
Hari berganti bulan, terhitung sudah dua bulan ini Aku dan Zayn resmi menyandang status pacaran. Di sekolah kami masih bersikap selayaknya. Tidak begitu romantis dan tidak juga saling menghindar. Agenda rutin, yang setiap istirahat kedua Aku menemani Zayn makan di kantin. Sudah jadi kesepakatan kami, kalau untuk istirahat pertama adalah waktuku untuk SDPku dan Zayn bebas dengan teman-temannya.
Selama dua bulan ini pun kami merasa enjoy dengan semuanya. Merasa tidak ada yang mengekang dan dikekang. Aku pun juga sedikit senang, karena setidaknya Zayn tidak terlalu posesif denganku. Walaupun sesekali Zayn menunjukkan perhatiannya.
Statusku di Moonlight Shadow juga masih aman, mulai dari malam itu setiap Zayn mengajakku untuk datang menonton mereka, aku selalu punya alibi yang cukup masuk akal.
Hari ini sepulang sekolah Zayn mengajakku ke suatu tempat. Zayn memintaku untuk berboncengan saja. Jadi tadi pagi Aku meminta sopir rumah untuk mengantarku sekolah.
Disinilah Aku, menunggu Zayn di sudut tempat parkir sekolah. Zayn mengabariku kalau dia akan ke toilet sebentar sebelum pulang.
Anak-anak SDP yang lain juga sudah pulang, sebelumnya aku juga sudah bilang pada semuanya kalau hari ini aku mau jalan dengan Zayn. Mereka selalu mewanti-wanti aku untuk selalu hati-hati. Mereka tahu dan akupun sadar, di luar sekolah dan di luar status pacar kami. Aku dan Zayn adalah rival di lintasan. Dan Zayn belum tahu tentang itu.
"Baby, maaf ya buat kamu nunggu lama." terdengar suara yang sangat aku kenal.
"Ah, it's okey Zayn." 'apa itu, baby? sejak kapan dia memikirkan panggilan itu? geli sendiri aku dengarnya.' ucapku tercekat di tenggorokan.
"Ya sudah yuk, keburu kesorean nanti." Ucap Zayn, segera dia menaiki motornya dan memberikan Helm yang sudah disiapkannya.
Aku menerima helm yang disodorkan Zayn padaku. Sebelum aku berhasil menerima helm itu seutuhnya, Zayn menarik tanganku untuk lebih mendekat. Tanpa sadar, aku pun menurut saja.
"Sini, biar aku pakaikan." lirihnya lembut seraya mengarahkan helm ke kepalaku.
serrr.....
Tidak tahu kenapa, hatiku berdesir dengan perlakuan lembut Zayn kali ini. Tidak seperti sebelum-sebelumnya yang terkesan sedikit memaksa. Kali ini Zayn lebih menunjukkan kesan ketulusan.
Aku berusaha terus menyadarkan diri, otak dan hatiku agar tidak terbuai dengan perlakuannya ini.
"Sudah."
"Terima kasih Zayn." ucapku berbisik yang masih bisa didengarnya.
"Sama-sama. Cepetan naik, jangan lupa pegangan." Lagi-lagi nada lembut yang keluar dari mulutnya. Ada yang aneh dari Zayn.
"Hm..."
"Aku bilang pegangan, kenapa cuma nyubit seragam." Ucapnya yang langsung menarik kedua tanganku untuk melingkari perutnya.
Aku terdiam. Berusaha mencerna semuanya.
"Kita berangkat, jangan dilepas." ucap Zayn terdengar seperti perintah, sedang tangan kirinya masih senantiasa memegang kedua tanganku yang ada di perutnya.
"Ya sudah, lepas tangannya. Emangnya kamu bisa cuma pakai tangan satu?"
Tanpa berdebat lagi Zayn melajukan motornya keluar sekolah.
"Zayn kita mau kemana? Ini sudah setengah jam lebih kita jalan. Emang mau kemana sih? masih jauh ya?" teriakku di samping telinga Zayn.
Benar juga, tidak sampai sepuluh menit Zayn menghentikan motornya di pinggir jalan yang sepi.
"Zayn, ini benar kamu berhenti di sini? Kamu nggak lagi mau ngerjai aku kan?"
"Ini benar baby, aku mau ngasih kejutan sama kamu."
"Kita jalan keatas sedikit ya. Kejutannya ada di atas."
"Awas saja ya kalau kamu macam-macam."
"Nggak, percaya sama aku. Aku akan balikin kamu utuh tanpa lecet sedikitpun."
kami berjalan menyusuri jalan setapak. Akhirnya sampai juga di atas bukit.
"Kamu lihat kesana, apa yang kamu rasakan." Tunjuk Zayn pada hamparan sawah terasiring yang menghijau didepan dan hamparan kabut tipis yang sedikit menyelimutinya.
"Damai" satu kata berhasil lolos dari mulutku.
"Tengok sebelah kanan kamu baby." utusnya. Aku menurut begitu saja. Dari kejauhan terlihat puncak gunung yang berdiri megah dihadapanku. Tanpa sadar ujung bibirku melengkung keatas melihatnya.
"Bagaimana?"
"Indah Zayn." Ku alihkan pandanganku ke arahnya.
"Terima kasih sudah membawaku kesini." ucapku tulus karena aku juga merasakan ketulusan di hati Zayn.
"Satu lagi, ikut aku ya." ajaknya segera menyambar tangaku untuk digandengnya.
"Kamu lihat itu?" tanyanya menatap sebuah rumah pohon tak jauh dari dihadapan kami.
"Rumah pohon?"
"Iya, dan itu aku buat khusus untuk kamu dan aku."
"Kamu yang buat?" tanyaku tidak percaya.
"Desaignnya aku yang buat, tp aktualisasinya aku nyuruh tukang. Nggak mungkin juga aku ngebuat ini sendiri baby." lagi-lagi panggilan itu ku dengar hari ini.
"Kirain." ucapku yang masih menyangkal perasaan bahagia yang ada di hatiku.
"Yuk masuk, kita lihat hasilnya."
* segino dulu ya sayang... please dukungannya ya... gratis lho.