'Loving Memory'

'Loving Memory'
perpisahan terberat



pagi ini Veisha yang sudah bersiap siap untuk segera berangkat keluar negri, semua anggota keluarga turut mengantarkan Veisha kebandara. dengan dua mobil keluarga yang digunakan Dave dan supir om Dimas. Veisha yang ingin ikut naik mobil bersama ayah bundanya namun Dave menarik tangan Veisha untuk ikut kemobilnya dan menggantikan posisi Lina. Dave menyuruh Lina tidak ikut bersamanya membuat Lina merasa kesal pada Dave dan Veisha.


di mobil Dave, Oby yang menyetir kendaraan itu dan Inces yang berada didepan keduanya yang memang sudah mengetahui hubungan mereka sebelum Dave menikah, Oby dan Inces sudah memaklumi keduanya. yang berbicara bukan selayaknya kakak adik melainkan seperti sepasang kekasih.


"Dave.. kenapa tadi kamu narik tangan aku, untuk naik kemobil ini?? sedangkan kamu menyuruh istrimu untuk ikut mobil ayah..??"


"jangan bilang dia istriku Vei!!"


"loh,, memang benar dia istri kamu..!!"


"dia bukan istriku!!! sampai kapanpun bukan istriku!!!"


"kamu gila ya??"


"iya memang aku gila, lebih baik aku gila dari pada mengakui dia istri!!!"


"kenapa kamu membenci dia Dave..??


"karna dia yang telah menghancurkan hubungan kita!!"


"bukan dia, tapi kamu Dave!!"


"cukup Vei..!! kumohon, ini hari perpisahan kita aku muak membahas tentang dia..!!"


"terserah kamu Dave, aku juga capek ngomong sama kamu!!"


Oby dan Inces hanya saling melirik dan mengernyitkan dahi mendengar percekcokkan pasangan itu.


sesampainya dibandara peluk cium untuk keluarga satu per satu diberikan oleh Veisha untuk berpamitan yang memecahkan tangis haru menyelimuti keluarga itu.


bunda: "Veisha sayang.. jaga kesehatan kamu ya nak..!! hiks..hiks.."


ayah: "hati hati ya nak, Oby, Inces tolong jaga baik baik anak om ya..?!"


"iyaa,,, ayah sama bunda juga jaga kesehatan!! Vei sayang kalian..!!"


Oby, Inces: "siap om kami akan selalu menjaganya..!!"


Fely: "kakak aku pasti bakal kangen..! hiks..hiks.."


Nai: "kakak janji ya akan sering pulang!!?? hiks..hiks.."


"iya,, adik adikku tersayang..!! muach.. muach.."


Lina: "hati hati ya Vei!"


"iya Lin makasi!!"


dan yang terakhir, berpamitan pada Dave mungkin itu hal yang paling terberat bagi keduanya.


Dave yang hanya terdiam berdiri dibelakang Veisha menahan rasa yang tak menentu dihatinya.


"kak Dave!?"


"aku akan selalu merindukanmu Vei!! hiks..hiks.."


Dave menangis sejadi jadinya tanpa melepaskan dekapannya itu


sontak saja berpasang pasang mata yang melihatnya begitu terheran heran, namun lain hal dengan Lina yang memandang sinis pada kedua insan yang sedang menangisi akan perpisahannya itu.


begitu banyak kata kata yang terkunci dibibir keduanya, mereka seakan meluapkan isi hatinya melalui air mata, Dave pun tak hentinya mengecupi rambut Veisha.


"iya kak, aku juga!!"


"kamu baik baik ya disana!?"


"iya kak, kakak juga ya!!"


setelah pelukan erat itu terlepas Veisha beranjak meninggalkan keluarga diiringi dengan airmata yang setia mengalir.


"Veisha...!!"


Veisha yang sudah berjalan melewati pintu kaca seketika kaget dan menoleh kebelakang, didapatinya Dave yang mengejar dirinya dan meraih tubuhnya kembali.


membuat semua mata tertuju dan terperangah semakin heran pada diri Dave.


Dave kembali memeluk Veisha seolah tak ingin berpisah, sembari berbisik sesuatu ketelinga Veisha yang hanya di angguki oleh Veisha


"jangan lupakan aku Vei.. kumohon!!"


ini adalah perpisahan terberat yang dialami Dave dan Veisha selama hidupnya.


"sudahlah Dave, jangan membuat mereka curiga..!"


"aku gak peduli Vei..!"


"kumohon Dave mengertilah..!!"


Veisha melepaskan lagi rangkulan Dave, namun Dave menggenggam erat tangan Veisha, Veisha pun menatap lekat mata Dave sembari memberi keyakinan padanya.


"percayalah Dave ini adalah kenyataan,!! selamat tinggal Dave!!"


"jangan ucapkan selamat tinggal Vei aku gak rela,!! mengapa ini begitu berat??"


"lepaskan tanganku Dave,! kumohon relakan aku pergi?!"


Dave pun menuruti keinginan Veisha dengan berat hati walaupun seribu kata kata lagi yang ingin ia ucapkan namun bibirnya terasa terkunci.


***bersambung***