mas."
"Iya..,Mas Juga sedang memikirkan Hal itu Sayang." Kalau begitu Kamu boleh Kembali, Ke Ruangan Kamu."
"Yasudah Kalau begitu, Aku Kembali ke Ruangan Aku Yah. Soalnya hari ini Ayana jadwal Konsultasi Kulitnya Mas."
Setelah Itu Aisyah bergegas pergi dari Ruangan Suaminya, Lantaran Hari ini Jadwal Ayana Konsultasi Terkait Masalah Kulitnya.
Aisyah berjalan di koridor Rumah Sakit, Tak sengaja Ia melihat Hendry sedang berdebat dengan Ayana. Aisyah bersembunyi dibalik dinding Penghalang, Antara dirinya dan Hendry Yang Sedang terlibat pertengkaran dengan Ayana.
"Mas Hendry...,Aku belum selesai Berbicara dengan Kamu Mas, Mana Janji kamu yang Akan menikahi ku Mas."
"Berapa kali Aku harus katakan pada Kamu, Aku berjanji Akan menikahi mu. Tapi aku tidak Akan menceraikan Rania, Tolong kamu pahami Posisi Aku Yah." Hendry berusaha Tenang dalam Menghadapi Sikap Ayana.
"Aku Tidak mau seperti ini, Mas. Kamu berjanji tidak seperti ini dulu kan."
"Terima, Atau tidak. Aku tetap Akan mempertahankan Pernikahan aku dengan Rania." Bentak Hendry.
Tidak berapa Lama Rania menghampiri mereka, Ia mendengar Semua Ucapan Yang Terlontar dari Mulut Hendry.
"Owh..., Jadi inikah Tujuan kamu selama ini mas." Sungguh menyedihkan dirimu Mas." pokoknya Kita akan tetap bercerai."
"Cukup Rania...,Apa kamu lupa dengan perjanjian Awal menikah. Kamu Adalah pelunas Hutang Untuk keluarga mu."
"Prakkk..." Rania Menampar pipi Tampan Hendry Yang masih berstatus Suaminya.
"Laki-laki licik sepertimu, Seharusnya Tak pernah ada dalam hidup ku."
"Namun Aku Akan selalu menyertai hidupmu, Aku adalah bagian dari hidup mu." Seringai Hendry.
"Hendry...,Aku tidak terima dengan Semua ini. Aku sudah berikan Semuanya untuk kamu Mas, Belum puaskah dirimu." Ayana mengeratkan Rahangnya.
"Berhentilah berbicara Ayana...,Jangan pernah kamu menuntut ku."
"Kamu yang berhenti..., Tidak puaskah kamu dengan Cinta yang aku berikan!"
"Hentikan...,Aku muak dengan Pertengkaran Kalian." Sentak Rania pada Hendry & Ayana.
Seketika Ayana dan Hendry berhenti saling Memaki, Kemudian Rania Pergi meninggalkan Keberadaan Sepasang penghianat.
"Tunggu Mas...,Rania."
"Jangan pernah mengejarnya hendry, Aku belum selesai berbicara dengan kamu." Ayana menggenggam tangan Hendry, Seketika Hendry melepaskan Tangan Ayana dari tangannya.
"Lepaskan Aku Ayana...,Sekali kamu menghalangi ku. Cukup sudah hubungan kita Akhiri Sampai disini."sambil menghempaskan Tangannya.
"Hendry..., Bajingan kamu..., Setelah puas dengan Diriku se enaknya Saja kamu mencampakkan aku, Malah kamu Mengejar Rania kembali." Teriak Ayana Histeris.
Hendry tetap Saja beranjak pergi, Meninggalkan Ayana. Namun Hendry malah Berusaha Mengejar Rania, Membujuknya Agar Mau rujuk.
Dengan Tergesa-gesa Rania berjalan, Berusaha menghindari Kejaran Suaminya. Sementara Rima berjalan dengan Cepat Seusai menebus Obat dari Apotik.
"Brukkkk."
Rania Menabrak Rima Yang Sama-sama Berjalan dengan Tergesa-gesa. Obat berceceran dari Kantong Plastik berserakan di lantai. Seketika Rima bangkit dan memarahi Rania.
"Kamu Lagi, Saya heran Yah. Kenapa setiap kali Saya bertemu dengan Kamu, Kesialan Selalu saja Menghampiri Saya."
"Ma,Maafkan Saya Tante." Rania melengos meninggalkan Rima begitu Saja.
Rima Keheranan melihat Rania berjalan Tergesa-gesa, Melengos pergi tanpa Menimpalinya.
"Dasar Tidak punya Sopan Santun." Geram Rima Menatap Punggung Rania, Sekilas Rima menoleh Dan melihat kedatangan Hendry.
"Pantas Saja, Rania pergi begitu tergesa-gesa. Ternyata dia di kejar laki-laki hidung belang ini." Sambil menatap Tajam pada Keberadaan Hendry yang melangkah semakin mendekat ke Arahnya.
"Tante Rima..., Kebetulan sekali kita bertemu disini!"
"Ya...,Sangat kebetulan sekali. Jadi Saya tak perlu mencari kamu Hingga ke kantor kamu."
"Woahhh...,Ada apa Tante,,? Sebegitu pentingnya Sampai Tante berniat mencari Saya hingga ke kantor."
"Jangan kege'eran...,Kamu. Saya mencari Kamu.., Hanya Untuk Melabrak Kamu, Dasar laki-laki Tak tahu malu."
"Tante..., Tante..., Saya pikir tante sudah memaafkan Saya. Jangan Marah-marah terus dong, Tante. Nanti Tante Cepet tua loh!" ledek Hendry terhadap Rima.
"Banyak bicara kamu...,Dasar laki-laki hidung belang." Sambil melepaskan Tangannya berusaha menampar Hendry, Bersyukur Tangan Rima Berhasil di tangkis Oleh Hendry. Kemudian Hendry menghempaskan Tangan Rima Hingga Ia terjatuh.
"Jangan Mimpi Tante bisa menampar Saya, lebih baik Tante terima saja, Kalau Anak tante itu Adalah laki-laki Bodoh."
"Brukkkk"
Rima Terjatuh, Menatap Tajam Pada Hendry Yang Masih berdiri di hadapannya.
"kurang Ajar sekali Kamu Terhadap Saya." Menatap Tajam Pada Hendry, Yang tertawa serta meledeknya.
••••
**Nextpart •••••
Halo Readers...
Dukung aku Yah...
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian...
Like,koment dan Tap bunga mawar...
Happy Reading**....