ZaLea

ZaLea
Aku yang terlalu cinta atau Dia yang terlalu nggak peka?



Zayn prov


Mataku mendadak panas setelah tadi kulihat dengan mata kepalaku sendiri, kalau gadis yang notabenenya kekasihku sendiri begitu antusias ketika mendengar sahabatnya tengah memasak didapur.


Begitu spesialkah dia? Sehingga gadis itu melupakan kekasihnya yang juga berada disitu.


Lebih membakar hatiku ketika Aku melihat adegan yang memicu amarah. Bagaimana tidak? Aku melihat kekasihku suap-suapan dengan laki-laki lain di depan mataku. Walaupun Aku tahu siapa laki-laki itu di mata kekasihku. Tetap saja hatiku tidak dapat menerima semua itu begitu saja.


Amarahku memuncak ketika dia terlihat biasa-biasa saja ketika sudah menyadarinya. Demi apapun, detik itu juga ingin rasanya Aku menumpahkan semua kekesalan dan amarah dalam hatiku. Tapi untungnya Aku masih sadar diri dan sadar tempat. Aku bergegas meminta ijin pulang pada orang tua kekasihku.


Lebih tidak enaknya lagi, setelah mendengar penjelasan mamanya kalau mereka sudah biasa seperti itu. Itu menandakan kalau hal ini bukan baru sekali ini terjadi. Bahkan mungkin sering mereka lakukan saat sedang bersama.


Hati dan pikiranku semakin kacau, Segera Aku keluar dari rumah itu. Berbagai spekulasi menghantui otakku. Aku coba menepisnya.


Markas Darknight yang Aku tuju. Sudah pasti ketiga temanku ada disana. Semalam mereka mengajakku untuk nongkrong bareng dan berakhir mereka menginap di markas.


Braakkk...


"Amsyong Gue amsyong."


"Bujuk emak bapak."


"Aduuh biyung..."


Pekikan anak-anak yang menginap di markas yang terkaget dengan gabrakan pintu yang Aku buka paksa dengan keras.


"Ton, Lo bertiga ikut Gue ke ruangan." ucapku pada Anthony tanpa melihatnya. Begitupun Aku yang langsung masuk keruangan khususku.


"Ada apa sih?"


"Mana Gue tahu."


"Bukannya Si boss katanya mau ke rumah ceweknya ya?"


"Kok balik sendiri?"


"Berantem kali."


"Njiir, serem gila."


"Shuttt, diam Lo semua. Mau kalian ikut kena amukan si boss?" Tanya Anthony.


"Big NO..." jawab semuanya.


"ANTHONYYY...." Teriakku dari dalam ruangan. Emosiku belum bisa ku


kendalikan sepenuhnya.


Cekleekk...


"Ada apa sih boss? Datang-datang langsung marah-marah gitu?" Ucap Anthony setelah menutup pintu.


"Hmmhhh...." Helaan nafas panjang ku hembuskan dengan harapan sedikit meredakan sesak yang menghimpit dada.


"Cerita bro, walaupun nggak bisa bantu. Setidaknya kita bisa jadi tempat sampah buat nampung masalah Lo." Timpal Ridho dan diangguki Alvin.


"Nggak kuat Gue. Gue lihat dengan mata kepala Gue sendiri, Zara suap-suapan sama Zaydar."


"Hah, cuma suap-suapan boss. Bukan berarti dia selingkuh dari Lo." Anthony mencoba meredakan emosiku.


"Lebih nyesek lagi, mamanya bilang ini bukan pertama kali. Berartikan mereka melakukannya lebih dari sekali. Itu yang terlihat mereka. Bagaimana yang tidak terlihat?" pekikku dengan suara tinggi. Tiba-tiba saja Aku tidak bisa berpikir jernih. Pikiranku kalut, selalu berputar-putar terbayang adegan yang tidak-tidak saat mereka hanya berdua.


"Aaduuhh.. Lo apaan sih Vin. Sakit tahu." Keluhnya saat Alvin menonyor kepala Ridho keras.


"Jangan jadi bahan bakar dalam kobaran api."


"Gue cuma nanya. Dari cerita Zayn, berarti mereka sedang beradegan seperti di drama-drama yang ditonton Livia."


"Dasar Lo, nggak laki nggak ceweknya sama saja. Korban drama."


"Gue bukan korban drama, cuma ngapel plus nemenin dia nonton saja." Kilah Ridho.


"Kenapa jadi bahas drama yang ditonton Livia sih? Ini tuh antara Zara sam Zaydar bukan drama cowok-cowok cantik itu elah." Geram Ridho.


"Lo kali yang bawa-bawa Livia."


"Jadi Lo mau gimana sekarang Boss?" Tanya Anthony setelah sekian lama mendengar perdebatan antara Alvin dan Ridho.


"Gue masih belum tahu. Gue masih pusing." Ku rebahkan tubuhku pada sandaran sofa dan kupejakan mata.


Drtt... drtt.. drrtt.... dering ponselku berbunyi. Ketiga temanku itu hanya melirik tak berani menegurku. Hingga deringan ketiga baru ku tengok. Terlihat nama My baby calling. Pikiranku masih tak karuan. Ketiga kalinya kuabaikan panggilan itu.


Beberapa menit kemudian terdengan bunyi notifikasi massage dari orang yang sama. Karena penasaran apa isinya, Akupun membukanya.


Aku sedikit tersentak dengan isi pesan dari gadis pujaanku itu. Disini Aku yang sakit hati. Disini harusnya Aku yang marah tapi membaca pesannya Aku jadi tidak habis pikir dengan jalan pikirannya.


"Disini Aku yang terlalu sayang atau Dia yang terlalu tidak peka? Entahlah." pikirku menghela nafas.


"Kenapa Zayn?" Tanya Anthony hati-hati.


"Zara nyuruh Gue menemui Dia di cafe nanti sore." Jawabku.


"Ya sudah, lebih baik dengar dulu penjelasan Zara. Jangan main ambil kesimpulan sendiri. Daripada nanti Lo menyesal." Balas Anthony.


"Thank's bro. Berkat kalian Gue lebih tenang."


"Zara minta bertemu kapan?"


"Nanti sore, Zara nunggu Gue di ZaLA cafe."


"Mau sendiri apa kita antar?"


"Gue sendiri saja."


"Kalau gitu kita keluar dulu. Lo tenangin pikiran saja dulu."


"Ok, thank's sekali lagi."


"Santai bro, kayak sama siapa saja." Jawab Anthony seraya mengajak Alvin dan Ridho yang setia menjadi pendengar percakapanku dengan Anthony.


Saatnya Aku mencerna semua situasi mulai dari awal Aku mengenal Zara sampai kejadian tadi pagi. Tanpa terasa Aku terlelap dalam lamunanku. Hingga sore menjelang.


Setelah kesadaranku kembali, Aku bergegas membersihkan diriku dan bersiap menuju ZaLA cafe.


ZaLA CAFE


Sesampai di ZaLA cafe, ku parkirkan motorku. Ku atur nafas dan Ku tata hatiku agat tidak meledak saat nanti bertemu Zara.


*** Please dukungannya ya besty, maaf juga kalau typo bertebaran. See you next chapter