A Word Of Love From The Traitor

A Word Of Love From The Traitor
CH 25 : Surat perceraian



Ayana Terlihat Sangat senang Karena pagi-pagi dia sudah Mendapatkan Hadiah, Berupa Surat Persidangan, Perceraian Antara Hendry dan Rania.


"Selamat Pagi Sayang nya aku."


"Huahhhh" Hendry Menguap Sambil melangkah kan Kakinya, menuruni Tangga.


"Ada apa Sayang...,Cerah banget Kayaknya."


"Sini Aku Kasih Tahu, Pagi ini aku mendapat Kado Teristimewa dalam Hidup aku."


"Kado,,?" Dari Siapa itu."


"Dari Pengadilan Agama! Aku senang Akhirnya Kamu dan Rania Akan bercerai Sayang." Ayana menghambur kepelukan Hendry dengan Sangat Antusias.


"Cerai,,?" Balas Hendry bingung.


"Kamu kenapa Terlihat tidak senang Seperti itu..,Ingat Ya Sayang. Setelah kamu dan Wanita Ndeso itu cerai, Segera nikahi Aku."


"Iya Sayang Tentu Saja!"


Kemudian Hendry dan Ayana, Mandi bersama. Seperti Pasangan Suami istri pada Umumnya, Padahal Mereka Adalah Pasangan peselingkuh.


"Yasudah Kalau begitu kita harus secepatnya Mandi yah. Hari ini Soalnya Aku ada meeting." Hendry segera kembali ke kamarnya Untuk membersihkan diri, Dan di ikuti Oleh Ayana.


🌷🌷🌷


Rumah Sakit Aisee Husada.


Damar Masih Terbaring Kaku belum sadarkan Diri. Sementara Rima Tak berhenti menangisi Putranya itu.


" Nak Cepat bangun Sayang...,Mama Tak kuat melihat kamu seperti ini."


"Ma.., Sudah Mah. Jangan menangis terus! Kasihan Damar kalau terus menerus di tangisi lebih baik Mama Berdoa ya mah." Adhi Nugroho Memeluk Istrinya Yang terlihat sedang Rapuh.


Sementara Rania baru terlihat datang ke rumah Sakit dengan Stelan Kerjanya, Rania berjalan Gontai layaknya berjalan di Atas Catwalk. Kemudian Ada seorang dokter Yang datang padanya memintanya Untuk mendampingi nya.


"Permisi..., Permisi Ibu Rania...,Tolong Dampingi Saya! Ada Seorang Pasien yang Akan melahirkan."


"Baik Dok, Kalau begitu Saya akan segera membantunya."


"Terimakasih Sekretaris Rania, Anda memang selalu bisa saya Andalkan."


"Kalau begitu Ayo Dok,"


"Mari Silahkan sekretaris Rania."


Kemudian Rania dan Dokter persalinan itu segera bergegas untuk menolong Seorang ibu yang Akan melahirkan.


Beberapa Jam Kemudian Rania keluar dari Ruangan pasien yang melahirkan, Ia mengenakan Seragam Perawat.


"Terimakasih Sekretaris Rania, Anda memang orang Yang berdedikasi tinggi terhadap Pekerjaan, Saya merasa Tak enak hati telah Merepotkan Anda."


"Tidak Apa-apa Dok, Selagi Saya tidak di sibukkan dengan pekerjaan Yang lain. Pasti saya selalu bersedia membantu Anda."


"Yasudah Kalau begitu untuk sekali lagi Saya ucapkan Terimakasih Atas bantuannya."


"Iya Dok, Jangan Sungkan-sungkan Yah! Kalau begitu Saya Mohon pamit Dok, Masih banyak pekerjaan Yang Harus Saya selesaikan."


"Silahkan, Sekretaris Rania." Sambil melambaikan Tangan mempersilahkan Rania pergi.


Rania Berjalan Gontai Menuju Ruang Ganti pakaian, Setelah itu Rania segera Pergi menuju Ruangan Dokter Fachri.


"Tok...Tok...Tok.."


"Silahkan Masuk," Ucap Dokter Fachri Meneriaki Rania.


"Selamat Sore Dokter Fachri, Dokter Aisyah." Rania membungkukkan Badannya.


"Silahkan Duduk Rania,"


"Terimakasih Dokter," Rania menarik Kursi dan meletakan Pantatnya.


Fachri dan Aisyah meneliti wajah Rania, Yang terlihat penuh kebingungan.


"Kamu kenapa,,? Apakah Ada masalah lagi!" Aisyah bertanya Sambil Menangkup tangan Rania.


"Maksud kamu...,Mau bertemu dengan laki-laki yang Tak bertanggung jawab itu. Rania dengerin Saya Yah, Bukannya Saya mau melarang kamu. Tapi kamu Tahukan bagaimana perlakuan Hendry selama ini terhadap kamu." Aisyah menasehati Rania Agar tak terbujuk oleh Tipuan Hendry lagi.


"Saya dan Mas hendry sudah sepakat untuk bercerai, Tapi sebelum itu...,Beliau meminta untuk bertemu dulu dengan Saya."


