
"Ale, kita harus bicara." Arya yang entah datang dari mana, langsung mencekal tanganku begitu saja.
"Sans dong bro. Nggak usah pakai pegang-pegang segala." Sergah Ando. Ya, dari kesemua anak SDP Ando lah yang paling mudah tersulut emosi ketika merasa ada yang mengusikku.
Arya yang mendengar cicitan Ando hanya mendiamkannya seolah tidak mendengar apapun.
"Udah Do, nggak apa." Ucapku ketika melihat Ando akan maju. Sedangkan dari arah Arya, dia masih diam menunggu jawabanku.
"Mau bicara dimana Ar?" Tanyaku langsung. Aku sadar, semakin Aku mengulur waktu hasilnya akan sama saja.
"Kamu ikut Aku, kita bicara di cafe." Suara Arya masih selembut dulu meskipun sekarang terasa lebih ada ketegasan didalamnya.
"Aku naik motor, kita jalan sendiri-sendiri."
"Nggak, Kamu bareng Aku. Nanti sekalian Aku antar pulang."
"Trus, nasib motorku gimana Ar?"
"Nanti biar orangku yang bawa pulang."
"Buset, enak bener ngomongnya ya. Le?" Cerocos Arga lanjut menatapku meminta kejelasan.
"Okey, Lo semua nggak usah khawatir sama Gue. Gue baik-baik saja kok. Kalau setelah ini Gue nggak ada kabar, Kalian cari saja Dia." Ucapku menatap semuanya dan beralih melihat Arya.
"Ale aman sama Gue. Gue pastikan Ale pulang selamat tanpa kurang satu apapun." Janji Arya.
"Le, bicarakan baik-baik." Pesan Nena, yang ku balas dengan anggukan.
"Gue duluan." Ucap Arya dan langsung menarikku ke parkiran mobil.
***
"Kok bisa ya? Leona segiti nurutnya sama tuh bocah?" Arga yang masih tak habis pikir dengan sikap Leona sekarang.
"Mungkin masih ada nama Arya di hati Leona." Seketika semua mata menatap Nena.
"Ehehe, apaan nih? Kenapa pada lihat Aku kayak gitu?"
"Aku nggak bisa cerita apa-apa. Intinya, dulu mereka saling melengkapi dan saling membutuhkan. Kalau mau cerita lengkapnya tanya Leona sendiri." Lanjut Nena.
"Dah, Aku balik dulu." Langsung melenggang menuju motornya.
"Ini kita kasih tahu Zayn nggak?" Dirga berucap.
"Ngapain ngasih tahu dia?" Arga cengo.
"Ye, Zaynkan Pacar Lele Ga."
"Iya juga ya,.. Dia kan hari ini nggak masuk."
"Dah lah. Pusing aman mikirin urusan orang. Balik lah, kita ke markas." Pungkas Ando.
"Tapi nggak biasanya Zayn nggak berangkat. Apalagi seharian dia nggak ngabarin Lele. Kalian nggak ada curiga sesuatu ?" Ucap Zaidar si paling kritis dengn keadaan.
"Kita lihat saja kelanjutannya. Gue yakin Zayn punya alasan sendiri. Dan kayaknya Gue lihat, si Arya ini bukan orang sembarangan." Suara Ando kembali terdengar.
"Dari kalangan kita, siapa yang nggak tahu siapa Tuan Muda Duhita?" Dirga memberikan info.
"Bahkan, Keluarga besar Alvaro masih jauh dibawah Keluarga Duhita." Arga menambahkan.
Tidak ada lagi percakapan yang terdengar, satu per satu motor mereka melaju menembus jalanan menuju markas Moonlight Shadow.
****
Di sisi lain, Zayn yang harus mengurus masalah kantor sang papa yang secara tiba-tiba harus merelakan waktunya kesekolah dan bertemu Zara.
"Bisa-bisanya kita kecolongan dan kehilangan tender dengan cara seperti ini!" Geram Zayn pada Asisten serta sekretaris papanya.
"Sepertinya mereka menggunakan cara halus untuk memikat perusahaan A. Sehingga perusahaan A bisa dengan mudah berpaling dari kita." terang asisten.
"Padahal perhitungan saya, keuntungan yang didapat perusahaan A ketika bekerja sama dengan kita itu sudah sangan besar Tuan muda." Tambah sekretaris papa.
"Bisa dikatakan, kalau lawan kita ini menargetkan kita daripada tender itu?" Tebak Zayn.
"Iya Tuan." Jawab keduanya.
"Cari informasi tentang lawan kita ini sedetail mungkin." Tegas Zayn.
"Baik Tuan muda." Kompak keduanya.
"Kalian boleh keluar."
Setelah pamit, kedua orang itu segera keluar dan kembali ke pekerjaan masing-masing.
Zayn merogoh kantong dan mengambil hpnya.
"Kenapa kamu nggak ada nyari Aku Za? Apa kamu nggak tahu kalau Aku nggak berngkat hari ini?" Pikir Zayn saat melihat tidak ada satupun notifikasi dari Zara.
"Aku belum tahu alasan kenapa semalam Zaidar datang seletah Aku pergi. Tapi sekarang kamu sudah nggak ada kabar lagi."
"Sampai kapanpun, Aku nggak akan pernah lepasin kamu Zayn."l