
Arya, seorang cowok yang sangat perhatian denganku. Aku melihatnya lagi kali ini. Aku merasakan kembali diperhatikan olehnya. Semua bayangan masa lalu terlintas. Tidak ada yang terlupakan. seolah semua baru terjadi kemarin sore.
"Terima kasih Ar." Jawabku. Setelahnya Aku langsung pergi ke rooftop dimana markas SDP berada.
"Lama banget sih Le?" tanya Arga ketika Aku masuk.
"Toilet cewek ngantri banyak."
"Emangnya ditahan sampai sini nggak bisa ya? Segala mesti ngantri di toilet cewek."
"Lupa, saking nggak tahan pengen p*p*s. Kalau Gue inget, mending setor sini saja tadi. Haha." Bohong kalau Aku lupa karena kebelet. Sebenarnya tadi Aku sembarangan bilang kebelet. Di toilet juga tidak banyak antrian. Tapi karena ditahan oleh Arya, Aku jadi sedikit lama.
"Ya udah, sekarang nih. Pesenan Lo. Buru makan. Keburu habis ntar waktu istirahatnya."
"Santui kali. Habis ini jam kosong."
"Kok Lo tempe?"
"Tahu kali ga." Sahut Dirga.
"Itu maksud Gue Dir."
"Ya tahu lah. Tadi ditoilet anak IPA 3 pada gibah kalau Bu Siska cuti hari ini."
"Kesempatan bebas ini mah. Kuy, tiduran sini." Balas Ando semangat.
"Eh, By the way. Hari ini Gue nggak lihat Zayn ya Le.? Di kantin tadi juga nggak kelihatan." Tanya Ando.
"Mana Gue tahu? Emang Gue emaknya yang mesti harus tahu dia kemana." Sahurku.
"Elo kan pacarnya oneng."
"Iya juga ya. Kalau dipikir-pikir nggak biasanya juga dia seharian nggak ada kabar."
"Emang Dia nggak ada chat Lo gitu?"
"Bentar deh, Gue dari pagi nggak buka hp." Ucapku sambil merogoh hp dalam saku.
"Astaga Zalea." Ucap Ando frustasi seraya meraup mukanya sendiri.
"Ini benar lho. Nggak ada chat dari tadi pagi. Yang ada cuma panggilan yang tidak terjawab semalam."
"Nah loh. Lo berantem lagi sama Dia?" tanya Dirga.
"Apaan, Gue nggak berantem. Ya kali, baru baikan udah berantem lagi. Susah tahu, bujuknya."
"Ciee,.. Lo udah beneran jatuh cinta nih sama Zayn?" Giliran Arga yang kepo.
"Gue nggak tahu Arga. Ya Gue jalanin saja dulu. Kalau Zayn sudah mau angkat tangan, Gue bisa apa. Tapi selama ini, Zayn nggak pernah biarin Gue buat minta putus sama Dia."
"Sebenarnya konsep pacaran Lo sama Zayn gimana sih Le? Bingung Gue." Si playboy bingung sama cara pacaranku. Hahahaha.
"Ya nggak gimana-gimana. Mengalir saja seperti semestinya. Intinya, sampe sekarang. Zayn belum mau putus sama Gue."
" Ngapain pada bahas hubungan Gue sama Zayn sih. Biar hubungan Gue, Gue saja yang pikirin."
"Yang pasti Lo mesti tetap hati-hati Le. Ingat posisi Lo sama Dia. Kalau Lo belum siap status Lo kebongkar sama Zayn."
"Iya, Gue ngerti Do. Sampai sekarang masih aman kok. Lo tenang saja."
Waktu berjalan dan terlewati dengan candaan unfaedah dari kesemuanya.
"Kuy, balik kelas. Jam terakhir ada jamnya Pak Joko." Ajakku pada semua saat melihat jam pelajaran Bu Siska hampir habis.
Di dalam kelas terlihat sedikit gaduh karena jam kosong. Kami kembali ke kursi masing-masing masih dengan sedikit candaan dan senyuman dari masing-masing.
"Hai Ne, apa kabar? Ale." Arya memghampiri kursiku dan Nena. Entah sekedar basa-basi atau apa niatnya. Dia menyapa Nena dan Aku.
"Hai Ar, lama nggak ketemu. Aku baik, Kamu sendiri gimana?"
"Seperti yang terlihat." Sautnya. Apa maksudnya bicara seperti itu? Tinggal bilang "Baik" saja susah sekali.
"Ale,..." Panggilnya lagi.
"Kita bicara nanti Ar, Pak Joko sudah mau masuk." Jawabku. Jujur Aku masih belum sanggup untuk balik menyapanya.
Dia menyambar hpku yang tergeletak di atas meja.
"Eh, mau apa Ar?" Terdengar hp yang berbunyi dari saku seragam Arya.
"Aku simpan kontak kamu, kamu simpan kontak Aku. Kalau nunggu kamu yang kontak Aku duluan jadinya kelamaan." Ternyata Arya menyambar hpku untuk men'dial kontaknya sendiri.
Dia masih ingat kalau Aku paling nggak suka mengunci hpku. dan ya, yang terpakai adalah nomor kontak privasiku.
"Ar,..." Panggilku.
"Hmm.."Jawabnya seraya menatapku.
"Ini nomor khusus. Jangan disebar."
"Emm. Aku tahu." Jawabnya kembali ke kursinya.
Entah sihir apa yang Arya pakai. Aku rasa, saat didepannya aku hanya bisa menunduk patuh dengannya.
"Nene, sepertinya lawannya Zayn berat. Lihat noh. Singa kita nggak berkutik." Bisik Arga pada Nena yng masih bisa ku dengar.
"Lo nyindir Gue Ga?"
"Hehe, Lo ngerasa kesindir? Syukur deh."
"Kampret Lo."
**TBC