A Word Of Love From The Traitor

A Word Of Love From The Traitor
CH 21 : TERUSIR



"Yang Saya katakan bukan kebohongan Tante, Itu semua Fakta." Ucap Rania.


"Sudah jangan berbicara Omong kosong Lagi, Karena saya tidak akan percaya Orang luar seperti mu, Lebih baik cepat tinggalkan tempat ini." Bentak Rima Yang Marah kepada Rania.


Tanpa berpikir panjang Rania pergi meninggalkan Rumah Sakit itu, Kemudian ia Teringat dengan barang-barangnya Yang di tinggalkan di dalam Taksi.


"Ya Tuhan Koperku Masih di dalam Taksi itu, Kemana Aku harus mencari nya." Gumam Rania sambil memijat keningnya.


Rania berjalan Gontai keluar dari Area Rumah Sakit, Di seberang sana sudah ada Yang menunggu nya Yaitu Hendry & Ayana. Dengan membawa koper milik Rania lantaran si sopir Taksi mengantarkan nya kembali koper milik Rania Ke Rumah Hendry.


"Rania...," Teriak Ayana memanggil Nya, Kemudian Ia menoleh.


"Itukan Koperku," Kenapa bisa ada di Tangan Mas Hendry & Nana." Gumam Rania sambil berjalan menghampiri sepasang pengkhianat itu.


"Jika kamu Tidak berniat pergi, Tetaplah tinggal di dalam Rumahku, Dan Terima saja Ayana sebagai Istri keduaku." Ucap Hendry dengan lantang.


Betapa marahnya Rania mendengar ucapan yang menyakitkan itu Terlontar dari mulut suaminya.


"Hahh...,Kamu fikir koper itu sengaja aku kirimkan kerumah kamu Iya mas. Jangan Ge'er kamu Mas, Aku tak sengaja meninggalkan koper itu di dalam Taksi. Terimakasih sudah mengembalikan nya padaku." Ucap Rania Dingin sambil merebut kopernya dari Tangan Hendry.


Kemudian Rania segera pergi dari Tempat itu, Dengan berjalan menarik kopernya. Hendry berniat mengejar Rania Namun tangannya di tahan oleh Ayana.


"Mau kemana sebenarnya Rania pergi, Aku harus membujuknya Agar mau kembali ke rumahku. Lagi pula Aku masih mencintainya." Gumam Hendry dalam hati, Sambil bergerak melanggkah Kan kakinya.


"Jangan mengejarnya Mas...,Biarkan saja dia Pergi." Ucap Ayana sambil menggenggam Tangan Kekasihnya yaitu Hendry.


"Ya Aku tidak akan mengejarnya Sayang...,Lebih baik kita pergi dari Sini. Katanya mau makan siang." Timpal Hendri sambil membalas genggaman Tangan Ayana.


"Nah gitu dong..., Aku kan senang jadinya." Sahut Ayana Tersenyum.


Kemudian Hendry dan Ayana Kembali Memasuki Mobilnya," Aku tidak akan membiarkan Kamu kembali lagi ke pangkuannya, Karena kamu Cuma milikku seorang." Gumam Ayana dalam hatinya.


"Kamu mau makan di Restoran mana sayang,,?" Tanya Hendry pada Ayana kekasih nya itu.


"Restoran favorit kita saja sayang, Kebetulan kita sudah lama kan tidak ke sana." Timpal Ayana.


"Oke lah, Kebetulan Habis makan siang aku ada Meeting, Jadi pas lah kita makan di Restoran favorit kita." Sahut Hendry sambil mengemudikan mobilnya.





Rania Berdiri di halte...,Ia sedang menunggu Bus Antarkota Yang akan mengantarkan nya ke kampung Halaman. Namun Aisyah dan Fachri Yang sedang mengendarai Mobilnya Tak sengaja melihat Rania, Berdiri di tepi jalan.


