ZaLea

ZaLea
Status baru



Acara kemarin terbilang sukses. Sehari yang lalu bang Rendra juga sudah kembali ke New York. Selama seminggu ini, aku berusaha menghindari Zayn. Beruntung awalnya kami tidak terlalu dekat, tidak adanya nomor kontak memudahkanku untuk mencari alasan.


Tidak ada konfirmasi apapun selama kami tidak bertemu. Akupun bersikap seperti biasa sama teman-temanku.


"Le acara rutin sabtu besok. Lo jangan lupa ya." Ucap Ando.


"Okey, seperti biasa ya Ndo. Lo servis dulu si Azlan." jawabku.


"Itu sih pasti Le. " Lanjut Ando.


"Eh, Lo semua pada ngerasa nggak sih? Akhir-akhir ini kita jarang nongkrong?" Celetuk Dirga tiba-tiba.


"Benar juga sih!" Jawab Zaidar.


"Alah, Lo aja yang pengen ngajakin kita jalan. Iya kan?" Ejek Arga.


"Tapi Lo mau juga kan? Sok-sokan ngejek gue. Bilang aja kalau Lo setuju." Timpal Dirga.


"Ya udah, habis pulang sekolah kita langsung ke cafe biasa. " Jawabku


"Tapi loe yang traktirin kita ya Le. Hehehe." ucap Dirga terkekeh.


"Sudah saya duga." ucap mereka serempak.


"Santai aja. kalian bebas mau pesan apa saja di cafe gue." jawabku. Memang tidak ada yang tahu kalau ZaLA cafe adalah punyaku kecuali kelima orang ini. Bahkan orang tuaku tahunya kalau aku hanya mengurus Yayasan sekolah.


Jam pelajaran berlangsung begitu saja hingga waktu habis. Sesuai yang kami rencanakan, kami konvoi menuju ZaLA cafe.


"Gue nebeng siapa nih? Orion lagi ngambek, tadi pagi gue berangkat bareng bokap gue." Tanya Zaidar. Orion adalah panggilan untuk motor Zaidar.


"Nih, lo bonceng gue ya. Badan gue rada capek." Ucapku yang sudah menyodorkan kunci morotku pada Zaidar.


"Siap. Yang penting gue bisa ikutan sampai sana dan nggak ketinggalan." Jawab Zaidar.


"Sudah, yuk cabut." Dirga bergegas menyalakan motornya diikuti yang lain.


Butuh waktu 20 menit hingga kami sampai di depan ZaLA cafe. Tidak menunggu banyak waktu, kami mencari tempat duduk.


"Kalian pesan dulu ya, jangan lupa gue sekalian. Gue tinggal keatas bentar buat ngecek laporan mingguan. Mumpung sudah sampai sini." Potongku sebelum kami sampai di kursi yang kami tuju.


"Siap bu Bos." jawab Arga dan Dirga serempak. Mereka sering satu frekwensi. Sudah seperti saudara kembar saja.


Author prov


Sedangkan disisi lain, Zayn tengah kelimpungan mencari cara untuk mendekati Leona. Bagaimana bisa, status yang sudah dianggapnya pacar. Selama seminggu ini tidak ada yang namanya saling sapa, saling menghubungi, bahkan bertemupun tidak.


"Hubungan macam apa ini?" Gumam zayn di atas kasurnya.


"Apa gue samperin ke rumahnya aja ya? Ah, nggak. Nanti mamanya nanya macam-macam lagi." lanjutnya.


"Bodo ah." Zayn mengacak rambutnya frustasi.


Drrttt Drttt Drrttt...


"Hallo." Zayn mengambil phonselnya tanpa melihat siapa yang meneleponnya.


"Hallo Tuan Muda, saya mau mengingatkan satu jam lagi kita ada meeting dengan Andespa Printing. Tuan Besar meminta Anda yang mewakili beliau." Ucap sekertaris sang Papa.


"Kenapa baru bilang sekarang sih kak, ya sudah kirimkan salinan berkasnya ke surelku. dan share lokasi meetingnya. Kita langsung bertemu disana. " Jawab Zayn lalu mengakhiri panggilannya dan bersiap.


Tring.. Satu notifikasi masuk ke ponsel Zayn.


"ZaLA cafe, VVIP room No 06. okey, gue berangkat sekarang." Ucao Zayn. Bergegas mengambil kunci mobil dan berangkat menuju tempat sesuai notifikasi yang dikirim oleh sekretaris papanya.


# Maaf lama nggak update ya sayang! lagi buntu dan banyak pikiran. tetap kasih saya semangat ya.