ZaLea

ZaLea
Race



Setelah semua persiapan, race akan segera dimulai. Ando memberikan semua informasi dan arahan. Akupun hanya mengangguki semua kata-katanya. Aku memang ketua, tapi untuk masalah yang satu ini semua aku serahkan pada Ando. Aku hanya terima beres.


"Le, lo sudah siap semua kan? Sudah oke semua kan? Tanya Ando memastikan.


Hanya ada acungan jempol yang aku berikan padanya. Aku sadar ada sepasang mata yang tengah melirikku. Dia adalah orang yang mencuri perhatianku sejak awal kita bertemu. Aku tahu instingku tidak pernah salah tapi aku tidak tahu apa ini. Aku acuhkan saja tatapannya, fokusku saat ini adalah race ini.


"Okey, stay save ya." Ucap Ando sambil menepuk pundakku dan melenggang pergi.


Zain prov.


Malam ini malam pertama race ku di kota ini. Sebelumnya Aku juga sering ikut balap liar tapi itu dulu saat Aku di kota asalku. Satu hal yang membuat malam ini menarik. Aku melihat teman sekolahku sedang berdiri di samping rivalku. Walaupun kami belum sempat berkenalan, tetapi ingatanku tajam. Dia adalah orang yang tidak sengaja berpapasan denganku saat dikoridor tadi siang. Yang lebih membuat senyumku mengembang adalah sang racer yang ternyata seorang cewek.


Diantara lima belas racer, hanya dia yang cewek. Satu kata dalam pikiranku yaitu GILA. Ya, dikotaku dulu Aku juga menemui racer cewek, tapi tidak untuk ajang ini. Biasanya hanya balap liar. Race ini juga termasuk balap liar sih tapi masih terbilang aman karena kita balapan diatas sirkuit. Bukan balapan di jalan.


Sekian menit Aku amati cewek itu. Tentunya hanya dengan lirikan. Untungnya posisi kami bersebelahan jadi bisa lebih mudah. Tetapi sayangnya, dia sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun. Saat rekannya itu menjelaskan semuanya, dia hanya mengangguk dan mengacungkan jempolnya.


Prov end.


Race sudah berlalu beberapa menit yang lalu. Race ini hanya dilalui sepuluh Laps saja. di Lap terakhir hanya Aku dan si elang itu yang didepan. Balapan ini lumayan sengit karena Aku dan dia saling menyalip. Di depan sudah terlihat garis finish dengan santainya Aku tersenyum. Dan satu menit kemudian.


"Yes, memang nggak ada yang belum bisa ngalahin lo Le." ucap Ando dengan bangganya. Aku yang menang balapan tapi dia yang bangga. Tapi Aku juga senang bisa melihat wajah bahagia dari para sahabatku ini.


"Sepertinya lain kali lo nggak boleh ikutan dulu deh Le." ucap Virza, orang yang mengkoordinir balapan ini.


"Loh memang kenapa gue nggak boleh ikutan lagi? gue nggak terindikasi curangkan?" tanyaku bingung.


"Iya, Lo memang nggak curang. Tapi tiap Lo ikut main selalu Lo yang menang. Nggak kasihan apa sama yang lain." timpalnya.


"Yah, kalau itu sih bukan salah gue. Mereka aja yang selalu ngajah sama cewek kayak gue. haha." Ucapku menyeringai.


"Sudah ah, mana ?" ucapku sambil menyodorkan telapak tanganku. Diapun paham apa maksudku.


"Nih," katanya dan menyerahkan amplop coklat ke tanganku.


"Okey semuanya kita cabut." perintahku pada semua rekanku. Kami pun kembali ke markas.


Ando dan tiga sahabatku yang lain ikut menginap di markas dan mereka akan kembali ke rumah setelah adzan subuh.


pagi ini Aku bangun sedikit lebih pagi karena teriakan mereka yang mengganggu.


"Le, bangun. Kita pulang dulu. Lo jangan telat sekolah ya. Kita bahas donasi nanti." Panggil Zaidan. Memang dia yang paling perhatian sama Aku.


"Leona bangun." Ando sedikit berteriak


"ZARA LEONA ARTHUR BANGUUUNNNN." Dirga tidak kalah berisik.


"Zara sayang Leona sayang, bangun dong sayang. Apa mau gue ci*m dulu baru mau bangun?" panggil Agra dengan sedikit mes*a yang membuat Aku sedikit risih mendengarnya.


ceklek.... Pintu kamarku terbuka.


"Lo segitunya y Le nggak mau gue ci*m?" tanya Arga


"Dih, apaan sih Lo Ga. Jijik tau nggak gue dengernnya." jawabku.


"Sudah-sudah. Intinya sekarang Lo sudah bangun dan kita sudah harus segera pulang buat ganti seragam. Sekarang kita pulang sekarang." ucap Zaidan menengahi semua. Ya, dialah yang selalu berpikiran dewasa tapi tidak bossy.


Dari semua sahabatku mereka itu unik. Punya ciri khas masing-masing. Pertama, Zaidan yang dewasa dan bisa melihat semua sisi positif dan negatif suatu masalah. Pintar pula tidak jarang Aku meminta pertimbangan padanya soal masalah pribadiku.


Kedua, Ando. Si Ando ini sudah Aku bilang, dia yang mengurus semua yang bersangkutan dengan balapan. Tangannya yang cekatan selalu bisa diandalkan. Dia juga yang memodifikasi semua motor kami. Jangan lupakan, Ando juga punya bengkel motor Sport yang dikelola salah satu anak geng kami. Anaknya sedikit gesrek juga.


Ketiga, Arga. Si Playboy kacang. Suka banget gombal sama cewek sana-sini tapi nggak ada satupun yang dijadikan pacarnya. Alasannya simpel, katanya nggak mau repot sama urusan cewek.


keempat dan cowok terakhir Dirga. Si cowok lemes diantara yang lainnya. Semua informasi disekolah tidak ada satupun yang terlewat. Entah dari mana dia dapat informasi itu. Tapi bisa dibilang semua yang dia dapat itu akurat.


Terakhir sahabat cewekku satu-satunya. Nena. Dia bukan cuma sahabatku sih. lebih tepatnya anak angkat dari keluargaku. Yang Aku suka, orang tuaku tidak membeda-bedakan kami. Tapi sejak setahun yang lalu, dia memilih keluar dari rumah utama dan tinggal di apartemen. Satu hal yang jadi rahasia dan hanya keluarg yang tahu, Nena adalah seorang kartunia sekaligus novelis terkenal.


Semua ini hanya jadi rahasia kami.. Rahasia antara sahabat dan jika disekolah kami hanya seorang anak sekolahan biasa tidak lebih.


#TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA YA READER... TOLONG TINGGALKAN JEJAK YA...🙏🙏🙏🙏