
Sebelum Zayn sampai di cafe ini, Aku sudah satu jam lebih dulu sampai. Tujuanku ke cafe bukan hanya untuk bertemu Zayn. Sudah waktunya juga Aku harus mengecek daftar pemasukan dan pengeluaran mingguan cafe. Walaupun sudah ada mbak Siska selaku asistenku di cafe yang siap sedia melakukannya. Tapi tak urung juga Aku harus memantaunya.
Waktu yang dijanjikan hampir tiba. Aku membereskan berkas-berkasku yang sekiranya sudah selesai.
Tok... tok... tok....
Tidak berselang lama ada yang mengetuk pintu ruanganku.
"Siapa?" Tanyaku yang masih duduk dikursiku.
"Saya Nona, Dibawah ada laki-laki. Katanya mau bertemu dengan Nona. Dia bilang sudah ada janji sama Non Zara." Pekik mbak Siska dari luar.
"Ya sudah mbak, suruh saja dia kesini."
"Baik Non."
Sambil menunggu Zayn datang, Aku melanjutkan pekerjaanku.
Tok tok tok...
"Masuk."
"Sore By." Ucap Zayn ketika menyembul dari balik pintu. Berjalan ke arahku dan langsung mendaratkan ciuman di keningku.
"Sore Zayn, masuk dan langsung nyosor? Sudah tidak marahkah? Sudah tidak butuh penjelasan?" Tanyaku pada Zayn agak aneh dengan tingkahnya sore ini.
"Penjelasan tetap perlu By, tapi Aku nggak bisa lama-lama marah sama kamu." Terangnya sambil berjalan menuji sofa. Seenaknya sendiri, Dia pikir ini ruangan siapa.
"Duduk di sofa saja By, biar lebih enak kita bicaranya."
"Dih, ini ruang kerjaku Zayn. Kenapa malah kamu yang atur-atur Aku?" Tolak mulutku tapi tidak dengan tubuhku karena setelahnya Akupun juga mendudukan diriku di samping Zayn.
"Iya maaf sayang. Ini memang tempatmu. Okey, Aku salah bicara."
"Kenapa sih Zayn? Hari ini kamu sensitif banget? Bukan Zayn banget. Aku tahu ada sesuatu, ini bukan Zayn. Zayn yang Aku kenal selalu bisa membaca situasi dan kondisi. Orang yang tidak serta merta membawa emosi dalam dirinya." Kontak mata selalu tidak pernah bohong.
"Sudah segitu hafalnya kamu sama sifat Aku By?" Tanya Zayn dengan senyumnya.
"Bagaimana Aku nggak hafal Zayn? Tiap hari kita bertemu. Tiap hari juga kita sama-sama."
"Benar juga sayang."
"Sekarang kamu bilang sama Aku, Kamu kenapa?"
"Aku nggak suka Kamu terlalu dekat sama Zaydar."
"Why? Dia salah satu sahabat terbaik Aku Zayn. Sama Zaydar nggak boleh, gimana dengan Ando? Dirga? Arga? Mereka sama-sama cowokkan?"
"Untuk yang lainnya sekarang Aku nggak tahu By, tapi tidak dengan Zaydar. Pokoknya Kamu harus ambil jarak sama Dia."
"Apa alasan Kamu nyuruh Aku ambil jarak sama Dia? Aku nggak bisa begitu saja menjauh. Bagaimanapun juga kami selalu bersama." Kenapa Aku merasa pembicaraan ini hanya muter-muter disitu saja.
"Alasannya Aku sayang sama Kamu By, Aku cinta sama Kamu, Aku nggak mau Kamu berpaling dari Aku."
"Siapa yang bilang Aku akan berpaling dari Kamu? Walaupun rasa itu belum sepenuhnya ada, tidak ada niatan dariku untuk pergi darimu Zayn."
"Kenapa malah senyum-senyum gitu? Zayn Kamu kenapa sih?"
"Bilang kalau Kamu cinta sama Aku By." Pintanya masih dengan senyum kecilnya.
