
***beberapa bulan kemudian***
Veisha yang sudah memulai aktivitas baru menerjunkan bakatnya sebagai model disalah satu majalah, dan mulai aga sedikit kerepotan dengan cara membagi waktu. di sela-sela ia sibuk dengan mata pelajaran kuliahnya.
hari berganti hari dengan semangat yang di junjung tinggi oleh Vei, tanpa tersadar sesekali ia teringat dengan pria asing itu.
entahlah perasaan apa yang ia rasakan, Vei hanya berharap dapat bertemu lagi walau hanya sebentar.
**********
3 tahun berlalu begitu saja.
Vei dan Dave menjalani kehidupannya masing masing dengan aktivitas aktivitas sehari hari.
nama Veisha yang kini sudah cukup dikenal masyarakat dengan propesi yang ia geluti membuatnya sangat sibuk dengan padatnya jadwal pemotretan dan shooting film perdana yang baru 1 bulan lalu ia terima, dan tentu saja dapat membuahkan hasil yang cukup lumayan untuk membeli rumah dengan jerih payahnya selama ini.
Vei membeli rumah yang lumayan cukup simple nan elegan di salah satu daerah masih 1 kota dan aga sdikit jauh dari kediamannya dahulu yang penuh dengan kenangan kenganan indah dari ia sejak kecil pertama menempati rumah yang di beli Tirta ayah Vei.
Vei tidak menjual rumah sederhananya itu melainkan hanya mengoktrakan saja dengan orang yang sudah ia kenal akrab dengan keluarganya sejak dulu.
waktu menunjukan pukul 01.20
dimana suara mobil yang ia beli dengan hasilnya sendiri setahun yang lalu.
suara kencringan kunci pintu rumah yang ia masukkan dan membuka pintu perlahan.
setelah Vei masuk kerumah dan mendapati adik satu satunya yang sudah tertidur pulas dikamarnya.
beda hal dengan bunMay yang masih setia membuka mata untuk sesekali menoleh ke arah jam didinding.
mendengar suara ceklekan pintu kamar dibalik itu Vei mendapati sosok wanita yang sangat ia cintai yaitu ibundanya.
"Vei kamu baru pulang..?" tanya suara lirih dari bibir bunMay.
"iya bun..!"
"bunda kok belum tidur..?" aku kan udah biasa pulang larut..
ya memang sudah biasa sebulan belakangan ini Vei sering pulang larut malam karna tugas tanggung jawabnya untuk shooting main film.
"bunda ga bisa tidur nak kalau kamu belum pulang, bunda khawatir..!!"
kekekhawatiran seorang ibu memang hal yang wajar menanti kehadiran sosok anaknya yang terakhir pagi tadi ia lihat selepas mencium tangan dan berpamitan pergi untuk kuliah yang berlanjut ke lokasi shooting.
mendengar bunMay melantunkan rasa kekhawatiran untuknya,
Vei melangkahkan kakinya mendekati bunMay dengan mendekap erat tubuh ibunda tercintanya itu.
"bun.. kalo aku belum pulang sampe tengah malam, bunda tidur aja, jaga kesehatan bunda dong..! Vei gamau bunda sakit kalo kurang tidur menunggu Vei pulang, bunda gausah khawatir berlebihan, Vei kan bisa jaga diri lagian kan ada si oby dan inces"(asisten dan supir).
oby supir pribadi yang setia mengantar dan menunggu Vei kemanapun ia pergi, dan inces(nama panggilan) asisten pribadi yang juga sama setianya pada Vei seperti oby, meskipun kedua orang kepercayaan Vei itu sedikit aga gemulai dan lucu, Veisha percaya bila mereka sangat jujur dan bertanggung jawab atas tugas pekerjaannya. selain menjadi supir dan asisten pribadi Vei, oby dan inces juga sahabat baik Vei sewaktu masih sekolah dulu.
bunMay yang hanya membalas pelukan erat Vei sambil tersenyum, dan menanyakan
"sayang kamu udah makan belum..?"
"udah kok bun.. tadi di lokasi shooting, yaudah bunda tidur ya!! aku juga mau instirahat.."
bunMay meng iya kan seruan Vei dan mengecup lembut kening Vei, keduanya masuk kekamar masing masing.
sesampainya di kamar Vei duduk di atas tempat tidur dan menghela nafas lelahnya, ia segera bergegas kekamar mandi untuk membasuh wajah cantiknya yang kelelahan.
setibanya di kasur empuknya Vei merebah kan tubuh idealnya sambil menatap langit langit diatas, entah tiba tiba dari mana ia menangkap bayangan khayalannya itu, siapa lagi kalau bukan laki-laki asing yang tak ia kenal namun berhasil menguasai pikiran dan khayalannya selama ini. tak pernah seharipun Vei melupakan sosok wajah tampan itu, meski sudah bertahun tahun lamanya Vei selalu mengingat senyum indah yang dimiliki Dave.
hingga sampai saat ini Vei tak mampu mengalihkan perasaannya ke laki-laki manapun, meski sudah banyak pria diluar sana yang mengagumi Vei, dan ia masih tak bergeming untuk membuka hati pada siapapun dengan harapan suatu saat nanti bisa melihat dan bertemu lagi sosok pangeran impiannya tersebut.
detik dan menit belalu tanpa menghilangkan sosok wajah laki laki asing itu, sejenak Vei memejamkan mata indahnya diiringin dengan senyuman berharap ia bisa bertemu pangeran nya itu didalam mimpi.
***bersambung***