A Word Of Love From The Traitor

A Word Of Love From The Traitor
CH 32 : Apakan Aku Yang Harus melakukan nya.



Mentari Telah terbit di ufuk Timur, Kini Rania telah terbangun dari mimpi indahnya dan Kembali kepada kenyataan Hidup nya, Yang terbelenggu Dengan perjanjian Yang telah di sepakati nya dengan keluarga Adhi Nugraha.


"Hahhh..., Aku harus mencari Cara Agar bisa keluar dari sini, Tapi bagaimana dengan perjanjian nya. Hahh..., Kenapa Kau Tak bangun-bangun Sih." Kesal Rania Terhadap situasi Yang kini dia Dapatkan. Dan Malah menyalahkan Damar Yang Terbaring Kaku.


"Kau Sudah terbangun Rupanya..., Cepatlah Sarapan Nona, Karena setelah ini Anda Akan memulai pekerjaan Baru anda, Sebagai perawat Tuan Damar." Ucap Arel sambil menyerahkan Makanan pada Rania.


"Perawat, Pekerjaan baru ...,Hah, Maksud kamu Apa.! Aku cuman Menemani nya Hingga siuman Kan."


"Tidak Nona Anda Akan merawat Tuan Damar, Karena Perintah Tuan Adhi seperti itu, Beliau tidak mau Yang mengurus Tuan Damar Orang lain. Ia Hanya Mau Yang mengurus Anaknya Calon menantunya Sendiri." Ucap Arel singkat.


"Hahhh...,Calon menantu..., Siapa Yang kau maksud,,? " Ucap Rania Terkejut.


"Kau Calon Menantu di keluarga Adhi Nugraha Nona."


"Hahaha..., Kau bercanda Tuan Arel." Saya Tidak mau menjadi Istri Orang yang Koma, Heuhhhh..., Rugi sekali Saya." Sahut Rania dengan Arogansi nya.


"Sudahlah Terima Saja Nasibmu Nona, Cepatlah Habiskan Makanan anda, Karena sebentar lagi Kau harus mengelap Seluruh Anggota Tubuh Tuan Damar." Ucap Arel Memerintah Rania.


"ahahahaha..., Tidak bisa Saya bukan Calon Istrinya, Saya tidak mau mengelap bagian-bagian tubuh nya. Kau saja yang melakukan." Gerutu Rania memprotes Arel, Lantaran Di dalam perjanjian nya Ia hanya Akan Menemani Damar hingga Siuman.


"Yasudah Saya mohon Pamit Yah, Jika sudah selesai Segera Hubungi Saya. Karena Dokter kim Akan memeriksa Tuan Damar." Ucap Arell Sambil keluar Dari Ruangan tempat Damar Di Rawat.


Di dalam Ruangan itu Kini Hanya Menyisakan Rania, Dan Damar yang terbujur Kaku. Tanpa berpikir Panjang Rania Langsung mengambil Handuk kecil dan Mengisi Air Hangat di bak Kecil.


Rania Mulai Melakukan pekerjaan nya, Perlahan Ia membuka Kancing Piama yang di pakai Oleh Damar. Rania Mengelap Bagian Dada bidang milik Pria Tampan itu.


"Hahhh..., Seumur-umur Aku jadi perawat, Baru kali ini melakukan pekerjaan seperti ini. Kapan sebenarnya Kau bangun Pria Sombong."


Rania Mengumpati Damar, Yang masih saja Tak memberi Tanda -Tanda akan Segera Siuman.


"Lihatlah Dirimu...,Bahkan Kau membersihkan badanmu sendiri saja tidak biasa Huhhhh..., Seharusnya Ayana Yang melakukan semua Ini."


Kemudian Rania Menoleh ke bagian Milik Damar, Dan membayangkan Saat mengelap bagian itu.


"Oh Tuhan..., Tidak -tidak Aku gak mau harus Mengelap bagian itu. Oh tuhan Tolong lah Aku." Rania memejamkan Matanya, Namun Tangannya Secara tak Sadar bergerak ke bagian Itu, Kemudian Tangan kirinya menarik Tangan Kanannya.


"Tidak-tidak...,Jangan Lakukan, Ini bukan Bagian dari pekerjaan mu Rania. Huh...,Huh...,Huh." Keringat Bercucuran dari dahi Rania Karena ia merasa Tak Sanggup untuk mengelap Bagian dari Pria Sombong itu.


Kemudian Rania memberanikan dirinya, Untuk mengelap Bagian itu Dengan Satu Tangannya, Sementara tangan yang satunya menutup Bagian Wajah nya.


"Pelan-pelan Rania, Pelan-pelan..., What's..., Apa ini Yang kenyal. Arghhhhh..., Arghhhhh...," Rania berteriak Histeris Karena menyentuh bagian Yang Tak seharusnya dia pegang.


Seketika Teriakan Rania mengagetkan Arel dan Juga Dokter Kim-yiung. Sang Dokter dan Sang Asisten Itu dengan Segera Menghampiri Rania Yang kini Berteriak Histeris.


"Brakkk...Pintu Terbuka dengan Segera."


Arel terkekeh melihat Rania Yang sedang melakukan Pekerjaan Hingga memegang Bagian Intim dari Tuannya.


