ZaLea

ZaLea
Cemburumu lucu



Tak tak tak, bunyi sandalku menggema ketika aku menuruni tangga. Disusul ketiga temanku dan Zayn yang mengekor di belakang mereka.


Dapur adalah tempat yang aku tuju. Begitu mendengar kalau Zaidar berada di dapur, cacing dalam perutku langsung memanggil. Berdemo meminta segera diisi.


Ya, dapur adalah tempat Zaidar mengekspresikan bakat terpendamnya. Tidak banyak yang tahu kalau Zaidar lihai dalam hal memasak.


Seringnya ditinggalkan orang tua keluar kota atau keluar negeri membuatnya menjadi pribadi yang mandiri. Walaupun dirumahnya ada asisten rumah tangga, dia tidak serta merta menyuruh asisten rumah tangganya untuk mengerjakan semua yang dia butuhkan. Zaydar juga termasuk salah satu anak yang santun. Sebenarnya kami berlimapun juga santun. Kami juga tidak pernah membangkang. Sesekali bolehlah. Mungkin hanya Arga yang sedikit berbeda.


Arga yang memiliki kehidupan broken home, ditinggal mamanya yang b***h diri karena memergoki papanya yang tengah bersama dengan wanita lain sedang beradegan dewasa membuatnya sedikit banyak membenci papanya. Sering kali ketika bertemu, hanya ada pertengkaran dan bentakan dari keduanya.


Tidak jarang juga Arga menginap dirumah Zaydar. Menurutnya, tempat ternyamannya adalah markas, rumah Zaydar dan terakhir Cafe ZaLA.


Dibalik sifat kocak dan stempel playboy yang melekat pada dirinya, hanya anak-anak SDP yang tahu cerita pilu dari hidup Arga.


Sebagai anak dari salah satu pengusaha kaya di negeri ini tidak menjadikan seorang Agra Argantara menyombongkan diri dengan nama besar papanya. Bahkan Arga terkesan menyembunyikan statusnya dari semua orang. Siapa yang tidak tahu Demian Dewangga. Duda kaya yang menyandang status CEO perusahaan terkenal.


Setiap kali ada even yang membuat pengusaha berlomba-lomba mengenalkan anak-anak mereka, Arga selalu mempunyai banyak alasan. Tidak ada satupun media yang memiliki foto dirinya yang menujukkan sebagai anak seorang Demian Dewangga.


Satu lagi informasi, Arga juga seorang hacker handal. Jadi jika ada sesuatu yang membuatnya terusik, tangan dinginnya langsung bertindak. Paket komplit bukan? Dari kami berenam memiliki bakat masing-masing.


"Zay, Lo masak apaan? Kenapa nggak bilang Gue kalau Lo mau masak pagi ini? Kalau tahu Lo mau menguasai dapur rumah Gue, Gue bakal nyuruh asisten rumah Gue beli apapun yang Lo butukan." Pekikku yang tengah berjalan kearah dapur. Ku lihat disana sudah ada Zaydar dan mama dengan apron yang menggantung di leher masing-masing.


"Dek, kalau bangun tidur itu cuci muka dulu. Dirapikan dulu rambutnya. Nggak sadar apa? itu rambut sudah kayak singa mau beranak." Potong mama.


"Apaan sih ma, pakai bawa-bawa singa beranak segala."


"Gimana nggak kayak singa tante, pas kami keatas Leona lagi ____" belum juga Dirga menyelesaikan ucapannya, kakinya langsung diinjak oleh Ando.


"Aaww, Lo apaan sih Do? Kaki Gue sakit Lo injek." Gerutu Dirga


"Lihat kondisi kampret." bisik Ando melirik le arah Leona yang sedang melotot kearahnya.


"Sorry bro, keceplosan Gue." balasnya ikut berbisik.


"Ck, dasar lemes." Gumamnya.


"Masak apa Zay?" Tanyaku berjalan mendekati Zaydar.


"Wiihhh, spagetty kesukaan Gue." Girangnya aku setelah melongok piring didepan Zay.


Sedetik itu juga Zaydar langsung mengambil garpu dan menyendok mengarahkannya ke mulutku.


Tanpa pikir panjang Aku reflek membuka mulut dan menerima suapan dari tangan Zaydar.


"Hm... Enak Zay, tangan Lo nggak berubah."


"Nggak berubah karena Gue sering Buat Le." Terang Zaydar yang tangannya masih saja menyuapiku. Tanpa menghiraukan orang-orang disekitar kami, adegan itu terus berlanjut hingga sebuah deheman menyadarkan kami."


