
"Ar, yang kita lakukan ini salah. Maaf, Aku harus pulang sekarang." Tersadar sepenuhnya, sadar akan statusku dengan Zayn. Segera Ku ambil tas dan ku langkahkan kakiku keluar.
"Aku antar kamu pulang Al." Arya mencekal tanganku.
"Aku bisa pulang sendiri Ar." Ku lepas cekalan tangan Arya.
"Maaf Al, maaf kalau tadi Aku kelepasan."
"Lupakan Ar, ini juga salahku. Permisi."
Tanpa menoleh sedikitpun Aku seger keluar dari apartemen Arya. Beruntung saat sampai di loby Aku melihat taxi yng sedang menurunkan penumpang.
****
Di kamar Leona
Ting
@Nene_nena
Gimana Le? Sudah bereskah?
@Lele_Leona
Bukannya beres Ne, Malah tambah ruwet. Gue kepergok Zayn pas lagi bicara sama Arya. Gue ngerasa bakal ada salah paham sama Zayn.
@Nene_nena
Ya jelasin aja apa adanya sama Zayn.
@Lele_Leona
Gimana mau ngejelasin, Nomornya nggak aktif. Baru saja baikan, abis salah paham sama Zaydar. Ini ada lagi.
@Nene_nena
Sabar, derita orang pacaran. xixixixixi.
@Lele_Leona
Gini amat ya, jadi tambah pusing Gue! Ada aja terus masalahnya. Apa Gue ngilang aja dulu kali ya.
@Nene_nena
Nggak, nggak ada ya acara Kamu ngilang-ngilangan.
@Lele_Leona
Au ah,..pusing Gue. Mau tidur, kali aja Abis tidur masalah Gue kelar.
@Nene_nena
Ya sudah sana, Aku juga udah mau tidur. Sampe ketemu besok di sekolah.
@Lele_Leona
Hm😪😪😪
***
"Pagi ma,.."
"Pagi dek, tumben sudah rapi."
"Jangan mulai deh mah, Adek lagi nggak mood buat bercanda."
"Ada apa sayang? Ada masalah di cafe? Atau apa?"
"Nggak ada apa-apa kok mah, Cafe juga baik-baik saja."
"Oh iya dek, kemarin malam Arya kesini. Dia sudah pulang dari Prancis."
"Jangan bahas Arya dulu ya mah, Adek lagi nggak mau bahas dia."
"Kalian sudah ketemu?"
"Iya." Ucapku sambil melahap sanwich dan minum segelas susu.
"Adek berangkat ya mah. Assalamualaikum." Pamitku pada mamah, menyalami tangan kanan mamah.
"waalaikumsalam. Hati-hati dek. Jangan ngebut."
"Iya mah."
Sampai di sekolah Aku tidak langsung ke kelas. Basecamp SDP yang Aku tuju. Hari ini tidak ada semangat belajar sama sekali. Ragaku disekolah, tapi pikiranku entah dimana.
Hingga Bel masuk berbunyipun Aku masih enggan beranjak. Sebelumnya Aku sudah meminta tolong Nena untuk mengijinkanku. Aku jujur kalau saat ini Aku berada di basecamp. Tapi Aku melarang mereka untuk menyusulku.
Baru lima belas menit jam pelajaran berlangsung, Aku mendengar sayup-sayup gitar mengusik indra pendengaranku.
" Suara itu? Bukannya itu suara Zayn?"
Aku mengumpulkan semua keberanianku, didepan Zayn seakan Aku tidak berdaya. Mungkin karena Aku sadar kalau Aku salah.
Pelan Aku membuka pintu basecamp. Beruntung pintu ruangan Aku pasang peredam. Jadi suara terbuka dan tertutupnya pintu itu tidak terlalu terdengar.
"Zayn." Pelan Aku memanggil nama laki-laki yang berstatus kekasihku itu. Perlahan Aku berjalan kearahnya. Mendengar panggilanku, Zayn pun menoleh.
"Za, Kamu disini? Aku kira Kamu tidak masuk. Dari pagi Kamu tidak terlihat di kelas."
"Zayn, kita perlu bicara."
"Nomor Kamu dari semalam tidak Aktif Zayn?" Aku duduk disamping Zayn yang bersandar pada pembatas gedung.
"Iya, baterainya drop dan baru Aku nyalakan tadi pagi."
Setelahnya tidak ada lagi obrolan yang terucap. Hening, hanya sesekali petikan-petikan gitar di tangan Zayn yang terdengar.
"Zayn."
"Hm"
"Ada yang ingin Kamu tanyakan?"
"Ada yang ingin Kamu jelaskan?" Timpal Zayn.