"Ha-ha-ha...,Kau kenapa Nona.! Kau mengagetkan ku Saja." Ujar Arel terkekeh.


Seketika Rania menoleh dengan Wajah nya Yang membuncah Merah, Menahan Rasa malunya.


"Beraninya Kau mentertawakan Aku...,Urus saja Bos mu ini. Aku Tidak ingin melakukan nya Lagi,"


Rania berlari Karena Merasa sedang di permalukan, Tak terasa buliran putih mengalir dari pipi Cantik nya.


Arel yang sadar akan hal itu, Ia segera berhenti mentertawakan Rania.


"Kau mau kemana Nona,,?"


"Bukan Urusan mu, Aku tak Sudi melakukan nya lagi." Sambil meninggalkan Ruangan Damar.


Sementara Dokter " Kim Yiung" Memeriksa Keadaan Damar. Yang menunjukkan peningkatan Adanya Respon dari Tubuhnya.


" Dr, Kim Saya mohon pamit sebentar, Saya akan secepatnya kembali" Ucap Arel terhadap Kim Yiung. Ia berusaha Mengejar Rania yang Terlihat Amat sangat malu.


Kini Rania Berada di sebuah Taman Yang Tak Jauh letaknya dari Rumah Sakit, Taman itu Di hiasi oleh beberapa Pohon Maple dan Pohon Ginko. Rania bersandar dibawah pohon Maple Dan mengambil Daunnya yang Gugur.


"Hiks...,Hiks...,Hiks. Kenapa Harus Aku yang melakukan nya. Bahkan aku Malu dengan Semua Yang terjadi ini." Lirih Rania Memandang ke sebuah Danau.


"Kau Sangat mudah Meminta maaf, Namun Takkan bisa mengembalikan Rasa malu ku."


"Sekali lagi Saya mohon Maaf, Marilah Kembali Saya takut Tuan Adhi akan memarahi Saya. Jika Tahu nona Seperti ini."


"Lagi-lagi Kau menyebut-nyebut Om Adhi, Apa kau sedang mengancam ku."


"Tidak Nona...,Saya mohon Maafkanlah Saya. Ini permohonan Maaf saya Dengan Setulus-tulusnya."


Kemudian Sikap Rania Melunak Saat melihat Wajah Arel Yang Amat sangat merasa bersalah Padanya.


"Baiklah Aku akan kembali, Tapi lain kali jangan minta Aku untuk mengelap bagian dari Tuan mu itu." Ucap Rania Dingin.


Arel tak kuasa Menahan Tawa nya, Saat Rania dengan polosnya berkata Gamblang karena Telah menyentuh bagian Intim Dari Tuannya.


"Kau pergi lah Saja, Nanti Aku akan menyusul. Untuk Saat ini Aku hanya ingin menenangkan fikiran ku." Ucap Rania Kembali bersandar pada Pohon Maple.


"Baiklah nona, Jika fikiran Anda sudah jauh lebih tenang. Segera lah kembali ke Rumah Sakit, Karena Tuan Damar Sangat Membutuhkan mu."


Arel Pergi meningalkan Rania Yang berdiri, Menyandar Pada pohon maple Sambil Memandangi Danau.


......................


Sementara Ayana Kini Sedang Terfokus pada Pekerjaan nya, Ia berpura-pura Cuek Terhadap Hendry Yang merupakan Kekasihnya.


"Aku membutuhkan mu Sekarang Ayana.! " Hendry Berdiri di ambang pintu Berbicara dengan Ayana.


"Bukannya Kau sudah tak membutuhkan aku Mas, Pergi saja kau pada Rania mu itu. Aku sudah bersiap Untuk melupakan Mu." Tegas Ayana Terhadap Hendry padahal Hatinya berkata Sebaliknya.


"Kau Harus sedikit Jual Mahal Ayana...,Kau harus beri laki-laki kurang Ajar ini Hukuman Yang setimpal." Gumam Ayana.


"Maafkan Aku ..., Kini aku Sadar Kalau Kau lah Yang lebih segalanya dibandingkan dengan Rania." Sahut Hendry Yang mulai merapat kembali Kepada Selingkuhan nya.


"Tapi Aku sudah Tak percaya dengan Kata-kata mu Itu mas, Bukankah Kata kamu Kita bukanlah Siapa-siapa."


"Ayolah Ayana Aku mohon Maafkanlah perkataan aku Yang kemaren-kemaren. Kita mulai Semuanya lagi Dari Awal yah."


Hendry Terlihat memohon kepada Ayana, Ia berusaha terus membujuk Ayana Agar bersikap Baik lagi Terhadap nya.


"Baiklah Kita mulai Lagi Dari awal, Tapi dengan Satu Syarat."


"Katakan Apa itu, Syaratnya."


"Berikan Kau 15% Saham Wijaya_Group."


Seketika Hendry terdiam Tak bisa berkata Apa-apa.


......................


**Bersambung...


Halo Readers...


Ikuti terus Kisahnya yah...


Bantu Vote, like dan komentar...


Jangan lupa Tap Mawar...


Recommendasi Novel Bagus : Pria Kaku ini Jodohku.


Dan Jangan lupa Setelah Idul fitri nanti Aku Ada Rilis Novel lagi**.



Pokoknya kalian Ikuti terus Kisah kisah di Novelku...


Tambahkan Ke kolom favorit kalian yah...