
"Dek, kamu ke kelas. Abang mau ke ruangan bang Reno ya." Ucap bang Rendra.
"Iya Abang. Dah, adek ke kelas dulu." Ucapku berbalik.
"Dek, ada yang kelupaan!" Teriak bang Rendra.
Aku berbalik dan "Cup" mendaratkan satu ciuman di pipi kanan bang Rendra. Aksi kami benar-benar membuat gempar seluruh sekolah. "Benar juga yang dibilang bang Rendra, aku bakal jadi artis dadakan." Gumamku.
Aku berjalan sendiri, melenggang menuju kelas XI MIPA 2. Aku yakin ke lima sahabatku sudah ada dikelas, karena saat aku sampai motor mereka sudah berjejer ditempatnya.
Tidak aku sangka saat hampir sampai kelas, aku berpapasan dengan Alvin dan kawan-kawannya. Mereka berhenti dan melirikku dengan tatapan aneh.
Sampai saat aku sejajar dengan mereka, telingaku mendengar satu kalimat yang sedikit menggelitik.
"Cih.. Wajah cantik, tapi jadi selingkuhan!" Gumamnya yang masih bisa ku dengar.
Aku berhenti dan berbalik. "STOP" perintahku pada mereka.
"Hai, Zara." Ridho tersenyum ramah.
"Ada apa Za?" Kini Alvin ikut bertanya. Kedua lainnya masih diam tanpa ekspresi.
"Lo ngomong apa barusan?" Tanyaku pada seseorang yang bername tag *Zayn Gibran A*. Aku ingat betul siapa dia tapi yang membuat aku bingung, apa maksud dia ngomong gitu didepanku.
"Jadi Lo ngerasa jadi selingkuhan?" Tantangnya.
"Eh, gue nggak pernah ada urusan sama Lo. Jadi stop komentar buruk soal gue." Tegasku pada dia.
"Kalau emang kenyataannya buruk, Lo mau apa?" Ucapnya yang menampilkan senyum smirk nya.
"Gue ingetin sama Lo. Jangan campuri urusan gue." Tegasku lagi dan beranjak pergi.
"Gue nggak habis pikir, kok bisa ada sih orang kayak dia. Nggak ada angin nggak ada hujan, tiba-tiba bilang gue jadi selingkuhan. Selingkuhan apa coba, pacar aja gue nggak punya." Aku bergumam sendiri hingga sampai dalam kelas.
Brak.
Aku membanting tasku, dengan kesal aku dudukan tubuhku di kursiku. Pagi yang cerah dan bahagiaku dihancurkan begitu saja oleh seseorang yang bernama Zayn.
"Lo kenapa sih Le, datang marah-marah komat-kamit nggak jelas." Tanya Dirga yang ada didepanku.
"Mood gue hancur gara-gara si Zayn kelas sebelah." Jawabku malas. Namun berbeda dengan kelima curut ini. Mereka seketika mendekat seakan mendapat bahan gosip baru.
"Maksudnya gimana?"
" Emang Lo pernah nyinggung dia?"
"Zayn ketua Darknight?" Berbisik.
"Identitas Lo kebongkar Le?" Tanya mereka bergantian. Sedangkan Nena hanya cengo mendengar para cowok itu merepet kayak petasan.
"Kalian kalau disuruh gosip kenapa pada cepat banget sih? Ngalahin cewek tahu nggak" Kini suara Nena yang keluar menampar keempatnya.
"Nggak ada angin nggak ada hujan, dia ngejudge gue jadi selingkuhan orang." jawabku.
"WHAT?" teriak mereka bersama, Nena juga tidak mau ketinggalan.
"Gila kan? Pacar nggak punya, malah dituduh yang nggak-nggak." jawabku masih kesal.
"Sekarang gue tanya sama kalian berempat, siapa yang saat ini lagi punya pacar?" Tanyaku serius.
