ZaLea

ZaLea
Kejujuran 2



"Kesalahan apa yang Kamu maksud?" tanya Zayn dengan tatapan dinginnya?


"Kami.. Kam Kami..."


"Kalian ngapain?" Potongnya.


"Arya menciumku." Jawabku lirih hampir tidak terdengar.


"Dan Kamu membalasnya." Raut wajah Zayn masih tanpa ekspresi.


"Maaf." jawabku dengan menunduk.


"Segitu dalamnya perasaan Kamu sama Dia? Bahkan ciumanku tidak pernah Kamu balas By?" Aku tidak tahu, sepertinya hati Zayn mulai melunak karena Zayn sudah mau memanggilku lagi dengan sebutan baby.


"Tidak Zayn. Itu tidak seperti yang Kamu pikirkan."


"Sampai mana?"


"Hng" Otakku ng-blank gays.


"Sampai mana Dia menyentuhmu?"


"Tidak ada, Kami hanya berciuman." Jawabku masih dengan menunduk. Aku jujur bukan? Karena sebelum lanjut ke yang lebih dalam, Aku sudah tersadar.


"Siapa saja?"


"Siapa yang apa?" Sontak Aku mendongak.


"Siapa saja yang sudah menyentuh bibirmu?"


"Maksud Kamu apa Zayn? Aku bukan gadis gampangan yang dengan mudah memberikan dirinya pada seorang pria." Jawabku tersulut emosi.


"Bahkan dengan Kamupun Aku enggan memberinya." Aku kembali lirih.


"Tapi kenapa Kamu dengan mudah memberikannya pada laki-laki itu?"


"Itulah yang Aku bilang kesalahan fatalku Zayn. Maaf."


"Kalau sekarang Aku juga memintanya, Apa Kamu juga akan membalasku?"


"Apa Kamu mau Aku melakukannya dengan keterpaksaan?" Aku balik bertanya pada Zayn.


"Cih,.. Kamu memang sudah tahu jawabanku By."


"Maaf Zayn. Aku tahu itu kesalahanku."


"Sudahlah, selama ini hanya Aku yang selalu berinisiatif lebih dulu. Kemarilah!" Panggilnya dengan merentangkan kedua tangannya.


Aku menurut, menggeser letak dudukku mendekat padanya. Aku peluk erat tubuh bidang itu. Zayn membalas pelukanku.


"Maaf, mungkin selama ini Aku terlalu memaksamu. Aku memaksamu untuk menerimaku.. Aku memaksamu untuk mencintaiku. Mulai saat ini, Aku bebaskan Kamu_"


"Nggak, Aku nggak mau Zayn." Luruh sudah air mataku.


"Hei, kenapa Kamu malah nangis?"


"Aku nggak mau Zayn. Aku nggak mau jauh dari Kamu. Aku mau Kamu selalu disampingku."


"Aku cuma tidak mau Kamu merasa terkekang By."


"Aku sayang Kamu Zayn. Aku nggak mau kehilangan Kamu. Aku nggak mau Kemu melepaskanku." Jawabku masih sesenggukan.


"Aku juga sayang Kamu By, tapi Aku sadar. Bukan hanya Aku yang ada dihati Kamu. Aku hanya mau Membebaskan Kamu untuk memilih."


"Nggak Zayn." Kali ini Aku melepaskan pelukan Kami. Aku sadar sepenuhnya. Nama Zayn secara tidak sadar sudah memenuhi hatiku.


"Nggak Zayn, Itu tidak akan terjadi. Kamu sudah masuk kesini sepenuhnya. Sekarang seenaknya Kamu mau melepaskanku begitu saja?" Aku menggeleng dan menunjuk dadaku sendiri.


"Haha, Jadi Aku sudah berhasil By?" Tanyanya dengan senyum mengembang.


"Berhasil?"


"Ya, Aku sudah berhasil merebut hati Kamu setelah hampir empat bulan."


"Selamat, Kamu sukses meruntuhkan pertahananku." Akupun terkikik mendengarnya.


"Kamu tidak marah padaku Zayn?"


"Marah? Tentu Aku marah By. Laki-laki mana yang rela kekasihnya berciuman dengan Pria lain?" Raut wajah Zayn kembali serius.


"Aku kembalikan semua sama Kamu. Kalau Kamu tidak bisa memaafkan Aku, Aku terima." Yah, wajahku kembali sendu.


"Tapi marahku terbayar dengan semua pengakuanmu By." Zayn kembali memelukku denhan erak.


"Jangan diulangi lagi." Tambahnya.


"Terima kasih sayang."


"Kamu tidak mau memberikan Aku hadiah By?"


"Hengh, Hadiah? Buat apa?" Tanyaku mendongak melihat rahang kokoh yang ada di depanku.


"Sudahlah." putusnya membuang muka.


"Zayn,." panggilku meraih pipi Zayn. Dia menurut menoleh kearahku.


"cup" Ku kecup sekilah bibir manis itu.


"Inikan yang Kamu mau?"


Tanpa menjawab Zayn tersenyum.


"Jaga hati Kamu By. Banyak sekali kumbang yang ingin mendekatimu. Aku takut, Aku kalah saing dengan mereka."


"Asal Kamu tidak pergi tanpa kabar seperti Dia, Kamu tidak akan terganti. Kalau Kamu tidak datang, mungkin Aku masih terbelenggu dengan kisahnya."


"Apa Dia juga bertahan sepertimu By."


"Dia bilang begitu. Makanya Dia kembali untuk menemuiku. Dan karena perasaan masa lalu, Aku terlen_mmpphh" Tanpa aba-aba Zayn menyambar bibi*ku.


Tidak seperti sebelumnya, kali ini Aku merasa lebih rela saat Zayn melakukannya. Tidak mau membuat Zayn kecewa, perlahan Aku membalas perlakuan Zayn. Hanya sebentar. Aku sadar, posisi dan keadaan sekitar.


"Zayn, kita ruang terbuka." Protesku saat pagutan Kami terlepas.


"Tidak masalah baby. Tidak akan ada orang yang melihat."


"Tidak ada bagaimana? Kita ditempat umum. Bagaimana kalau tiba-tiba ada orang yang datang?"


"Itu tidak akan terjadi sayang. Kita di area Villa keluargaku."


"Iya kah?"


"Kamu tidak sadar?"


"Aku cuma merasa disini lebih privat. Aku tidak berpikir sampai ke sana."


"Kita masuk villa, hari sudah mulai senja. Selepas makan malam, Kita pulang."


"Hm."