
"Le, mau pylang dulu apa langsung ke sekolah?" Tanya Zaydar yng siap selesai lebih dulu.
Akhirnya kami memutuskan menginap di markas. Bukan kami, tepatnya Aku karena keempat tim gesrek ini sudah berniat dari awal untuk menginap.
"Langsung ke sekolah saja. Gue juga sudah bilang sama mama. Disini juga ada seragam, soal buku Gue sudah persiapan."
"Le, bentar lagi kalau ada yang mencet bell itu berarti sarapan kita yang datang. Lo tolong bukain pintu ya." Sergah Ando yang melihat Aku dan Zaydar yang sudah siap di ruang tengah.
"Berani banget Lo nyuruh-nyuruh Gue?"
"Ya elah Le, masak gitu saja Lo protes sih."
"Iya iya. Tumben banget Lo DO? biasanya juga sarapan dikantin."
"Sekali-kali mumpung lagi pada ngumpul. Bengkel lumayan rame, jadi ada uang sisa."
"Dih, gayanya uang sisa!" Cebikku.
Setelah perdebatan kecil yang terjadi, Andopun kembali masuk kamarnya untuk siap-siap. Di markas ada lima kamar. Tapi lebih sering hanya dua kamar yang terisi. Aku jelas satu kamar sendiri. Sedangkan keempat cowok somplak itu lebih suka tidur bareng satu kamar. Tahu sendirilah, apa maksudnya. Biar bisa main plus ngobrol sampe pagi.
Benar saja, tidak berselang lama suara bell berbunyi.
"Biar Gue saja." Zaydar memang yang paling pengertian. Aku jadi teringat peringatan Zayn kalau Zaidar menyimpan rasa untuk Aku.
"Ya udah. Makasih ya."
Satu per satupun keluar dengar seragam acak adul mereka yang masih terlihat sopan.
"Wihh, pesanan datang nih. Sering-sering gini Do." Dirga yang sudah tidak sabar langsung saja mengambil siomay untuknya.
"Lo juga sering-sering doain bengkel biar rame terus." jawab Ando seadanya.
"Kurang rame apa? montir sepuluh tiap hari nggak ada yang nyantai tiap jam kerja."
"Benar tu." Arga membenarkan ucapan Dirga.
"Sudah, ngapain pada ngeributin bengke sih. Makan ya makan saja. Keburu telat nanti." Sudah pasti kalimat itu keluar dari mulut Zaidar.
Bicara soal bengkel Ando dan markas, memang terletak di alamat yang sama. Semacam komplek dalan komplek. Bengkel terletak paling kanan dengan bangunan yang terluas beserta onderdil dan alat-alat perbengkelannya yang menyita tempat. Ke kiri sedikir setelah bangunan itu, terdapat markas utama yaitu markas untuk semua anak-anak moonlight shadow berkumpul. Ada juga beberapa kamar untuk mereka tinggali dan ruang pribadiku.
Terakhir, bangunan paling ujung. Bangunan ini bangunan privasi kami berlima. Berenam kalau Nena mau ikut ke markas. Dan ditempat inilah sekarang kami berada.
Didepan markas dan markas pribadi, ada bangunan memanjang dari ujung ke ujung. Itulah garasi kami. Tempat berbagai motor pribadiku dan motor beserta mobil hasil balapan dan motor anggota MS yang lain.
Di sekolah
"Guys, pada lihat nggak ada murid baru."
"Iya, Gue lihat. Meni bening banget."
"Yang mana sih? Kok Gue belum tahu ya."
Sayup-sayup terdengar celotehan siswi-siswi bergosip. Melihat ekspresi mereka bisa dipastikan kalau murid baru itu seorang cowok.
"Murid baru Le." Celetuk Dirga tiba-tiba.
"Apa? Mau nyari gosip baru?." Bukan Aku yang menjawab tapi Nena.
"Cih si Nene, tahu aja isi hati abang."
"Abang, Abang bakso maksud kamu?"
"Bukan nyari gosip Nena sayang. Sudah pasti gosip itu sudah lebih dulu sampe ditelinga Si biang gosip Dirga." Ucap si playboy dengan rayuannya. Siapa lagi kalau bukan Agra Argantara.
"Tahu nggak nama murid baru itu siapa?" Tanya Dirga antusias.