"Nggak, sebelum Aku yakin dengan hatiku." Tegasku.
"Tidak langsung menjauh By, hindari kontak fisik sama Dia. Aku nggak mau Kamu terlalu manja sama Dia."
"Kamu cemburu Zayn?" Tanyaku menaikan Kedua alis.
"Iya, Aku cemburu. Puas." Tegasnya.
"Nggak ada yang bisa kamu cemburui Zayn. Dalam pertemanan kami, semua pure *friend*s."
"Itu buat Kamu sama yang lain. Tidak untuk Zaydar."
"Aku nggak ngerti maksud Kamu Zayn."
"Okey, jadi gini. Beberapa hari yang lalu waktu istirahat Aku ke toilet, disana Aku dengar ada orang bicara sendiri dan nggak sengaja Aku dengar omongan dia....."
Flashback
"Bro, kalian ke kantin duluan ya. Gue ke toilet bentar. Pesenin makanan buat Gue sekalian." Ucap Zayn pada Anthony yang juga bisa didengar Ridho dan Alvin.
"Okey, Lo pesen seperti biasakan?"
"Yo'i. gue pergi dulu."
"Udah kebelet tuh anak." Kekeh Alvin.
"Ya sudah yuk, kantin."
"Let's go."
"Gayaan Lo pakai inggris. Nggak tahunya Nilai pelajaran bahasa inggrisnya burung terbang. Hahaha."
"Emang burung terbang berapa Thon?" Tanya Ridho yang tak paham.
"Tiga Dho."
"Bwahahahha Benar banget tuh."
"Sialan Lo pada." Kesal Alvin dan pergi lebih dulu.
Cekleek...
Zayn sampai di toilet, terdengar sayup-sayup orang bergumam dari bilik sebelahnya.
"Le, Gue sayang sama Lo. Gue cinta sama Lo. Kenapa rasa ini ada diantara kita. Lo sahabat Gue. Nggak mungkin Gue menghancurkan persahabatan kita demi cinta. Apa lagi Lo sudah sama Zayn. Gue cuma berharap, pilihan Lo nggak salah. Semoga Dia mau nerima Lo apa adanya. Zara Leona Arthur. Zalea, Ale, Lea, Leona. I Love You."
Gumaman itu diterima jelas di telinga Zayn. Hatinya meradang. Siapa yang menyimpan cinta dibalik topeng persahabatannya. Sedangkan pihak cewek jelas-jelas adalah kekasihnya. Bahkan tadi namanya juga disebut-sebut. Siapa Dia? Zayn samakin penasaran. Dari keempat teman Zara, siapa yang menaruh hati pada gadis cantik itu.
Zayn sedikit mengintip ketika mendengar pintu samping terbuka. Terlihat orang yang selama ini berada disamping kekasihnya. Seseorang yang dibilang selalu ada untuk kekasihnya. Bahkan dulu Zayn sempat menerima ancaman dari orang itu kalau saja Zayn berani menyakiti gadisnya. Orang yang sering terlihat tenang tapi bila menyangkut soal seorang Zara, Dia akan berubah menjadi apapun dihadapan lawannya. Dia adalah Zaydar.
Flashback off
"Zayn, ini yang Kamu bilang beneran semua?" Tanyaku tidak percaya. Pasalnya tidak ada satupun diantara kami yang sadar akan perasaan Zaydar. Zaydar terlalu pintar menyembunyikan perasaannya.
"Aku bisa mempertanggung jawabkan perkataanku By. Maka dari itu, Aku mau Kamu menjaga jarak sama Dia. Selain Aku cemburu Kamu dekat dengan cowok lain, Ini juga untuk kebaikan persahabatan kalian."
"Okey, Aku ngerti Zayn." Aku masih spechless mendengar penuturan Zayn tentang Zaydar.
"Good girl Baby." Ucapnya sambil mengelus puncak kepalaku.
*** Silahkan dukungannya ya bestie.. Dukungan kalian semangatku.. Tolong bantu Up ya. Maaf kalau ada Typo..