"Tanyakan apa yang ingin Kamu tahu Zayn."
"Semuanya?"
"Sebisaku akan Aku jawab." Kali ini, Aku akan jujur semuanya pada Zayn. Termasuk identitas Leon jika Zayn juga menanyakannya.
"Really?" Zayn menoleh dengan kening berkerut.
"Yes."
"Sepertinya kalau Aku menanyakan semuanya, tidak akan cukup untuk tiga jam." Jawabnya terkekeh.
"Kita pergi dari sini."
"Kemana?"
"Kemanapun asal tenang dan ada waktu untuk kita."
"Kamu serius Za? Gimana kalau teman-temanku mencarimu?"
"Mereka akan ngerti."
"Okey, kita pakai motorku." Akupun menyetujui permintaan Zayn. Ini kesempatanku. Apakah Zayn akan menerima Aku yang seperti ini atau Zayn akan melepaskanku. Aku akan menerima semua keputusan Zayn setelahnya.
Dengan akses yang Aku punya, dengan mudahnya Aku dan Zayn keluar dari area sekolah. Aku tidak tahu kemana Zayn akan membawaku pergi. Aku percaya, Zayn tidak akan berbuat macam-macam padaku.
Sampai di satu tempat, agak jauh memang. Butuh waktu dua jam lebih untuk mencapai tempat ini, sedikit sepi. Hanya ada beberapa orang berlalu lalang dengan aktifitas kesehariannya. Deru ombak bersahutan. Pantai, ya tempat ini yang dipilih Zayn sebagai tempat untuk melepas semua masalah antara kami.
"Kita keatas sana." Tunjuk Zayn pada suatu bangunan yang bisa disebut gazebo diujung tebing.
Selama menaiki tangga yang mengarah ke gazebo, Zayn masih setia menggandeng tanganku.
"Duduklah, kita bicara disini. Aku rasa tidak ada orang yang akan mendengar obrolan kita disini." Zayn mengeluarkan minuman dan sedikit cemilan yang dibelinya saat berhenti di minimarket saat dijalan tadi.
Beberapa saat saling diam menghadap laut, Aku berinisiatif membuka obrolan.
"Maaf Zayn, mungkin kemarin Aku membuat Kamu terluka lagi. Maaf, disini selalu Aku yang menjadi penyebab keretakan hubungan kita." Tidak ada sahutan. Aku menoleh pada Zayn.
"Lanjutkan."
"Sebelum Aku menjelaskan, apa yang ingin Kamu tahu lebih dulu?"
"Siapa Dia? Kenapa Kamu mau dipegang-pegang sama Dia?" Tersirat sedikit emosi dari nada bicara Zayn.
"Arya Mulia Duhita. Penerus keluarga Duhita. Aku mengenalnya sejak Aku berumur lima tahun. Pergi empat tahun lalu dan Dia baru kembali dari Prancis. Sekarang masuk ke sekolah kita dan satu kelas denganku."
"Anak keluarga Duhita."
"Iya, Kamu pun tahu siapa keluarga Duhita."
"Apa hubunganmu sebelumnya dengannya?"
"Tidak ada, tapi kami saling menyimpan rasa."
"Karena Dia? Karena Dia Kamu belum bisa menerima Aku sepenuhnya?" Aku terdiam mendengar pertanyaan Zayn kali ini.
"Jadi benar? Dan Kamu ingin kembali padanya?"
"Mungkin benar karena Dia, Aku belum bisa menerimamu sepenuhnya. tapi untuk kembali padanya? Aku saja tidak pernah memulai hubungan dengannya, bagaimana bisa Aku kembali dengannya?"
"Kamu jangan terlalu berputar-putar Za."
"Zayn, apa Kamu sudah tidak mau lagi memanggilku dengan panggilan baby lagi? Apa Kamu sudah rela berpisah denganku?"
"Kalau Aku tidak merelakanmu, Apakah Kamu akan tetap tinggal bersamaku?"
"Dasar bodoh." Umpatku seketika mendaratkan tasku ke punggung Zayn.
"Kenapa Kamu malah memukulku?"
"Kalau Aku mau pergi, Aku tidak akan mau ikut denganmu saat ini."
"Cih, jadi dimana posisiku saat ini dimatamu?
"Kamu mau jawaban jujur atau tidak?"
"Kita tidak sedang bermain tebak-tebakan Za." Geramnya.
"Kamu sudah masuk ke hatiku Zayn."
"Berapa persen?"
"Aku tidak menghitungnya. Tapi Zayn, ada satu kesalahan fatah yang Aku buat kemarin. dan mungkin karena ini kamu akan membenciku."
####Tunggu chapter selanjutnya ya... mohon maaf kalau ada typo..