"Mas..., Bukankah Itu Rania Kan ! " Sedang Apa dia berdiri Sambil membawa koper pula." Ucap Aisyah Terhadap Fachri yang sedang menyetir.


Fachri Mengitarkan pandangan dan memelankan laju mobilnya." Iya Itu Rania, Tapi dia mau kemana,,?" Tanyanya.


"Sepertinya dia berniat meninggalkan kota ini Mas." Timpal Aisyah.


"Ya Sudah mas...,Kita cegah dia pergi. Lagi pula kita sangat membutuhkan Dia, Kita harus menolongnya, Sepertinya dia sedang dalam kesulitan." Ucap Aisyah Terhadap Suaminya.


Kemudian Fachri menepikan mobilnya di hadapan Rania. " Rania kamu mau kemana,,? " Tanya Aisyah sambil menurunkan kaca mobilnya.


"Dokter Aisyah...,Dokter Fachri." Ucap Rania Kaget.


"Kamu sedang Ngapain berdiri sendirian di jalan seperti ini, Sambil membawa koper seperti itu." Ucap Fachri bertanya pada Rania.


"Sa...,Saya." Mau pulang ke kampung halaman saja Dok, Jakarta tidak cocok untuk saya." Balas Rania gugup.


"Rania..., Kalau ada Masalah Tolong ceritakan ke kita, Kamu tidak sendirian di jakarta. Masih ada Saya dan Mas Fachri. Tolong jangan sungkan pada Saya & Mas Fachri Yah." Sahut Aisyah Sambil membuka Pintu mobilnya.


"Saya Tidak Tahu lagi harus pergi kemana Dok, Saat ini saya sangat hancur. Saya...,Saya...Hiks...hiks...hiks." Rania Tak kuasa menahan Tangisnya Lagi, Sehingga dia menangis Sambil memeluk Aisyah Yang sudah seperti keluarga nya.


"Cup...Cup...Cup." Sudah Rania kamu Harus Tegar, Saya yakin kamu bukan Wanita Yang lemah. untuk Saat ini lebih baik kamu ikut Saya pulang Yah." Sahut Aisyah Sambil mengelus-elus punggung Rania Yang kini sedang memeluknya.


Kemana Rania malah menangis sekencang-kencangnya." Hiks...hiks...hiks..." Lirih Rania.


"Mas...,Tolong Masukan koper Rania ke bagasi." Ucap Aisyah meminta tolong kepada Fachri suaminya.


Fachri Mengitari mobilnya , Memasukan koper milik Rania ke bagasi. Setelah itu mereka Berangkat menuju Rumahnya.


Kini Rania Bersama Orang Yang sangat Peduli dan Menyayanginya. Rania Memandangi jalanan kota di siang itu, Kendaran berlalu lalang di Jalanan Yang tak terlalu macet. Sesekali Rania menyeka Air matanya, Mengingat Pengkhianatan Suami dengan Sahabatnya.


"Rania..., Apa kamu di Usir oleh suamimu,,?" Ucap Aisyah bertanya padanya.


"Saya yang memilih pergi dari Rumah itu Dok, Lagian Mas Hendry sudah tak mencintai saya ! Untuk apa saya bertahan di sana." Balas Rania Sambil menyeka Air Mata.


"Sudah Rania...,Kamu Tak Perlu menangisi laki-laki Seperti Hendry itu. Lebih baik kamu segera layangkan Gugatan cerai kamu." Ucap Fachri Sambil mengepalkan Tangannya.


"Iya Rania wanita Sebaik kamu Tidak Cocok bersama Hendry, Si Brengsek itu." Timpal Aisyah yang merasa Kecewa kepada kolega Kerjanya itu.


"Kalian Tolong jangan ikut-ikutan membenci Mas Hendry yah, Saya tidak ingin melibatkan kalian, Karena bagaimanapun Mas Hendry Adalah salah Satu kolega yang menguntungkan Perusahaan kalian." Sahut Rania kepada sepasang suami istri itu.


