ZaLea

ZaLea
Kepergok



"Dek, bangun sayang. Ada nak Zayn tuh di bawah." teriak mama membangunkanku.


"Suruh pulang saja mah, Adek masih ngantuk. Lagian anak-anak juga belum ada yang bangunkan?." Pekikku dari dalam kamar.


"Dih nggak sopan dek. Sudah dibela-belain nak Zayn kesini masa sampai sini malah kamu suruh pulang.


"Aduh mamah, beneran deh. Adek masih ngantuk banget. Bilangin maafnya adek sama dia ya."


"Ya sudah kalu adek nggak mau keluar. Biar nak Zaynnya yang mamah suruh naik ke sini." Balas mamah yang sudah ngacir kebawah.


"Gila ini mamah gue, masa anak gadisnya mau diserahin gitu saja sama bujang sembarangan." batinku.


"Nak Zayn, Leonanya belum mau bangun. Semalam mereka tidur larut sekali. Ini yang lain juga belum ada yang bangun. Nak Zayn naik saja ya. Coba bangunin kali saja dia mau bangun kalau nak Zayn yang bangunin." tutur mamah lembut khas logat ibu-ibu yang sayang anaknya saat tiba di depan Zayn.


"Eh, nggak apa nih tante?"


"Nggak apa-apa. Tante percaya kok sama nak Zayn."


"Jadi yang lain juga nginep disini semua tante?"


"Iya, semua. Nggak ada yang tertinggal. Mereka kemana-mana selalu bersama. Sudah selayaknya saudara sekandung."


"Kalau gitu Zayn coba keatas dulu tante."


"Kamar Leona yang pintu navy ada gambar kepala singanya nak Zayn." Ucap mamah mengingatkan.


"Iya, terima kasih sudah diingatkan tante."


Setelah mamah turun, aku kembali merebahkan tubuhku ke ranjang.


"Sumpah, gue baru tidur 3jam. Itu anak sudah nongol saja dirumah. " Gerutuku.


Tok


Tok Tok....


"By, bangun sayang. Ini aku Zayn. Buka pintunya gih." Pekiknya saat tiba di depan pintuku. Sayup-sayup ku dengar lagi ketokan pintu dan teriakannya.


"Apaan sih Zayn. Ini masih pagi, kamu ngapain pagi-pagi gini kesini?" Akupun ikut teriak dari balik selimut.


"Bangun, buka dulu pintunya by."


Aku yang sudah mulai terusik, setengah sadar terpaksa bangun dan membuka pintu.


ceklek....


"Apaan? Mau apa kesini sepagi ini? Anak-anak saja masih pada molor noh di ruang tengah." Cerocosku yang masih memejamkan mata.


"Segitu ngantuknya ya, Sampai-sampai buka pintu sambil merem gitu?"


"Sudah tahu aku ngantuk, masih saja maksa buat bukain pintu."


"Ya sudah, kalau gitu. Ayo kamu tidur lagi by. Aku temenin."


"Ya Allah by, kamu itu kelihatannya saja sengklek. Tapu nyatanya kamu itu polos banget."


"Apa lagi sih Zayn. Ngedumel mulu. Udah ah, aku mau tidur lagi. Kalau kamu mau ikutan tidur ya tidur saja. Tinggal rebahan susah amat sih?" Gumamku yang sudah hampir menghilang ke alam mimpi.


"Kamu yakin bolehin aku ikut tidur disini by? Nggak takut keciduk orang nih?" Goda Zayn yang sudah ada di atas ranjangku.


Seketika aku tersadah, aku bangun dari tidurku. Menegakkan tubuhku diatas kasur.


"Zayn, kenapa kamu ikutan naik ke ran...."


Perkataanku terpotong ketika ku lihat pintu kamarku terbuka. Seketika itu aku dan Zayn mengarahkan arah pandang kami ke arah pintu kamar. Dan benar saja di sana sudah ada Ando, Dirga dan Arga yang mematung melihat kami berdua yang ada diatas ranjang yang sama.


Melihat rambutku yang masih acak-acakan, kancing piyama tidurku yang terbuka satu dan tidak lupa sebelah pundakku yang terekspose, tentu saja semua itu sudah membuat otak mereka bertiga auto traveling.


"Lele, Lo habis ngapain?" Teriak Dirga yang langsung heboh.


"Zayn, tega Lo ya. Parah Lo." Arga ikutan mendrama.


"Lele, Lo nggak apa-apakan?" Tanya Ando menyendu. Seakan hal buruk tengah terjadi padaku.


"Kalian apaan sih? Nggak usah mikir macam-macam. Itu otak jangan pada traveling duluan. Gue nggak ngapa-ngapain sama Zayn."


"Yakin Le?


"Beneran kalian nggak aneh-aneh?


"Lele, jangan bohong sama kita. Pelakunya sudah ketangkep basah disini. Dia nggak akan bisa ngelak." Saut ketiga sahabatku ini.


Aku tahu, mereka semua khawatir sama aku. Mereka sayang banget sama aku. Tapi mereka semua lupa siapa aku.


"Kalian lupa siapa seseorang yang ada didepan kalian ini? Kalian sadar siapa yang sedang kalian tanya.?" Mereka langsung kicep mendengar ulasanku.


"Sepertinya kita salah mengkhawatirkan seseorang." Jawab Ando, diangguki kedua orang disampingnya.


"Ya sudah Le, maaf kalau kita ganggu. Sebenarnya kita cuma mau pamit pulang." Lanjutnya.


"Lah si Zaydar belum bangun?"


"Sudah, di lagi di dapur sama mamah." timpal Arga.


"Ah, gue jadi lapar dengar Zaydar di dapur. Gue kangen sama hasil tangannya dia." Pekikku yang langsung melompat dari ranjang dan melesat mendahului mereka.


"Yuk ikutan turun. Zayn, lo nggak mau turun? masih mau tidur lagi?" sindir Dirga.


"Ya turunlah. Ya kali gue tidur disini sedangkan orangnya enak-enakan makan di dapur." Jawab Zayn ikut turun meninggalkan kamarku.


#TobeContinued...


Terima kasih sudah setia disini ya besty... jangan lupa jempolnya ya.


see you next chapter..