
Aku semakin tidak bisa berkutik. Otakku berpikir keras bagaimana caranya agar bisa keluar dari cengkraman Zayn.
Zayn semakin mendekatkan wajahnya. Membisikkan sesuatu ditelingaku. Sekejap aku merona, tubuhku menegang, ada gelayar aneh yang ku rasakan sesaat setelah mendengar bisikkannya.
Beberapa detik Zayn masih tetap berada di posisinya. Aku merasakan jantungku tidak sehat. Nafasku tidak beraturan, bagaimana tidak? berada dalam posisi sedekat ini dengan orang yang tidak tahu apa yang ada diotaknya saat ini. Sangat membuatku was-was memikirkan hal yang tidak-tidak.
Tiba-tiba Zayn menggigit kecil daun telingaku singkat. Setelahnya dia langsung pergi. Sebelum pergi dia sempat berucap.
"Aku sungguh-sungguh dengan ucapanku. Kamu harus selalu mengingatnya."
Ya, kalimat itu benar-benar terus berputar diotakku.
"Huft, untung dia nggak macam-macam." Ucapku mengelus d*d* mencoba menstabilkannya.
"Nggak biasanya gue takut sama orang. Tapi sumpah, damage dia kali ini benar-benar menakutkan. Seperti menyimpan amarah tapi apa hubungan dia sama bang Rendra?" Aku masih saja berkutat dengan tebakan-tebakan diotakku.
"Nanti coba tanya bang Rendra saja lah." Putusku. Aku akhirnya kembali ke kelas mengikuti pelajaran selanjutnya.
Jam pulang sekolah
"Le, lo nggak bawa motor? kok motor Lo nggak ada?" Tanya Ando saat sudah di parkiran.
"Nggak. Dua minggu kedepan gue diantar jemput sama bang Rendra." Jawabku.
"Wah, beneran jadi princess kali ini lo Le." Sahut Arga.
"Nikmati saja lah. Nggak sering juga abang gue pulang. Sekalinya pulang ya gue manfaatin lah." Aku melirik kawanan orang yang sedang lewat tidak jauh dari tempat kami.
"Itu orang kenapa sih, sensi banget sama gue." batinku saat mataku dan mata Zayn bertemu.
"Ya sudah Le, kita duluan ya. Paling bentar lagi bang Rendra sampai."
"Lo nggak apa-apa kan kita tinggal sendiri?" tanya Dirga.
"Nggak apa-apa. Gue juga bukan anak kecil yang mesti selalu dijaga." jawabku.
Sudah tiga puluh menit aku nunggu bang Rendra tapi sampai saat ini dia belum juga datang.
"Naik." Ucapnya. Aku mendongak mendengar suara itu. Aku bingung, apa lagi ini? Dia mau apa? Kenapa dia nyuruh aku naik? Belum juga aku sempat menjawab, Zayn lebih dulu memotong.
"Gue nggak terima penolakan. Gue hitung sampai tiga." Katanya lagi.
Malas berdebat dengannya, tanpa pikir dua kali aku naik di belakangnya. Toh bang Rendra juga nggak datang-datang jadi bukan salahku kalau aku pulang sendiri.
"Kenapa berhenti disini?" Tanyaku pada Zayn, tanpa kata dia belok ke sebuah warung makan.
"Gue lapar." Sahutnya. "Mau masuk nggak?" Tanyanya. Pertanyaan macam apa itu? Ya kali, dia makan tapi aku nunggu di luar begini. Mau tidak mau, aku juga ikut masuk. Apalagi aku juga sudah lapar.
Warung makan kecil, sederhana, tapi terlihat bersih dan rapi. Terlihat sangat nyaman. Zayn memilih meja lesehan akupun hanya bisa mengikutinya.
"Kenapa dia telat jemput Lo?" Tanya Zayn tiba-tiba.
"Hah." Fokusku teralihkan.
"Iya, kenapa pacar Lo telat jemput Lo?" Tanya Zayn lagi memperjelas.
"Nggak tahu, dia nggak ngasih kabar." Jawabku malas memberikan klarifikasi tentang hubunganku dan bang Rendra.
"Cih, cowok nggak ada tanggung jawab." Cicitnya yang masih bisa aku dengar.
"Gue dengar apa yang lo bilang." Sahutku emosi karena tidak terima Zayn mengatai abangku sendiri.
