
Damar malah semakin membangkang pada Rima, apalagi setelah mengetahui kalau Rima ada dibalik sikap dingin Rania padanya.
"Saya tidak akan pernah meninggalkan Rania sampai kapanpun!" tegas Damar melengos dari hadapan ibunya.
"Heuhhhh ... bajingan Perempuan itu sudah mencuci pikiranmu Damar, kamu salah menilai Perempuan yang tak baik itu!" umpat Rima menatap pada setiap langkah sang putra yang meninggalkannya.
"Ma, hargai keputusan Putra kita. Dia sudah dewasa biarkan dia dengan pilihannya," Adhi mencoba memberi pengertian pada istrinya.
"Diam!" sentak Rima menatap tajam pada suaminya, "Kamu jangan ikut campur Pah!" gerutu Rima melangkahkan kakinya meninggalkan sang suami.
Adhi tampak menggeleng kepalanya, dia heran dengan tingkah istrinya yang semakin hari semakin buruk tingkahnya. "Mama-mama sampai kapan kau selalu memaksakan kehendakmu?" gumam Adhi.
Rima marah-marah di dalam kamarnya, lantaran ucapannya tidak di dengarkan oleh putra, dan suaminya.
"Mama tidak akan tinggal diam Damar! Jika kau terus menentang Mama, lihat saja apa yang akan Mama lakukan terhadap Rania!" kesalnya menggerutu sendirian.
Ceklek!!!
Adhi Nugraha menyusul istrinya, ia membuka pintu kamarnya, dan masih melihat istrinya yang masih marah-marah sendiri.
"Ma, ngapain kamu marah-marah seperti ini terus? Lagian Damar sama sekali tidak akan pernah mendengarkan kamu, alangkah lebih baiknya kamu istirahat ini sudah malam," seloroh Adhi.
"Mama bilang jangan campuri urusan Mama, 'Pah! lebih baik Papa diam, dan istirahat saja duluan. Mama masih malas sama Papa!" ketus Rima mengambek pada Adhi, pasalnya Adhi tidak mendukung keputusan yang di ambilnya.
"Mama Sayang ... ayo tidur temani Papa, ayo," Adhi mencoba membujuknya.
"Enggak mau, tidur saja sendiri!" ketus Rima kembali meninggalkan kamarnya.
Rima malah memilih tidur terpisah dari suaminya, dia masih marah pada Adhi karena terkesan berpihak pada keputusan Damar.
Malam itu mereka tidur terpisah, Rima memilih di ruangan keluarga. Sementara Adhi di kamar pribadinya.
Tidak sengaja Damar melihat ibunya berbaring di sofa ruangan keluarga, tepat di depan televisi yang menyala menonton ibunya.
Damar sebenarnya tidak tega melihat ibunya sendirian, tadinya ingin sekali membangunkan ibunya untuk menyuruhnya pindah ke kamar. Namun, Damar mengurungkan niatnya setelah mengingat perkataan ibunya tadi siang.
'Ah sudahlah ... biarkan saja Mama tidur di sana, jika aku membangunkannya pasti Mama akan berbicara soal Rania lagi?!' batinnya kembali ke dalam kamarnya.
Setelah di kamarnya, Damar mencoba menghubungi Rania. Tapi, Rania tidak menerima panggilan darinya.
"Ayo di angkat teleponnya Rania, tolong angkat!" gumam Damar mengusap dahinya.
Namun, hingga berulang kali pun dia menghubunginya tetap saja tidak diterima panggilannya.
"Kenapa kamu terkesan menghindar Rania, apa salahku selama ini? Kenapa kau begini kan aku?" gumamnya lagi dengan perasaan tak enak.
Merasa jengkel lantaran panggilannya tak kunjung diterima, Damar pun memutuskan untuk menemui Rania ke kontrakannya.
Damar meraih Hoodie dan mengenakannya, dengan pelan dia melangkah di hadapan ibunya yang sudah terlihat pulas.
KLETRAK!!!
Damar tidak sengaja menendang sesuatu di depannya, hingga membuat Rima terbangun.
"Mau ke mana kamu Damar?" Rima membuka matanya yang mengantuk.
Damar tidak berbohong pada ibunya, "Damar mau menemui Rania, tolong jangan halangi Damar!"