"Saya Terserah kamu Rania, Tapi kamu Harus ingat satu hal, Jika Hendry memohon agar tak bercerai dari kamu, Dan berniat meninggalkan Ayana. Kamu jangan langsung percaya Yah!" Fachri bangkit Berusaha Menasehati Rania.


"Terimakasih Atas semua Nasehatnya Dok, Saya Sangat bersyukur punya Teman Sebaik kalian." Kalau begitu Saya langsung pergi Saja Dok, Jika Dokter mengijinkan Saya."


"Baiklah Saya ijinkan Kamu untuk pulang lebih Awal, Hati-hati dijalan nya Yah! " Ucap Dokter Aisyah dan juga Dokter Fachri.


Setelah mengantongi ijin dari kedua sahabatnya, Rania segera berangkat menuju Restoran Yang telah Hendry Agendakan untuk pertemuan Mereka.


Sementara Hendry pergi Tanpa sepengetahuan Dari Ayana, Hendry menemui Rania secara diam-diam. Namun Ayana Rupanya tahu Bahwa Hendry Akan bertemu dengan Rania.


Kini Rania Telah Sampai di Salah satu Restoran mewah kelas Atas, Ia disambut oleh Pelayan disana dan di Arahkan ke meja Yang telah Hendry pesan.


"Selamat datang di Restoran kami." Sapa hangat pegawai Restoran terhadap Rania.


"Mbak...,Saya mencari Meja, Atas Nama Hendry Pramudifta Wijaya."


"Beliau telah menunggu kedatangan Anda Nona, Silahkan Anda menuju meja Nomor Tujuh." Pegawai Restoran itu menunjuk ke Arah Hendry yang sedang Terduduk.


Rania Menatap Pada Suaminya Yang sedang duduk Rapi di meja Nomor Tujuh, Hendry Terlihat Tampan Dengan kemeja Biru.


"Selamat Malam Mas...,Ini kali terakhir kita bertemu, Setelah kita bercerai, Saya mohon jangan Pernah menghubungiku lagi." Tatap Tajam Rania berkata dingin terhadap Hendry.


"Silahkan duduk Rania...,Mas mengajak kamu bertemu, Bukan untuk membahas perceraian kita."


"Lalu Untuk apa...,Kamu mengajak Aku bertemu mas,,?"


"Rania Kamu kan Tahu, Mas Sangat mencintai kamu. Tak pernah terpikirkan Oleh mas bercerai Dari kamu,."


"Cukup Mas...,Saya sudah tidak bisa lagi mempercayai kamu. Saya tetap Pada pendirian saya, Bahwa hubungan kita tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi."


"Mas Janji Pada kamu...,Mas Akan memutuskan hubungan Mas dengan Nana." Kalau perlu kita pindah keluar Negeri yah."


"Aku tetap ingin bercerai dari kamu Mas, Aku terlanjur kecewa dengan kebohongan kamu selama ini. Maafkan Aku Tak bisa lagi memaafkan kamu."


"Rania Mas Mohon." Hendry menggenggam Tangan Rania berusaha mengambil Hati Rania Kembali.


"Tolong jangan seperti ini Mas...,Kamu sudah menentukan pilihan,Dan Akupun sudah menentukan Pilihan. Aku tetap Akan bercerai dari kamu, Tolong jangan persulit Semua ini, Keputusan ku sudah Matang."


Tanpa sepengetahuan Hendry Ternyata Ayana mengetahui pertemuan mereka, Ayana menatap Tajam pada Hendry yang sedang menggenggam Tangannya Rania. Ia terduduk Di bangku Yang Tak jauh letaknya dari meja Yang di pesan Oleh Hendry.


"Kurang Ajar, Ternyata Mas hendry rupanya Masih mengharapkan Kembalinya Rania. Ini tidak akan Aku biarkan Begitu saja."


Ayana bangkit, Menghampiri Hendry dan Rania. Ia amat marah dan Cemburu terhadap Rania.


"Jadi kelakuan Kalian masih seperti ini di belakang aku, Tolong jelaskan Semuanya padaku mas ." Ucap Ayana yang kini berdiri di antara Rania dan Hendry, Rania langsung menepis Tangan Hendry.


"Sudah Aku bilang, Lepaskan Tanganku Mas." Rania menghempaskan Tangan Hendry.


" Kamu jangan Salah paham Ayana, Kedatangan Saya kemari hanya untuk membahas perceraian, Tidak lebih dari itu." Mas...,Jika sudah Tak ada yang di bahas Saya pergi..,"...


Rania Sangat kesal terhadap Hendry yang selalu mencari Celah Agar bisa kembali membina Rumah Tangganya. Namun Rania terlalu Sakit Hati Untuk memaafkan semua pengkhianatan Yang telah di lakukan Suaminya.


•


•


•


**Next part...


Halo bantu Saya di season5 yah...


Happy reading kawan...


Teruslah berkarya...


Bantu like,Vote,Dan Mawar nya yah...


Semoga Terhibur**