ZaLea

ZaLea
Putra keluarga Duhita



"Huft. " Helaan nafas panjang keluar dari mulutku. Ku rebahkan tubuhku sembarangan di kasur.


Rasa lega seperti menyeruak dari dalam dadaku. Terbebas dari dua laki-laki yang selalu membayangi otakku.


Sebelumnya, Aku hampir menghilangkan satu nama itu dari hati dan pikiranku. Satu nama yang menorehkan luka. Kini pemilik nama itu telah kembali. Apa yang akan terjadi nanti. Akupun tak tahu.


Putra tunggal dari keluarga DUHITA. Temanku sejak kecil, seseorang yang selalu bersamaku kemanapun Aku pergi.


Entahlah, rasa kehilangan yang teramat sakit membuatku sedikit membencinya. Membenci kehadirannya. Walaupun selama dia pergi, tak pernah satupun kabarnya Aku terima.


Aku ingat, Arya menyelipkan sesuatu dalam kantong jaketku. Aku ambil benda itu, terlihat sebuah kartu nama bertuliskan "Arya Mulia Duhita" dibawahnya tertera nomor telepon dan dibaliknya tertera nama perusahaan besar keluarga Duhita. Circleku memang bukan main-main. Kebanyakan dari kalangan atas.


"Arya, Kamu kembali." Tanpa Aku sadari, sudut bibirku terangkat.


"Sudahlah, Aku ngantuk. Besok saja kalau tidak lupa." Gumamku dan menyelipkan kartu itu dalam dompet kecilku.


Mataku kembali terbuka setelah mendengar notifikasi khusus grub chat.


...**SDP SQUAD...


@Ando_RYS**


"***Bu boss, sepi nih nggak ada Lo."


@Arga_cakep


"Iya Le, Lo kemana sih?"


@Dirga Ganz


"Kalau Sudah selesai, bisa kali Le. Lo kesini. Ini masih pada di markas."


@Zaydar_Zay


"Nggak usah dengerin mereka Le. Kalau capek istirahat saja."


@Dirga Ganz


"Nih, si bapak emang ya. Susah banget kalau diajak kompakan."


@Arga_cakep


"1in"


@Ando_RYS


"2IN"


@Zaydar_Zay


"😅😅😅😅"


@Lele_Leona


"Dih, emotnya Zay... Kayak nggak hafal aja sama nih piyik-piyik. @ Zaydar_Zay."


@All. okey.. Gue Cusshh.. Tungguin Gue."


@Ando_RYS


"Ini Boss Gue."


@nene_nena


"Apaan sih pada, berisik semua malam-malam. Ganggu orang tidur saja. @Lele_Leona, udah Le. Ke apart Aku saja. Nggak usah ke markas. Kita cuap-cuap."


@Dirga ganz


"Apa sih Ne, jangan jadi penghasut."


@nene_nena


"Dih😏😏😏😏. @Dirga Ganz."


@Lele_Leona


@nene_nena


"Okey, hati-hati di jalan."


off***


Setelah selesai dengan semua, termasuk outfitt yang biasa Aku pakai. Aku segera keluar dari kamat. Sampai di bawah, ternyata mama masih sibuk dengan majalahnya.


"Adek, baru pulang mau pergi lagi? ini sudah hampir jam sembilan sayang." tanya mama.


"Biasa ma, mau ngumpul sama anak-anak."


"Lah emang tadi nggak sama mereka?" Bingung mama.


"Tadi habis jalan sama Zayn ma. Sebenarnya anak-anak ngajak ngumpul dari tadi. Tapi karena Zayn ngambek, jadi Adek mesti nenangin Dia dulu." jawabku dengan cengiran.


"Ada-ada saja kamu. Trus nanti pulang nggak? Ingat, besok senin lho."


"Nggak tahu ma. Kalau nggak pulang, berarti besok adek langsung ke sekolah saja."


"Ya sudah kalau gitu. Adek hati-hati ya. Ingat pesan mama. Walaupun mereka sahabat kamu dari kecil, mereka juga laki-laki normal. Ngertikan maksud mama?"


"Iya mamaku sayang. Adek ngerti." Jawabku setelahnya mencium pipi mamaku.


"Ingat kasih kabar." Pekik mama.


"Siap komandan." Teriakku tak kalah keras.


Aku tahu kenapa mama selalu berpesan begitu, karena mama sayang sama Aku. Tapi Aku juga tahu, siapa teman-teman Aku itu dan Aku percaya sama mereka kalau kasih sayang kami tidak diragukan lagi. Dengan semua kisah yang sudah kami lalui bersama, itu sudah membuktikan semua.


******


"Ini kenapa jadi ketinggalan sih, Zara juga kenapa nggak bisa ditelfon." Monolog Zayn di dalam mobil. Setelah tidak berapa jauh mobil Zayn beranjak, Zayn baru tersadar kalau belanjaan Leona tertinggal di jok belakang mobilnya.


"Apa Gue kembali saja ya, belum terlalu malam juga." Ucapnya sambil melirik paperbag Leona. "Putar balik saja deh." Putus Zayn.


Zayn pun putar arah kembali menuju rumah Leona. Akan tetapi setelah hampir sampai di depan gerbang rumah Leona, Zayn melihat Motor sport yang sangat familiar dimatanya.


"Motor itu? Bukannya itu motor Zaydar?" Monolog Zayn dengan kebingungannya.


Dalam benaknya, ada urusan apa Zaydar kerumah Zara sendirian. Biasanya kalau ada apa-apa mereka selalu bersama-sama.


"Apa jangan-jangan urusan pribadi? ah, sudahlah. Baru saja baikan. Nggak usah dipikirin." Tandasnya.


Ya, kali ini Aku menggunakan motor kesayanganku. Kalau dilihat sekilas, motorku dan motor Zaydar hampir mirip. Apa lagi dalam keadaan gelap. Bisa dipastikan tidak ada yang melihat perbedaannya. Tentu saja kecuali para sahabatku.


Zayn kembali melajukan mobilnya. Sesampainya digerbang, satpam yang sudah mengenal Zayn langsung membukakan gerbang.


"Malam tante," Ucap Zayn setelah mama membukakan pintu untuk Zayn.


"Malam nak Zayn. Kok kembali kesini lagi? bukannya tadi habis pergi sama Adek ya?" Cerocos mama.


"hihi, Iya tante. Zayn cuma mau nganter ini. Tadi Zara lupa bawa belanjaannya." Ucap Zayn dengan menyodorkan paperbag di tangannya kepada mama.


"Oalah,,... ya sudah. Terima kasih ya nak. sudah cape-cape nganterin ke sini."


"Nggak apa tante. Zayn nggak repot kok. Lagian Zayn juga belum jauh tadi." Jawab Zayn sopan.


"Zara nya audah tidur ya tante? soalnya tadi saya telfon nggak diangkat.


"Ah, iya mungkin Zayn. Soalnya tadi Adek langsung masuk kamar." jelas mama agak gugup. Mama memang selalu tahu situasi.


"Kalau begitu, Zayn pamit undur diri tante. Zayn mau langsung pulang."


"Iya, nak Zayn hati-hati ya."


"Iya tante, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam wr.wb." Setelah mengucapkan salam, Zayn benar-benar pamit dan melajukan mobilnya.


"Adek-adek, mama jadi ikutan kamu bohong sama Zaynkan.. Maafkan Leona ya nak Zayn." Gumam mama yang masih melihat mobil Zayn keluar dari halaman rumah.