"Fakta." Jawab singkatnya.
Zayn tampak diam. Mungkin dia memang sedang memikirkan apa yang aku ucapkan atau memikirkan hal lain.
Tidak lama pesanan kami datang, tanpa ba bi bu kami langsung melahap makanan masing-masing. Tidak ada percakapan lain setelah itu.
Zayn akhirnya mengantarkanku kembali ke rumah. Di berhenti tepat di depan gerbang rumah utamaku.
Aku menangkap sorot mata yang berbeda ketika melihat Zayn melihat ke arah halaman rumahku. Ku ikuti arah pandangnya. Benar saja, ada Bang Rendra yang sedang berbicara dengan mama disana.
"Tuh, PACAR lo sudah nunggu di dalam." Sinisnya dengan menekankan kata 'pacar'.
Bang Rendra yang melihatku pulang diantar orang lainpun datang menghampiri kami.
"Sayang, kok temannya nggak diajak masuk. Maaf ya tadi abang ada meeting dadakan. Nggak sempat hubungi kamu." Ucap bang Rendra saat sampai didepan kami. Tidak lupa dengan tangannya yang mengelus lembut pucuk rambutku.
Aku melirik Zayn yang masih saja terdiam disamping motornya. Ku lihat semburat senyum sinis disana.
"Silahkan lo salah paham semau lo. Hmm" batinku.
"Diajak masuk dulu temannya dek. kasihan jauh-jauh nganter kamu." Titah mama. Sedikit basa-basi akupun mengajak Zayn masuk.
"Lo masuk dulu gih. Nyokab gue minta lo masuk tuh." Ucapku pada Zayn.
Tidak ada yang tahu kapan mama berjalan. Kini mama sudah ada di tempat kami.
"Ayo masuk dulu nak, maafkan Leona ya yang kurang sopan sama kamu." ucap mama.
"Ah iya tante." Jawab Zayn.
"Ini kenapa pada keluar semua gini sih?" batinku.
"Ma, aku balik ke kantor dulu ya. Nggak enak ninggalin kerjaan lama-lama. Tadi aku cuma mau mastiin saja kalau Leona pulang selamat." Pamit bang Rendra pada mama.
"Iya, kamu hati-hati." jawab mama.
"Sayang, abang kerja lagi ya. Buat modal nikah." Tutur bang Rendra yang aku yakini dia sengaja memancing suasana.
"Iya abangku sayang." Jawabku dengan tampang imut yang ku buat-buat. Zayn, ku lihat dia hanya diam saja melihat interaksi kami bertiga.
"Gila, ini cowok nggak ada rasa bersalah sama sekali ya. Sudah punya pacar masih saja macarin anak dibawah umur. Pakai bawa-bawa nikah segala." Batin Zayn.
"Ya udah, yuk masuk. Dek, ajak temannya masuk sayang." Titah mama lagi.
"Yuk masuk dulu. Nggak enak nolak perintah mama." Akupun mengajak Zayn masuk rumah.
Kebetulan sekali, diruang tamu tidak ada foto keluarga. Saat pandangan Zayn menyapu seluruh isi ruangan dia tidak menemukan apapun.
"Nama kamu siapa nak? sepertinya tante baru lihat kamu?." Tanya mama sambil membawa jus jeruk pada kami.
"Zayn tante. Saya memang baru pindah ke SMA TUNAS BANGSA" Jawabnya ramah.
"Oh, pantes tante baru lihat kamu. Biasanya kan Leona selalu pulang sama kelima temannya." Ucap mama lagi.
"Mah, adek ganti baju dulu ya." Aku pamit sama mama dan ku biarkan saja Zayn dengan mama. Sekalian saja mengerjai dia. Biarkan dia diintrogasi sama mama.
Setelah ganti baju, aku juga ikut bergabung dengan mereka. Tidak enak juga, aku yang membawanya kesini tapi Zayn malah hanya mengobrol sama mama.
Hampit satu jam, kami membicarakan hal-hal yang menurutku unfaedah. Akhirnya Zayn pamit undur diri.
#Maaf TYPOnya yang bertebaran ya readers...
Jangan lupa tinggalkan jejak ya... VOTE LIKE DAN KOMENTNYA ditunggu... kasih hadiahnya dong... biar author tambah semangat.