"Eheem, enak ya suap-suapan! Nggak sadar yang disini bau gosong?" Seloroh Dirga si biang Lemes.


"Hm, tante Zayn pulang dulu ya tan. Kayaknya Zara lagi nggak mau Zayn ganggu."


"Eh, nak Zayn kenapa gitu? Nggak apa, Leona emang biasa begini sama Zaydar kalau mereka lagi di dapur." Mama mencoba menjelaskan yang sadar dengan situasi saat ini.


"Zayn ngerti kok tan. Zayn permisi dulu. Assalamualaikum." Ucap Zayn dan berlalu setelahnya.


"Idih, kenapa tuh orang?"


"Le, Lo nggak peka apa pura-pura nggak peka sih?"


"Cih nih anak, udah gede tapi masih be*o soal cinta."


"Leona sayang, Lo itu buta mata apa buta hati sih?" Ucap ketiganya bergantian.


"Si Zayn CEM-BU-RU Le... Lihat Lo suap-suapa sama Zaydar. Mana adegannya Uwwu banget lagi." Arga menjelaskan.


"Dengerin noh si pakar cinta." Dirga menimpali.


"Emang gitu ya ma?" tanyaku kearah mama dan diangguki olehnya.


"Sorry Le, gara-gara Gue Zayn jadi salah paham sama Lo." Ungkap Zaydar merasa bersalah.


"Sudahlah Zay, bukan salah Lo juga. Zayn saja yang terlalu sensitif. Ntar juga baik lagi."


"Kejar sayang, kasihan nak Zaynnya. Pulang dengan wajah kecewa gitu." Bujuk mama.


"Tanggung ma kalau ngejar sekarang. Zayn pasti sudah tancep gas."


"Terserah kamu saja dek. Tapi kamu harus jelasin semua sama nak Zayn. Kalau gitu mama ke kamar dulu. Kalian lanjut saja sarapan. Jangan tunggu mama. Mama lagi diet." ucap mama dan pergi kearah kamar utama.


"Emang tante Viona kurang sexy apa sih? Badan sudah aduhai gitu masih saja suka diet." Gumam Arga yang masih bisa ku dengar.


"Lo ngomong apa Ga? Mau Gue aduin ke papa dan abang Gue."


"Ampun nona, nggak lagi-lagi." Balasnya.


"Sudah-sudah, yuk sarapan." potong Zaydar.


"Widih, sudah pada ngumpul semua nih." ucap Nena yang baru muncul.


"Gabung sekalian Ne, kita sarapan bareng."


"Iya, eh Le Aku kayaknya lihat motor Zayn tadi. Benar nggak sih dia habis dari sini?"


"Yah, Lo telat Ne. Disini tadi habis ada kebakaran." Sarkas Dirga.


"Apaan sih Dir, jangan mulao lagi deh. Ntar habis Lo sekua cabut, Gue jelasin sama dia."


"Ya sudah, yuk makan. Aku juga sudah lapar."


"Emang Lo dari mana Ne?" Ando angkat suara.


"Tadi jogging keliling komplek."


"Tuh, dengerin Le. Jadi cewek tu bangun pagi. Bukannya kayak Lo. Matahari sudah tinggi, Lo baru bangun."


"Lo berani nyeramahin Gue Dir?"


"Ampun Nyonya, say khilaf."


"Ini kalau pada ngomong terus, kapan sarapannya?" Ando yang sudah tidak sabar lebih dulu mengambil sarapan untuk dirinya.


Sepeninggal anak-anak SDP, Aku kembali ke kamar dan mencoba menghubungi Zayn.


Satu kali dua tiga kali panggilanku diacuhkan olehnya. Aku tahi, Zayn mungkin masih marah sama Aku. Aku sadar, sebagai seorang pacar tindakanku tadi memang memicu amarahnya. Setelah mencoba menelepon tapi tidak diangkat, Aku memcoba mengirim pesan padanya.


"Kalau masih mau hubungan kita berlanjut, Temui dan dengarkan dulu penjelasanku. Setelah itu baru kamu putuskan kelanjutan hubungan kita. Aku tunggu sore ini di ZaLA. Langsung saja ke ruanganku." Bunyi pesan singkat yang Aku kirimkan tanpa basa-basi.


Pesan yang Aku kirimkan terkirim dan centang biru nampak di ponselku. Artinya Zayn telah membacanya. Namun Aku tunggu Tidak juga ada balasan darinya.


"Cemburu lucu Zayn." Gumamku sembari meng*lum senyum."


*** Maaf sekali lagi kalau ada typo ya besty. Saya tunggu dukungan kalian. Dukungan kalian semangat buatku.