A Word Of Love From The Traitor

A Word Of Love From The Traitor
CH 47 : Bukan wanita benalu



"Sudahlah." Papa jangan bertanya lagi!" Ucap Rima bangkit dari sofa tempat nya terduduk.


"Mama mau kemana? Papa ikut yah!" Sahut Adhi, Mengikuti langkah istrinya.


"Mau kemana kek kemana, Bukan urusan papa. Untuk apa papa ikut!" Balas Rima.


"Yasudah." Papa gak jadi ikut." Ucap Adhi memilih diam tak bertanya lagi terhadap Rima.


Sementara Artha, Kini sedang berada di rumah sakit Aise_husada. Tempat Diana putrinya membuka praktik.


perlahan langkahnya semakin mendekati ruangan Diana, Saat Arta akan membuka mengetuk pintu ruangan Diana, Ia melihat menantu kesayangan nya yaitu Rania yang sedang berjalan di koridor Kantor, Lengkap dengan seragam perawat.


'Rania ... Itu kan Rania,' Ucapnya dalam hati.


Kemudian ia mengedipkan matanya, Dan kembali menatap pada Rania yang sedang berjalan.


"Itu memang Rania kan?! Benar itu adalah Rania menantuku." Ucap Artha pada dirinya sendiri, Perlahan mempercepat gerak kakinya. Berusaha menghampiri menantu kesayangan nya.


"Rania." Panggil Artha dengan suara lantangnya .


Sekilas Rania menoleh," Mama Artha ... Apa kabar ma?" Tanya Rania, Tersenyum.


"Benarkah ini kamu nak? Mama kangen ... Banget sama kamu, Maafkan putra mama yah. Meskipun kalian sudah tidak bersama, Mama tetap menyayangimu Rania." lirih Artha memeluk Rania.


"Rania sudah memaafkan semuanya mah ... Rania juga kangen banget sama mamah." Balas Rania memeluk ibu mertuanya.


Sedangkan Diana, Tersenyum menatap kebahagiaan yang terpancar dari raut wajah ibunya. Sesekali ia menyelipkan rambut ke telinganya.


'Diana ikut senang ma ... Jika mama tersenyum lagi,Ini semua gara-gara bang Hendry.' Kata Diana dalam hatinya.


Namun tanpa Diana sadari, Fachri juga sedang menatap keberadaan Artha dan Rania dari belakangnya.


"Andaikan kakakmu tak menceraikan nya, Rania sangat beruntung mempunyai mertua yang sangat baik seperti ibumu yah," Ucap Fachri, Menyadarkan Diana.


"Dokter Fachri ... Sejak kapan anda berdiri di situ?" Tanyanya.


"Sejak kau menatap mereka dan tersenyum-senyum sendiri." Sahut Fachri, Melempar senyuman.


Sementara Aisyah sedang menatap kebersamaan Fachri dan Diana, Dari arah yang lain. Ia sama sekali tidak mengetahui jika suaminya dan Diana sedang menatap keberadaan Artha dan Rania.


'Mas Fachri ... Kau tersenyum dengan Diana,' Batin Aisyah, Kemudian pergi berbalik arah menuju ke ruangannya.


Aisyah merasa sesak melihat suaminya, Saling berbalas senyuman dengan perempuan lain, Selain dirinya.


'Kuatkan hatimu Aisyah ... Kau jangan menampakan kecemburuan di hadapan mereka, Tahan ... Kau adalah wanita bermartabat.' Batin Aisyah, Merasakan hatinya yang sedang terbakar api cemburu.


"Klek..." Aisyah membuka pintu ruangan nya, Sesekali ia menghela nafasnya. Sambil terduduk di kursi kebesaran nya.


Sementara Rima kini bersama dengan sang sopir, Pergi menuju kontrakan Rania. Untuk memastikan bahwa Rania tidak akan pernah sekalipun menerima lamaran dari putranya.


Kurang lebih memakan waktu perjalanan satu jam, Kini Rima sampai di depan kontrakan Rania.


"Tok ... tok ...tok." Rima mengetuk pintu kontrakan Rania.


"Rania ... Keluar ini saya, Tante Rima!" Ucapnya mengetuk pintu tersebut. Namun tetap saja tak ada sahutan, Karena Rania kini sedang bekerja di rumah sakit.


'Kemana sebenarnya anak itu,' Kata Rima di hatinya.


"Jadi mama juga tahu kalau Rania tinggal disini!" Ucap Damar yang datang tanpa sepengetahuan ibunya.


"Damar." Sahut Rima terkejut.


"Damar kecewa sama mama ... Ternyata selama ini mama sengaja tidak memberitahu tempat dimana Rania tinggal. Sekarang Damar sudah tahu alasannya apa!" Ucap Damar dingin.


"Bagus ... kalau kamu sudah tahu, Mama tak perlu lagi berpura-pura menyetujui hubungan kalian. Tinggalkanlah Rania, Dia tidak selevel dengan keluarga kita Damar." Balasnya dingin, Terhadap putranya.