Aisyah Sangat kagum dengan pemikiran Rania Yang begitu bijaksana, Rania Tak mau melibatkan Sahabatnya masuk lebih jauh kedalam masak Rumah Tangganya.


"Kamu sungguh bijaksana Rania, Sangat jarang Orang seperti kamu di kota ini." Kamu memang wanita yang Tegar Rania." Gumam Aisyah mengagumi Sikap Rania.


"Betapa Ruginya kamu Hendry..., Wanita berhati mutiara Seperti ini kamu sia-siakan. Hanya karena wanita yang lebih berkelas di pandang semua orang." Gumam Fachri Terkagum dengan sikap Rania yang sangat bijak.


Kini Mereka Telah sampai ke rumahnya, Mempersilahkan Rania tinggal bersama mereka di Rumahnya. Aisyah menuruni Mobilnya begitu juga dengan Rania. Sementara Fachri mengambil koper milik Rania di bagasi mobilnya.


"Mbook..., Mbook..., Kemana ini si Mbok." Teriak Aisyah memanggil pembantu nya.


Tak lama kemudian si pembantunya itu datang menghampiri Nyonya Rumahnya, Yaitu Aisyah.


"Iya Nona...,Ada apa,,? " Ucap Pembantu Rumah tangganya itu, Datang menghampirinya.


"Mana Yang lainnya, Mbok.! " Timpal Aisyah.


"Nanti saya panggilkan Mereka dulu nona," Balas si Mbok.


"Yasudah cepat panggilkan Yang lain, Suruh berkumpul sekarang." Balas Aisyah.


Setelah Para pembantunya yang berjumlah " Delapan orang " Itu berkumpul. Aisyah memperkenalkan, Rania kepada mereka.


"Perlu kalian ketahui, Setelah Saya dan Mas Fachri. Saudara saya ini juga akan Tinggal di Rumah ini bersama kita. Jadi kalian harus membuatnya Nyaman tinggal di Rumah ini." Ucap Lantang Aisyah terhadap para Pembantunya yang berjumlah Delapan orang itu.


"Siap Nona, Saya akan membuatnya nyaman tinggal disini." Sahut para pembantunya secara bersamaan.


"Ya Ampun, Dokter Aisyah tidak usah berlebihan seperti ini...,Saya jadi sungkan kalau seperti ini Dokter." Timpal Rania yang merasa Canggung.


"Tidak Apa-apa Rania, Lagi pula Kamu sudah saya anggap Seperti keluarga Saya sendiri." Timpal Fachri.


"Iya Rania, Sudah saya bilangkan tadi, kamu jangan Sungkan pada kami." Sahut Aisyah.


"Yasudah Mbok Darmi, Pak Marjuki." Tolong bawakan koper Nona Rania Dan Tunjukan Kamarnya yah." Ucap Fachri memerintahkan pada Dua pembantunya itu.


"Oke dan Yang lain Silahkan bubar." Sahut Aisyah.


"Yasudah Sayang...,Lebih baik kita Istirahat yuuk." Dan kamu Rania jangan coba-coba berniat pergi dari rumah kami yah, Anggap Saja ini rumah kamu sendiri, lagi pula kan kamu bekerja di Rumah Sakit saya." Timpal Fachri mengajak Istrinya untuk Istirahat dan meminta Rania Agar tetap tinggal di Rumahnya.


Kemudian Semua Orang yang berkumpul di Ruang tengah Rumah Milik Fachri dan Aisyah , Yang besar seperti Istana itu. Akhirnya pada bubar begitu Juga Rania Yang di Antarkan Oleh dua Pembantu menuju kamarnya.





Sampai berjumpa di Chapter Berikutnya...


Bantu like dan Tap bunga mawar & Vote nya Yah...


Selamat menikmati...