
"By, bangun sayang. By kita sudah sampai rumah Kamu." Panggil Zayn lembut membangunkanku. Tapi saat ini Aku masih tidak bergeming. Aku masih asik dengan mimpiku.
Tertidur di jok samping kemudi mobil milik Zayn. Seperti terasa nyaman padahal dilihat dari segi manapun, tertidur dalam posisi duduk begini sangatlah tidak nyaman. Mungkin karena Aroma yang menguar di dalamnya yang membuat tenang. Perpaduan aroma therapy yang soft entah itu apa, yang aku rasa ini bukan hanya aroma dari satu aroma therapy saja. Berpadu dengan parfum milik Zayn yang sangat Aku kenal. Ini membuat Aku merasa tenang seperti terhipnotis tapi sangat sadar.
"Astaga By kenapa saat Aku pakai mobil, Kamu selalu tertidur pulas!" Keluhnya.
"Sayang bangun Kita sudah sampai." Ulangnya.
"Emh,... Zayn." Gumamku yang masih menutup mata.
"Bangun, Kita sudah sampai." Ulangnya lagi, Kali ini tangannya sudah mengelus pipi kananku.
"Aku ngantuk banget Zayn. Bisa gendong saja nggak?" Lirihku sedikit serak, khas suara orang bangun tidur. Jangan lupakan dengan mataku yang masih setia menutup.
"Kamu yakin mau digendong? Nggak malu sama Mama Kamu?"
"Emm.. Kalau ketemu mama, Bilang saja Aku tidur."
"Ya sudah sini. Aku gendong."
Zayn masuk setelah pintu rumah dibuka oleh salah satu asisten rumah tangga. Ketika sampai ruang keluarga, benar saja Kami bertemu mama dan papa.
"Lho, nak Zayn. Adek kenapa lagi?" Tanya mama.
"Eh, malam om. Malam tante. Zara ketiduran tante." Jawabnya sambil melirikku. Sayup-sayup Aku mendengar Zayn memanggil Om. Itu berarti papa sudah pulang.
Biarlah. Besok pagi saja aku menyapa papa. Ya sejak kepergiannya dua bulan lalu ke luar kota, Papa langsung lanjut ke Jerman membantu Kakak sulungku yng sedikit memiliki masalah di perusahaan. Setelahnya, beliau mengunjungi Kak Rendra di Amerika. Benar-benar manusia yang sok sibuk. Tapi itulah papaku.
Untung mama masih memikirkanku. Mama bilang, kasihan kalau Aku dirumah sendiri terlalu lama. Biasanya kalau hanya satu atau dua minggu, Mama ikut dengan papa. Ini pertama kali Zayn bertemu langsung dengan papa. Aku rasa tidak ada kegugupan yang Zayn perihatkan.
"Ya sudah, langsung bawa ke kamar saja ya." Putus mama.
"Baik tante. Zayn permisi ke atas dulu." Pamitnya.
Sampai di kamar, Zayn menurunkanku dengan hati-hati keatas ranjang. Merapikan posisiku dan menyeliputiku.
"By, Aku keluar dulu ya. Sekalian Aku pamit pulang. sweet dream sayang." Ucap Zayn disampingku. Dikecupnya keningku.
"Zayn." Panggilku saat Zayn mulai beranjak.
"Kenapa bangun By?"
"Tadi Aku kayak dengar Kamu nyebut Om. Papa Aku sudah pulang ya?"
"Iya, ya sudah. Kamu tidur lagi saja. Papa Kamu juga sudah tahu kalau Kamu tidur." Jawabnya.
"oh, Okey."
Sedangkan dibawah setelah Zayn menaiki tangga.
"Ma, Adek diantar siapa?"
"Namanya Zayn. Dia pacar Adek pa."
"Kok papa baru tahu?"
"Ya karena papa nggak pernah ada dirumah akhir-akhir ini."
"Oh, jadi pacar baru. Tapi ma, papa rasa papa pernah lihat pemuda itu."
"Apaan sih papa. Emang papa pernah ketemu nak Zayn dimana?"
"Itu dia ma, papa lupa dimananya. Dia sudah kerja ma?"
"Perasaan papa, papa pernah lihat pemuda itu waktu meeting sama client." Gumam si papa.
"Sudahlah pa, itu anaknya sudah turun." Tegur mama saat melihat Zayn diujung tangga.
"Om tante." Sapa Zayn saat mendekat dan menyalami tangan kedua.
"Terima kasih ya Nak. Adek selalu repotin Kamu."
"Nggak kok tante. Maaf tadi Zayn mengajak Zara pergi lumayan jauh. Zara jadi kelelahan."
Papa hanya diam memasang wajah datarnya. Memang selalu begitu. Saat bertemu orang baru, Selalu tidak mau kehilangan wibawanya.
"Kalau begitu Zayn permisi pulang tante, om."
"Ngga mau ngopi dulu sama Saya?" Yah, si papa. Sekali buka suara malah ngajak ngopi.
"Maaf om, lain kali saja. Ini sudah terlalu larut. Besok Saya juga harus sekolah." Zayn mencoba bersikap ramah. Padahal biasanya dia juga bermuka dingin.
"Sudah tahu besok sekolah masih saja keluyuran sampai malam begini." Ketus papa.
"Papa." Sanggah mama.
"Papa nggak salahkan?"
"iya papa nggak salah. Sudah, nak Zayn. Jangan diambil hati omongan papanya Adek. Kamu pulang saja, sudah malam juga. Kasihan mama Kamu nungguin kemalaman."
"Cih, emang anak kecil pakai ditunggu."
"Papa." Tegur mama sedikit melotot pada papa.
"Zayn permisi om, tante." Ucap Zayn mengulurkan tangan.
"Hm." Jawab papa masih datar tapi tak urung juga mengulurkan tanggannya pada Zayn.
"Hati-hati nak."
"Iya tante. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Balas keduanya.
Setelah Zayn pergi, mama menatap papa sinis. Tidak tahu sikap ketus suaminya ini berasal dari mana.
"Maksud papa apa bersikap begitu pada Nak Zayn?."
"Papa hanya berusaha menjaga permata kita. Papa nggak mau Adek jatuh ke tangan yang salah."
"Adek juga punya penilaian sendiri pa. Mama lihat, Nak Zayn sepertinya juga pemuda yang baik."
"Didepan kita seperti itu, tapi kita tidak tahu diluar sana ma." Papa yang kekeh dengan pendapatnya.
"Iya, terserah papa."
"Kita lihat tanggapan Abang sama Kakak dulu." Putus papa.
"Seingat mama, Kakak sudah pernah ketemu Nak Zayn sekali pa."
"Iyakah?"
"Iya, waktu Kakak pulang dulu. Ketemunya juga dirumah ini. Waktu itu Nak Zayn juga nganter Adek pulang sekolah. Pas pertama kali kayaknya."