"Oh ... Jadi selama ini mama menilai Rania dengan uang dan tahtanya ma. Asalkan mama tahu sampai kapanpun ... Aku tidak akan pernah meninggalkan Rania." Sentak Damar.


"Lihatlah kamu sekarang, Hanya karena membela perempuan itu, Kamu kurang ajar pada mama , Kamu sadar Damar ... kamu diperdaya oleh wanita miskin itu." ucap Rima membentak putranya.


"Cukup mah!" Jangan pernah mama menghinakan Rania di hadapanku." Bentaknya, Terhadap Rima ibunya.


"Damar ..." Ucap Rima mengeratkan rahangnya, Kemudian Rima pergi meninggalkan Damar yang sedang berdiri di hadapannya.


"Ayo jalan pak." Ucap Rima memerintah pada sopirnya.


Sementara di kantor, Hendry bersama dengan Ayana terlihat jalan bersamaan. Mereka menuju mobilnya, Kemudian pergi meninggalkan kantornya.


"Mas ... Pokoknya aku ingin, Setiap kamu akan pergi kemanapun selalu memberikan laporan padaku yah." Ucap Ayana disela suaminya sedang menyetir.


"Maksudnya?" Tanya Hendry heran.


"Ya ... Pokoknya kamu ikuti saja permintaan ku mas ... Apa susahnya sih." Gerutu Ayana kesal.


"Kau kenapa? Semakin kesini kamu ini kok posesif yah! Memangnya aku akan pergi kemana Ayana." Sambung Hendry.


"Kau pikir aku tidak tahu, Kau masih mengharapkan Rania kan?" Ucap Ayana dingin.


"Cukup Nana ... Tidak bisakah kita membahas hal yang lain, Aku bosan dengan sikap kamu yang seperti ini." Geram Hendry yang mulai merasa terkekang.


"Mas kau harus ingat, Masa depan perusahaan mu ada pada tanganku. Jadi jangan macam-macam terhadap ku." Ancam Ayana, Terhadap suaminya.


Diam, Hanya itulah yang bisa Hendry lakukan saat ini, Dirinya tidak bisa berkutik sekarang lantaran Ayana terlalu pintar untuk di bohongi nya.


'Sial ... Kenapa semuanya jadi begini. Dasar wanita licik.' Batin Hendry, Kesal.


Sedangkan Rania, Baru terlihat akan pulang dari rumah sakit tempatnya bekerja. Tanpa ia sadari Rima telah menunggu nya sejak tadi.


Saat Rania melirik ke kanan dan kiri, Berusaha menghentikan angkutan umum. Tiba-tiba saja sebuah mobil mewah berhenti tepat di hadapannya.


"Masuk Rania ... Ada yang ingin saya bicarakan." Ucap Rima, Sambil menurunkan kaca mobilnya.


"Soal apa ya! Tante?" Tanyanya terhadap Rima.


"Cepatlah masuk! Kita bicarakan nanti setelah sampai ke tempat tujuan." Sambung Rima, Meminta Rania untuk memasuki mobilnya.


"Baiklah." Balas Rania, Membuka pintu mobil.


Kemudian mobil itu menuju ke sebuah restoran mewah, Yang telah di reservasi oleh Rima sebelumnya.


Kini mereka berdua telah sampai di sebuah restoran mewah tersebut, Kemudian Rima mengajak Rania turun.


"Ayo ikut dengan tante," Ucap Rima dingin. Namun Rania telah menyadari soal maksud obrolan Rima.


"Silahkan duduk," Ucap Rima.


Kemudian Rania menarik kursi, Dan meletakan pantatnya.


Makanan yang sangat lezat telah tersaji disana, Serta berbagai jenis minuman telah tersaji dengan gelas-gelas yang terbuat dari emas.


'Kenapa banyak sekali makanan disini, Siapa yang akan memakan, Makanan sebanyak ini, Oh aku tahu. Pasti om Adhi dan Damar juga akan datang kesini,' Batin Rania.


Kemudian tersadarkan oleh ucapan Rima.


"Silahkan di makan Rania ... Pasti kau merindukan makanan se enak ini kan," Terlebih lagi hidup mu sekarang susahkan ... Semenjak bercerai dengan Hendry, Suami bajingan mu." Ucap Rima dingin.


"Apa maksud tante mengajak saya kemari, Katakan apa yang ingin tante Rima sampaikan pada saya." Balas Rania, Yang sudah mengetahui maksud dari perkataan Rima padanya.


"Kau pintar juga rupanya, Oke kalau begitu langsung saja ke pokok percakapan." Sambung Rima.


Deg ... Deg ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Halo Readers


Bantu like, Komen dan Vote ...


Tambahkan ke kolom favorit kalian yah ...


ikuti terus Kisahnya yah ...


Happy reading ... Semoga terhibur ...