
Selesai Aku membereskan semua pekerjaanku, Kami keluar dari cafe. Seperti rencana awal, mobil melaju ke salah satu mall terbesar dikota ini. Hampir satu jam mobil membelah padatnya jalanan ibukota.
"By, kita mau langsung nonton apa mau jalan-jalan dulu?" Tanya Zayn sesaat setelah memarkirkan mobilnya.
"Masih ada waktu satu setengah jam, Kita ke tempat alat tulis dulu Zayn. Ada yang mau Aku beli " Jawabku.
"Emang Kamu mau cari apa By?"
"Kalau ke alat tulis, ya pastinya nyari alat tulis Zayn. Nggak mungkin Aku kesana buat nyari bumbu dapur." Jawabku masih saja berjalan kearah yang Aku tuju.
"Terserah By, terserah Kamu saja mau ngomong apa. Yang penting Kamu senang. Buat Aku itu sudah cukup." Balas Zayn sedikit malas.
"Goodboy." Balasku dengan cengiran dan ku raih pergelangan tangannya. Tentu dengan harapan agar dia lebih bahagia.
Benar saja, saat Aku melirik terlihat mimik muka Zayn yang lebih cerah daripada tadi. Sepertinya Aku punya bibit buaya betina hahaha.
"Zayn, kenapa senyum-senyum?" Tanyaku seolah tidak tahu apa yang dipikirkan Zayn.
"Nggak ada By, senang saja. Kamu mau jalan gandeng-gandeng Aku kayak gini."
"Ya sudah, Aku lepas deh." Godaku.
"Eh, jangan dong By." Sanggahnya kembali meraih tanganku.
"Tapi lepasin dulu Zayn, kalau Kamu terus-terusan gandeng tanganku. Gimana Aku mau milih alat tulisnya. kita sudah sampai di storebook."
"Hmmmhhh... Cepat banget sih jalannya, Nggak bisa apa jauhan dikit biar lebih lama pegangan tangannya." Gumam Zayn.
"Kamu muter-muter sendiri saja dulu Zayn. Kali aja ada yang mau kamu beli juga."
"Okey sayang. Aku kesana dulu ya."
"Hm."
****
"Ma, Arya ke toko buku bentar ya. Mama ngobrol saja dulu sama teman mama. Nanti kalau mama sudah selesai dan Arya belum balik, mama telfon Arya saja." Pamit seorang remaja pada sang mama yang tengah mengobrol dengan temannya.
Niat hati mau ke toko buku sendiri, tiba-tiba malah ditebengi sang mama yang sama-sama mau pergi ke mall yang sama.
"Iya sayang. Maafin mama ya, mama sudah mengganggu acara kamu."
"Arya pamit ma. Arya pergi tante." pamit Arya pada sang mama dan temannya tanpa senyuman dari bibirnya.
"Anak itu, kapan senyumnya akan kembali lagi?" Gumam sang mama yang masih didengar teman disebelahnya.
"Memang Arya kenapa jeng?" Kepo dia.
"Ah, tidak apa jeng. Biasalah anak muda. Dulu Arya sempat suka sama teman sepermainannya, tapi harus kandas karena kami sekeluarga harus pindah."
"Oh itu, nanti kalau sudah ketemu sama yang baru juga akan bisa senyum lagi jeng. Tenang saja." Teman mama Arya menenangkan.
"Iya jeng. Semoga saja."
****
Arya berjalan menuju toko buku yang dimaksud. Sampai didepan pintu, tiba-tiba tubuhnya kaku mematung melihat seseorang yang dia kenal. Walaupun sudah 4 tahun berpisah, Tapi Arya masih ingat betul bagaimana wajah orang itu.
Gadis yang selama ini terus saja menghantui hati dan pikirannya. Hatinya merasa sakit, melihat tangan gadis itu ada dalam genggaman laki-laki lain.
"Alee." bisiknya yang hanya bisa didengarnya sendiri.
