ZaLea

ZaLea
Semakin penasaran sama kamu



Bel istirahat kedua berbunyi. Perut yang keroncongan menuntut untuk diisi. Kami berenam bergegas berjalan menuju kantin.


"Kali ini siapa yang pesen makan?" Tanya Dirga setelah mendudukan dirinya di kursi.


"Gue sama Nena." Jawab Arga cepat. "Ya udah yuk Ne, kita pesan. Keburu habis nanti." tambahnya.


"Aduh Ga, bisa sama yang lain dulu nggak? Tamu aku baru datang. Perut aku agak sakit nih." Jawab Nena.


"Ya sudah, sama Gue aja Ga." Zaidar menawarkan diri.


"Kamu emang yang paling pengertian Zay. Makasih ya" ucap Nena.


" Sudah nggak apa-apa. Gue ngerti kok." jawabnya dan berbalik memesan makanan. Kita emang ada jadwal siapa yang dapat jatah beli makanan dan minuman.


Diseberang meja kami duduk, ada dua pasang mata yang sedang menatap kami penuh selidik. Aku tahu itu. Sekilas Aku juga memperhatikan mereka. Tapi selama mereka tidak ambil tindakan, itu masih hal wajar.


Hari ini berlalu begitu saja, hingga bel pulang sekolah berbunyi. Saat ini kami sudah ada di parkiran sekolah.


"Le, anterin aku dulu yuk ke minimarket. Roti tawarku habis." Pinta Nena.


"Okey, gays kalian duluan saja. Oh iya satu lagi, hari ini gue nggak keluar dulu. Gue ada janji sama mama." Ucap Leona pada semua.


Semua mengangguki perkataan Leona. Sesaat setelahnya kami sudah melaju ke tempat tujuan masing-masing.


Minimarket


"Le, memang kamu beneran ada janji sama mama?" Tanya Nena curiga. Saat ini kami sedang berjalan menuju rak dimana roti tawar yang dimaksud Nena berada.


"Iya, nggak tahu juga sih. Tiba-tiba mama tadi ngirim pesan pengen bicara berdua." Jawabku.


"Jangan-jangan kamu mau dijodohin le." Jawab Nena menahan tawa.


"Enak saja. Kalau ada niatan perjodohan, gue pastikan lo duluan yang gue ajukan. hahahaha." Jawabku enteng sambil tertawa.


"Aku juga nggak mau kali Le. Begini juga Aku sudah ada orang yang Aku suka. ups." Nena terpancing dan seketika menutup mulutnya yang tidak sengaja mengucapkan rahasia hatinya.


"Ne, gue nggak salah dengarkan? Siapa Ne yang sudah ada dihati lo? Gue kenal nggak? Apa jangan-jangan salah satu dari piyik-piyik itu ya?" Aku memberondong pertanyaan pada Nena.


"Nggak Le, apaan suka sama piyik? mereka itu real sahabat buat kita." jawabnya.


"Lo benar Ne, gue juga sayang sama mereka. Sampai kapanpun mereka tetap sahabat kita." Jawabku membenarkan.


Brakkk


Barang belanjaan seseorang jatuh berserakan setelah pemilik barang itu tidak sengaja menabrak orang didepannya.


"Aach."


"Sorry, lo nggak apa-apa kan?" tanyanya saat mendengar kata itu keluar begitu saja dari mulutku sesaat setelah sesuatu menabrak pundakku. Tatapannya yang tajam namun dengan ekapresi wajah yang tidak bisa diartikan.


"Ini orang minta maaf tapi mukanya kayak gitu? Yang benar saja." gumamku.


"Tunggu, dia? dia orang itu kan?" tambahku.


"Sory-sory, iya gue nggak apa-apa. Lain kali hati-hati saja." Ucapku tak kalah datar padanya.


"Eh, kita satu sekolah kan? Seragam kita sama." Tanyanya saat melihat aku dan Nena bergantian.


"Iya, kenalin Aku Nena dan ini sahabat Aku namanya Le." Acara perkenalan diri dari Nena ku potong begitu saja karena aku nggak mau ada sembarangan orang memanggilku dengan nama itu.


"Zara, nama gue Zara." Potongku cepat.


"Hai, nama gue Zain. Zain Gibran Alvaro." Ucapnya mengulurkan tangan.


"Lo sudah selesai kan Ne? Buruan pulang, ditunggu mama." Kataku tanpa menghiraukan uluran tangannya.


"Sorry ya, kita duluan. Jangan diambil hati. Leona memang gitu orangnya tapi dia sebenarnya baik kok." Ucap Nena seakan memberi penjelasan dan permintaan maafku. Padahal aku biasa saja.


"It's okey." Jawabnya.


Setelah itu kami berpisah. Aku dan Nena segera kembali ke rumah. Hari ini Nena menginap dirumah karena dia pikir akan ada sesuatu yang penting antara aku dan mama, Dan dia akan siap mengintrogasiku setelah pulang nanti.


Dari minimarket sampai rumah membutuhkan waktu 20 menit. Ku arahkan motorku kearah garasi. disana Sudah ada satu mobil sport warna putih yang ku kenal.


"Ne, itu benar mobil bang Rendra kan?" Tanyaku memastikan pada Nena.


"Iya Le, itu punya bang Rendra." Ucap Nena, matanya tidak kalah berbinarnya denganku. Entah apa yang ada di pikirannya aku tidak mau ambil pusing.


Secepatnya kami berlari ke ruang utama.


"Mama, adek pulang." teriakku, salahnya aku tidak ingat mengucap salam.


"Wa'alaikumsalam wr.wb." jawab mama dan orang yang ada disampingnya. Benar saja, orang itu adalah Bang Rendra.


Rendra Ananta Arthur. Anak kedua dari keluarga Arthur. Abangku yang satu ini masih cukup muda, umurnya baru menginjak 22 tahun tapi dia sudah hampir bisa menyelesaikan study S2 nya di negeri Paman Sam. Bibit-bibit dari keluarga Arthur memang sangat unggul dan aku bersyukur untuk hal itu.


"Assalamualaikum wr.wb. Ma Bang." jawabku dan Nena bersamaan dengan cengiran khasku menghiasi bibir saat melakukan kesalahan.


"Sudah berapa kali mama bilang dek, kalau pulang pergi itu ucap salam dulu." Mama mulai dengan omelannya.


"Iya mama, maaf." jawabku, kenapa q selalu lupa diri dan berujung seperti ini.


"Nena, kamu juga pulang nak? Mama rindu sama kamu." Tanya mama.


"Iya Ma, malam ini Nena pengen nginep sini." Jawab Nena yang sudah menuju kearah Mama dan memeluknya. Melepas kerinduan mereka.


Di sisi lain, Zayn yang tadi tidak sengaja menabrak Leona terus memikirkan gadis itu. Kini dia sedang terlent**g di kamarnya.


"Matanya, Aku seperti pernah melihat mata itu tapi siapa? Siapa pemilik mata itu." Zayn bermonolog menatap langit-langit kamarnya.


"Apalagi sikapnya yang seperti itu. Membuatku lebih penasaran dengannya." tambahnya.


*Please like vote and komentnya ya.. Mohon tinggalkan jejaknya ya.