"Malam-malam begini kamu ingin menemuinya? Kamu ini mau ngapain? Oh ... Mama tahu pasti Janda itu merayumu untuk menemaninya tidur malam ini?" tebak Rima dengan segala prasangka buruknya terhadap Rania.
"Dasar Janda gatal!" celetuk Rima.
Mendengar pernyataan ibunya yang menuduh Rania seperti itu, Damar marah pada ibunya.
"Mam!" bentak Damar, "Mama hati-hati kalau bicara ya?!"
"Dia bukan Perempuan seperti itu! Asal Mama tahu Damar yang berinisiatif ingin menemuinya bukan Rania yang meminta!" terang Damar marah.
"Bohong! Itu semua akal-akalan kamu saja supaya Rania tetap baik di mata Mama kan?"
"Terserah apa penilaian Mama terhadap Rania, yang jelas dia bukan Perempuan seperti itu!" tukas Damar tetap pergi begitu saja.
"Ada apa ini?" Adhi terbangun dari tidurnya, dan langsung menghampiri sumber kegaduhan.
Rima dan Damar menoleh pada Adhi yang mulai menuruni tangga.
"Kamu tahu Pah, Putramu ingin bermalam di Kontrakan Janda itu, Mama melarangnya dia malah membangkang!"
Adhi tidak begitu saja mempercayai ucapan istrinya. "Apa benar yang Mama kamu katakan Damar?"
"Bohong Pah, Damar memang ingin menemui Rania tapi tidak untuk bermalam di rumahnya," ujar Damar.
"Dia ini diminta ke Kontrakan Janda itu Pah!" sela Rima lagi.
"Bohong Pah!" Damar kembali mempertegas bahwa tidak seperti yang ibunya katakan. "Damar mengkhawatirkan Rania, karena Rania tidak kunjung menerima telepon dari Damar, hanya itu alasan Damar ingin menemuinya,"
"Ya sudah pergilah, tapi cepatlah kembali agar Mama kamu tidak khawatir," Adhi memberikan izinnya pada sang putra.
"Terima kasih atas izinnya Pah," Damar segera pergi.
Rima murka pada Adhi, lantaran memberikan izin pada putranya. "Kamu ini apa-apaan sih Pah, malah mengizinkannya pergi!"
"Biarkan dia dengan keinginannya," Adhi bersikap tenang dalam menghadapi istrinya yang sedang marah padanya, "Ayo lebih baik kita istirahat,"
"Enggak, aku akan menyusul Damar," Rima malah berniat menyusul Damar.
Namun, Adhi tidak membiarkannya.
"Jangan gila kamu!" kali ini Adhi menyentaknya.
Rima langsung lemas setelah mendapatkan bentakan dari suaminya, pasalnya selama ini dia tidak pernah dibentak sama suaminya.
"Kamu membentak saya Pah? Padahal selama ini kamu selalu bersikap lembut padaku, kamu jahat!" Rima mengambek dan pergi menuju kamarnya.
BRUG!!!
Rima membanting pintu kamarnya, hingga Adhi memejamkan matanya karena mendengar suara gelegar pintu itu.
***
Sementara di tempat lain, Diana masih bersama Henry--kakaknya di suatu pantai.
Henry mendesak adiknya agar mengakui kalau dia naksir pada dokter Fachri.
"Diana, Abang tahu kamu mencintai Dokter itu kan? Kakak akan membantumu jika kau menginginkannya,"
Diana kembali menoleh pada Henry, "Jangan gila kamu, aku sama sekali tidak memiliki perasaan pada Fachri," sanggahnya tidak mengakui perasaannya terhadap Fachri.
"Abang akan membantumu Diana, kamu mau kan menerima bantuan Abang?" tawar Henry, "Lagi pula tidak ada yang salah dengan Perasaanmu yang mencintai Suami Orang Diana, sah-sah saja," ujarnya lagi.
Diana marah pada Henry yang malah mendukungnya merebut suami orang. "Jangan gila kamu, Abang macam apa kamu ini?! Aku tidak akan pernah merebut Suami Orang tidak seperti Istrimu, yang merebut kamu dari Kak Rania!"
Henry terdiam tak berkutik saat Diana membahas Ayana--istrinya.
"Kamu jangan samakan Ayana denganmu, kamu berbeda--,"
"Ya, tentu saja saya berbeda. Aku bukan perempuan murahan seperti Istrimu!"