
degupan kencang kedua jantung, seperti gempa bumi yang memporak porandakan dunia, deru nafas terengah engah.
dengan posisi tubuh Vei diatas terlihat jelas dua gunung kembar milik Vei yang meletup setengah keluar dari helaian pelindungnya, Dave menurunkan pandangannya dan menelan salivanya sendiri. perlahan tangan kanan Dave yang berada di pinggang Vei meraba lembut keleher jenjang Veisha, tangan itu menarik perlahan, sesaat ibu jari itu mengelus lembut bibir merona milik Vei..
eeemmmppp.....
setan apa yang merasukimu Dave.
terjadilah ciuman hangat yang dinikmati keduanya, deru nafas tak beraturan,, terasa ada sesuatu yang sedikit menegang(apaan tuuuuh)
"aku juga cinta kamu Vei...!!" seru batin Dave.
Dave menarik ulur memainkan lidah kedalam mulut Vei yang menyambut mesra terus saling membalas, kedua pasang mata terpejam menikmati manis bibir yang bertarung, dari ciuman hangat menjadi ciuman panas sampai mendidih..
malaikat berbisik ditelinga Dave
"sadar Dave.. sadar.. dia adikmu..!!!" ujar batin Dave yang menyadarkannya
Dave membuka mata, dan membalik tubuh Vei kebawah untuk berpindah posisi menjadi diatas, Dave melepaskan ciuman panasnya berusaha merenggangkan dekapan untuk bangkit berdiri dan membangunkan tubuh Vei untuk duduk.
dengan nafas yang masih terengah engah berusaha untuk mengatur kembali deru nafas yang mengguncang.
"maaf.. Vei.. maafkan aku..!!?"
Vei yang masih terduduk berusaha mengatur nafas sembari memegang bibirnya yang masih sangat terasa manis bekas sentuhan bibir Dave.
Dave belum melepaskan pandangannya pada dada Vei yang belum tertutup rapat, sontak membuat kejantanan milik Dave memberontak tegak, ia terus melawan hawa nafsu yang mengelilingi benaknya.
"pakailah baju yang tertutup Vei!!!"
setelah menyuruh Veisha memakai baju tertutup, ia membalikkan badan berjalan menuju pintu dan berlalu pergi.
"apa magsudnya..?? aku tau, kamu juga mencintaiku Dave..!?" batin Vei
ia tersenyum mengingat apa yang telah terjadi barusan.
"apa ini Dave?? kenapa kau menyentuhnya?? kenapa aku tak bisa menahan rasa ini?? kenapaaaa...???" gerutu dalam hati Dave ia merasa sangat bersalah.
makan malam kali ini hanya di hadiri empat penghuni kursi saja, gurauan canda dua gadis abg yang sibuk berceloteh tak hentinya membicarakan soal sekolah, film drakor dll.
Fely dengan suara nyaringnya mencoba bertanya, pada kedua kakak yang terdiam sedari tadi.
"kak Dave.. kak Vei.. kok diem dieman siiihh..??"
Nai: "kakak sakit ya..??"
Vei: "eng..enggak kok dek.., kakak duluan ya..!!"
Veisha menyudahi santap malamnya lebih dulu dan berlalu begitu saja
Dave merasa sangat tak enak, merasa bersalah pada Vei karna menyentuhnya, merasa bersalah pada om dan tante karna tak bisa menjalankan amannah dengan baik, silih berganti bisikan bisikan bersalah mengelilingi benak Dave saat ini. ia menghela nafas panjang. terkesiap sadar dari lamunan mendengar panggilan dari kedua adik adiknya.
Nai: "kak Dave.. kak Vei kenapa ya?? ga biasanya dia begitu..? apa dia lagi sakit..??"
"kakak gak tau Nai.."
Fely: "kak Dave lagi marahan ya sama kak Vei,, kok diem dieman sih.??"
"enggak kok Fel..
udah cepet habiskan makannya,!! belajar dan tidur!! ini udah malam, besok sekolah.!!"
"iya kak.."
23.27
dibalkon kamar Dave, ia memandang rintik hujan yang berjatuhan.
"kenapa dia diam? apa dia marah? apa aku harus meminta maaf? ya.. ini salahku, aku harus meminta maaf lagi..! tapi apa dia mau memaafkanku???" batin Dave terus bertanya, terasa mengganjal dalam hati merasa tak enak atas perlakuannya pada Vei. ia memutuskan untuk menemui Veisha.
Dave mencari Vei kekamar, sesampainya dipintu yang terbuka lebar ia tak menemukan sosok yang dicari, ia terus menyelusuri tiap ruang rumah nan megah itu, terdapatnya di lantai tiga terlihat pintu belakang terbuka ia menghampiri balkon belakang rumah yang menyuguhkan pemandangan kolam renang dibawah yang indah.
mendapati sosok gadis yang ia cari sedang berdiri memandang derai hujan. ia melangkah menghampiri Vei dengan magsud ingin meminta maaf atas kesalahannya tadi pagi.
***bersambung***