Kakinya melangkah mengikuti kemana gadis itu pergi. Arya melihat semua apa yang dilakukan gadia yang dicintainya itu. Melihat gadia itu kerepotan memilih buku, alat tulis, cat warna yang diinginkannya.
Senyum Arya mengembang, "Kamu masih suka melukis Le." Gumam Arya yang sudah ada didekat Gadis itu.
"Ini." Arya mengambil dan menyerahkannya pada gadis tercintanya.
"Makasih Za_" Ucapan gadis itu terpotong setelah menoleh dan tahu siapa yang mengambilkan sesuatu yang dimintanya.
"Kamu??" Ucap Leona mundur selangkah dari tempat awalnya berdiri, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang dilihatnya ini bukan mimpi. Ya, gadis yang dimaksud Arya adalah Aku, Zara Leona Arthur.
"Alee..." Panggil Arya.
"Ar Arya." Ucapku lirih. Aku tidak tahu seperti apa hatiku saat ini. Rasa rindu, senang, sedih, kecewa, bahagia semua bercampur jadi satu. Semua memory masa lalu kembali berlarian diotakku. Mengajakku kembali mengenang semuanya hanya dengan melihat muka Arya didepanku.
Dari semua sahabatku, hanya Arya yang memanggilku dengan panggilan Alee. Katanya dulu itu singkatan dari nama kami. Arya-Leona.
"By, sudah semua?" Panggilan Zayn yang berjarak sekitar tiga meter menyadarkanku dari lamunanku.
"A ah, iya Zayn. Sudah semua." Jawabku gugup. Entah apa ini? Aku seperti terpergok kekasihku yang tengah berjalan dengan pria lain.
"Ini nomor kontakku. Aku mohon hubungi Aku." Ucap Arya seraya menyelipkan sesuatu disaku jaketku.
Tanpa menjawab ucapan Arya, Aku langsung berjalan kearah Zayn. Saat hendak melangkah keluar, spontan Aku menoleh kearah Arya yang masih terdiam ditempatnya. Saat mengetahui Aku menoleh kearahnya, senyum Arya terkembang. Rasanya hatiku kacau. Aku tidak tahu lagi apa yang ada diotakku. Jika dibayangkan seakan-akan isinya semua benang kusut.
"By, kita jadi nontonkan?" Tanya Zayn saat kami sudah keluar dari toko buku.
"Maaf Zayn, tiba-tiba badan Aku nggak enak. Kita pulang saja ya."
"Kamu sakit? Kita ke dokter saja ya."
"Nggak usah Zayn. Aku cuma butuh istirahat saja."
"Ya sudah kalau gitu. Aku antar kamu pulang." Pasrahnya. Aku tahu, Aku yakin kalau Zayn menyadari sesuatu. Zayn bukanlah pria bodoh. Tapi Aku salut pada dia yang tidak menuntut apapun saat ini.
"Makasih." Yang Aku butuhkan saat ini hanya ketenangan.
****
"By, bangun sayang. Kita sudah sampai." Panggil Zayn saat mobil sudah melewati pagar rumahku.
"Emh, maaf Zayn. Aku malah ketiduran."
"Nggak apa sayang. Kamu pasti cape'. Masuk langsung istirahat ya. Maaf, Aku nggak bisa mampir. Ini juga sudah malam. Salam saja buat mama Kamu."
"Iya, Aku masuk dulu ya Zayn."
"By,." Panggil Zayn sebelum Aku membuka pintu mobil.
"Ya," Aku menghentikan gerakanku dan kembali menatap Zayn.
Cup
Satu kecupan mendarat dikeningku cukup lama. Zayn mengelus puncak kepalaku halus.
"Good night."
"Good night sayang." Balasku. "Aku turun ya."
Dibalas dengan anggukan kepala olehnya. Sebelum masuk, Aku pastikan mobil Zayn sudah keluar dari halaman rumahku. Baru Aku masuk dan kembali ke kamar untuk istirahat.
***
Maaf untuk setiap Typo ya...
please kasih dukungan like & komentnya...