'Loving Memory'

'Loving Memory'
tegar dan menutupi kesedihan



cuaca yang mendung dipagi hari seperti hati Veisha saat ini, membukakan mata yang masih sembab akibat menangis.


sejenak Vei memandangi langit langit kamarnya ia beranjak bangkit dari tempat tidurnya dan berdiri didepan meja rias, dipandanginya dalam cermin melihat dirinya yang sangat frustasi akan hatinya yang hancur, sembari mengusap usap mata yang masih sembab.


"ini bukan mimpi Vei.. ayolah bangun..!!! aku harus tegar menghadapi situasi ini.. ya aku harus bisa..!!" gumam batin Veisha untuk menegarkan hatinya sendiri.


ia berjalan untuk mengambil es batu di dapur dan mengompreskan pada matanya supaya tidak ketahuan jika ia menangis


seusainya mandi dan bersiap siap menuju rumah megah kel Fernandez, ia terus berusaha untuk menutupi kesedihannya saat ini.


"pagi..bun..?"


"Vei.. kamu dari mana sih semalam gak pulang..??"


"owhh ada urusan pekerjaan mendadak bun,, terus mampir kerumah Oby, Inces, Vei kangen kamar Vei disana..!!"


"owhhhh.. yaudah hari ini kamu temenin bunda sama Lina ya..!?"


"mmm.. mau kemana bun??"


"Lina mau fitting baju pengantin, minggu besok kakakmu akan menikahi Lina"


meski hatinya terguncang hebat ia berusaha tersenyum untuk menutupi kesedihannya kala itu


"iya bun..!"


"yaudah kamu sarapan dulu ya!!?"


"tadi aku udah sarapan kok bun sama Oby dan Inces"


"owhh yaudah kalo gitu kita berangkat sekarang ya,, soalnya waktu udah mepet"


"okey.. Lina dan kak Dave dimana bun..??"


"Lina nanti dia datang sendiri kesana,, kalau Dave masih ada urusan di kantornya.."


"haai tante.. haii Vei.. loh kamu kok pucat sih Vei kamu sakit..??"


pertanyaan Lina yang pura pura tak mengetahui keadaan Vei walau sebenarnya ia tahu perasaan Vei begitu hancur namun lagi lagi Vei berusaha keras untuk menutupinya.


"aku gapapa kok Lin, cuma lagi gak makeup an aja"


"Vei,, tante ini bagus gak??"


"iya bagus!!"


"kalau yang ini??"


"iya itu cocok buat kamu!!"


"okey aku mau yang ini aja ya..?"


menangis, menangis, dan menangis. mungkin hanya tangisanlah yang setia berada dihati Veisha namun tak hentinya ia melawan kesedihan itu untuk menunjukkan senyuman manis dari bibirnya.


Lina terus mencoba menelpon Dave didepan Veisha, walau berkali kali Dave mematikannya ia malas mengangkat telpon Lina yang sangat ia benci saat ini.


hingga akhirnya Dave mengangkat juga panggilan dari Lina dengan menjawab kasar


tut..tut..tut.. (6kali)


"ada apa???"


"hallo sayang.. aku udah dapet baju pengantin kita.."


"kau menelponku berkali kali hanya untuk memberitahu soal itu??"


"iya sayang kamu lagi ngapain sih..??" Lina berusaha menutupi kata kata kasar dari Dave supaya tak terdengar pada Veisha, dan memanggil sayang untuk Dave.


"pake nanya lagi ngapain, aku lagi sibuk!!"


tut..tut..


Dave kembali mematikan sambungan telpon dari Lina


***kantor Dave***


"brengseek...!!! lagi lagi mengganggu terus...!!! sial...!!!"


kemarahan Dave yang terus memuncak jika mendengar nama Lina yang kini hadir dalam kehidupannya.


bentakkan Dave membuat Kevin kaget dan berusaha untuk menenangkan kemarahan Dave.


"sabar.. bro.. sabar..!! Lina itu perempuan, lo jangan sekasar itu!!"


"dia bukan perempuan Vin,, tapi dia nenek sihir, liat aja nanti kalau anak itu udah lahir gue pasti akan tes DNA gue yakin itu bukan anak gue..!! jika itu terbukti gue bakal menceraikan dia..!!


decak Dave pada Kevin yang sudah mengetahui masalahnya pada Lina


"tenang Dave.. lo tinggal jalanin aja dulu, nanti gue bakal bantu lo, gue akan cari tau apa yang sebenarnya terjadi..!!"


Dave hanya menghela nafas gusarnya, sejenak emosinya menurun kala mengingat Veisha pujaan hatinya. ia begitu merasa bersalah pada Vei yang pasti merasa sakit hati padanya.


***bersambung***