"Ya belum lah oon. Kan belum kenalan. Belum lihat juga orangnya kayak apa." Ando bersuara. Aku dan Zaydar hanya diam mendengarkan.
"Nama dia Arya." Mendengar nama yang terucap dari Dirga, sontak Aku kaget.
"Dia juga bakal masuk kelas kita." Tambahnya. Aku semakin tidak karuan dan Nena melihat perubahan dalam diriku.
"Le." Satu kata yang Nena ucapkan seakan menyadarkan semua. Kelimanya menatapku. Aku tahu apa yang mereka pikirkan.
"Itu memang Dia." Ucapku seraya mengangguk.
"Kemarin nggak sengaja ketemu." Jawabku singkat.
"Jadi ini yang mau kamu ceritain ke Aku?" tanya Nena. Aku hanya bis mengangguk tanpa kata.
Bell masuk berbunyi. Benar saja, seorang siswa mengekor di belakang guru yang masuk ke kelasku.
Aku mengenalnya. Saat mata kami bertemu, Arya tersenyum menampilkan senyum tulusnya. Sedikit senyum juga terulas dibibirku. Beda dengan keempat penjaga didepanku ini. Mereka memasang muka garang tak bersabahat pada Arya.
Arya tidak mengenal mereka, mereka hanya mendengar ceritany dari Aku dan Nena. Sebab, Arya pergi sebelun Aku mengenal keempatnya.
Saat Arya pergi, kami baru kelas Satu SMP. Bersamaan dengan kepergian Arya, Aku juga ikut pindah sekolah. Disekolah baru itu Aku bertemu Agra, Zaydar dan Dirga. Untuk Ando, Aku mengenalnya dijalan. Setelahnya, Aku mengajaknya untuk ikut sekolah bersama kami. Kata orang, The power of Duit itu memang benar. Dengan mudah Aku bisa membawa Ando. Tentunya tanpa orang curiga. Bermula dari itu pertemanan kami. Dari berbagi masalah dalam keluarga, berakhir menjadi keluarga tanpa KK yng solid seperti sekarang.
"Le, mau ke kantin apa basecamp?" Ando bicara
"Mau ke toilet."
"Ooow.. Mulai lemot nih bocah." Memang cuma Ando yang berani terang-terangan mengejekku begini. Dia tahu, disaat begini memang celetukan unfaedah yng Aku butuhkan.
"Maksudnya, habis Lo dari toilet. Lo mau ke kantin saja apa mau ngadem di basecamp?" Agra menimpali dengan sabar dan senyum.
"Nah, gitu dong jelas."
"Iya, jawabannya apa? keburu penuh nih kantinnya." Kesal Ando.
"Lo lagi PMS atau apa sih Do? Sewot amat." Jawabku.
"Masalahnya ini jatah Gue yang ngantri."
"Pantesan."
"Jadi mau kemana?"
"Basecamp saja deh. suntuk Gue."
"Dari tadi kek. Ngapa mesti drama juga. Ayo Ga Lo temenin Gue." Ajak Ando menyeret Dirga.
"Kok ngajak Gue Do, kan biasanya Lo sam Agra."
"Lo mau dengar gosip nggak?"
"Ya mau lah."
"Ya sudah. makanya ikut."
****
"Ale,..." Saat keluar dari toilet, tanganku dicekal oleh seseorang. Dari bahasanya memanggilku, Aku sudah bisa menebak Dia siapa.
Aku terdiam ditempat sampai Dia kembali berkata.
"Kita perlu bicara Le."
"Nggak sekarang Ar." Aku masih belum berani menatapnya
"Kapan? Kenapa kamu nggak menghubungiku?" Cecarnya.
"Aku lupa Ar."
"Okey, bisa kita bicara?"
"Nanti Aku hubungi kamu." Ucapku.
"Benar ya, Aku tunggu."
"Lepasih Aku Ar, Aku mau makan sama Anak-anak."
Arya, Ya. Dia Arya Mulia Duhita.
"Okey, kamu baik-baik ya. Jangan makan yng pedea-pedes. takut perutnya sakit." Ucapnya perhatian. Jujur Aku kembali tersentuh. Tapi seperti ada sesuatu yang membentengiku.
**** Please vote like & komennya ya... lebih lebih ngasih bunga&kopi.