"Pacar gue si Mendy (motor) Le. Jadi nggak mungkin dia cemburu." jawab Ando.
"Lo playboy kacang?" Tanyaku pada Arga.
"Kenapa gue, gue udah putus sama Sashi dua minggu lalu Le." Ucapnya.
"Berarti Lo Dir?" Semua mata tertuju padanya.
"Apaan, nggak ada. Ya kali gue mau pacaran nggak ijin dulu sama kalian?" Sahutnya cepat.
"Ya sudah lah Le. Nggak usah di pikirkan. Biasanya juga Lo nggak pernah ambil pusing masalah kayak begini." Ucap Zaidar.
Semua diam. "Ya sudahlah. Gue free, gue happy, gue okey. Sekarang gue mau ke atas, kalian ijinin gue jam pertama ya. Bay." Ucapku melenggang ke rooftop.
Saat aku berada di dalam ruangan yang aku sebut markas sekolah, aku mendengar suara orang yang sedang meluapkan emosinya di luar ruanganku.
"Kenapa sih mesti Lo yang ada diantara mereka. Kenapa Lo nggak bisa buka mata Lo. Apa yang harus gue katakan pada ah jie. Gue nggak bisa tinggal diam, melihat saudara gue tersakiti." Samar-samar suara itu terdengar.
"Aku seperti kenal suara ini. Tapi dia siapa ya? Suaranya terdengar familiar ditelingaku." batinku.
Ceklek.
"Ekhem, ternyata Lo. Orang yang teriak-teriak nggak jelas di sini. Kalau mau teriak jangan di sini. Noh dihutan saja sono." Suruhku. Dia tersenyum tapi senyumnya seperti senyum meremehkan.
"Kebetulan ketemu Lo disini. Sejak kapan Lo kenal sama Kak Ananta? Ada hubungan apa Lo sama dia?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Ananta? Siapa Ananta?" Tanyaku tidak paham.
"Jangan muna Lo. Lo semalam jalankan sama dia. Lo mesra-mesraan sama dia dicafe." Tanyanya lagi.
"Fiks, gue paham sekarang. Dia salah paham soal gue sama bang Rendra semalam." batinku.
"Kalau iya emang kenapa? Nggak ada urusan juga kan sama Lo? atau jangan-jangan Lo naksir sama orang yang Lo sebut dengan nama Ananta itu?" Tanyaku sengaja menyulut emosinya. Siapa suruh, menuduh orang tidak jelas.
"Lo pikir gue cowok apaan? Gue masih normal, gue juga masih suka sama cewek." Jawabnya dan dia mulai terpancing.
"Oh iya? masak? Kalau gue lihat-lihat, Lo selalu jalan sama CS Lo itu. Gue nggak pernah lihat Lo jalan atau dekat sama cewek." Aku makin semangat memancing emosi dia. Mempermainkan dia jadi satu kesenangan sendiri kali ini.
"Lo mau bukti? Lo mau lihat kalau gue masih doyan sama cewek?" Tantangnya.
"Of course, why not?" jawabku cepat.
Zayn menyeringai, dia berjalan maju kearahku dengan tatapannya yang kini telah berubah. Mendekat dan semakin dekat denganku. Refleks aku pun berjalan mundur.
"Apa-apaan ini?, situasi apa ini? Kenapa jadi aku yang mati kutu? Aku telah salah menantangnya" Pikiran itu terlintas dibenakku.
"Kenapa mundur? Lo takut? Katanya butuh bukti?" Zayn menampilkan senyum mematikannya.
"Lo mau apa? Lo jangan berani macam-macam sama gue." Ancamku tapi sepertinya tak diindahkan olehnya.
Dug,
"Oh my God. Gue terpojok." Aku mati langkah. Punggungku terbentur tempok dan dia sukses mengungkungku membuat aku tidak bisa bergerak.
**Di tunggu dukungannya ya teman-teman. kritik dan sarannya juga boleh kok...