ZaLea

ZaLea
Gara-gara Rendra Ananta Arthur



"Hariku cerahku matahari bersinar, ku gendong tas merahku di pundak. Selamat pagi semua ku nantikan dirimu, di depan kelasku ku nantikan kamu." Aku bercicit manja berjalan menyusuri lorong kelas.


Hari ini seperti biasa, bang Rendra masih mengantarku berangkat sekolah. Sedangkan teman-temanku, aku yakin kalau mereka sudah berada di kelas kami. Motor mereka sudah nangkring cantik di parkiran seperti biasa.


"Morning guys." Sapaku pada semua penghuni kelas.


"Le, Lo kelihatan senang banget. Habis dapat apaan?" tanya Ando.


"Nggak dapat apa-apa sih, nggak tahu kenapa juga hari ini bawaannya senang aja." jawabku sekenanya.


Tidak berselang lama, bel masukpun berbunyi. Pelajaran berjalan dengan semestinya. Hingga waktu istirahat sampai.


"Waktu kita tinggal dua hari lagi. Kita breafing ulang semuanya. Kita bahas apa lagi yang kurang sekarang." Ucapku pada semua. Disini lah kami sekarang. Rooftop yang selalu membuat kita nyaman.


"Semua persiapan sudah beres Le. Barang-barang yang harus kita sumbangkan, harusnya datang pagi ini. Kita bisa mulai packing nanti sore." Jawab Zaidar.


"Untuk transportasi, gue sudah nyiapin dua mobil box. Kalaupun nanti masih nggak muat, kita bisa pakai mobil pick up yang ada di markas." Sambung Ando.


"Okey, thank's semuanya. Semoga even kita kali ini bisa sukses. Oh iya Ne, Lo sudah daftar semua yang mau kita sasarkan?" Tanyaku pada Nena, karena untuk sumbangan khusus uang tunai kita sengaja mensortir pada orang-orang yang benar-benar mebutuhkan.


"Semua sudah okey Le. Total ada 35 orang yang tersebar di benerapa wilayah. Gue sudah catat semua disini." Jawab Nena sambil menunjukkan Notebook kecilnya.


"Ya sudah. Semua cukup disini ya. Nanti pulang sekolah kita langsung ke markas saja." Ucapku.


"Lo mau bareng kita apa dijemput bang Rendra?" tanya Dirga.


"Gue dijemput bang Rendra, nanti bang Rendra juga bisa bantu-bantu kita." Jawabku.


"Bang Rendra kapan balik ke New York sih Le?" Kali ini Arga yang berbicara.


"Seminggu lagi. Dia bisa full bantu kita kali ini." pungkasku.


"Ya sudah, yuk balik ke kelas." Ajak Ando.


"Kalian duluan ya. Gue mau istirahat bentar disini. Nanti kalau bu Asma nyari, bilang saja gue ke toilet." Pintaku.


"Okey, tapi jangan lama-lama ya." Jawab Nena.


"Siip." jawabku dengan acungan jempol. Punggungku sudah ku sandarkan pada sandaran sofa.


"Huft, tinggal dua hari lagi. Kali ini lumayan sedikit menguras tenaga. Untung mereka semua bisa kompak jadi gilue bisa lebih tenang." Aku berbicara pada diriku sendiri seletah semua keluar dari ruangan ini.


Sayup-sayup ku dengar suara seseorang, seperti suara orang yang lagi galau, orang frustasi, atau apalah namanya itu. Tapi sepertinya aku kenal dengan suara itu.


Aku mencoba membuka sedikit pintu dan menelisik melihat keluar. Ku lihat sosok orang yang aku kenal.


"Benar-benar jodoh. Firasatku tidak pernah meleset. Kenapa selalu bertemu dia sih. Berasa punya mahnet deh." cibirku.


"Eheem." dehemku memcoba membuyarkan lamunannya. Dia pun berbalik dan menatapku dalam diam.


"Ngapain Lo ngedumel disini? Mau curhat sama angin?" Tanyaku, mungkin baginya ini sedikit garing. Dia adalah Zayn. Bisa-bisanya kita selalu bertemu berkali-kali di sini.


"Gue tahu, kalau gitu silahkan lanjutkan." Tawarku padanya. Setelah itu, aku melangkahkan kakiku menuju pintu tapi baru dua langkah aku pergi, Zayn mencegahku.


"Tunggu. Bisa kita bicara sebentar?" Tanya Zayn.


Aku menurutinya. Sepertinya berkaitan dengan moodnya yang sedang buruk. Aku berjalan kearahnya. Kini aku berada tepat disampingnya.


"Mau bicara apa? Gue nggak punya waktu lama, ini sudah jam masuk kelas." Tanyaku.


"Lo bisa nggak, putus sama pacar Lo?" Tanya Zayn to the poin.


"Maksud Lo bang Rendra? sory, maksud Lo orang yang Lo panggil dengan panggilan Ananta?" Tanyaku.


"Iya, dia nggak baik buat Lo." Jawabnya singkat.


"Dengan alasan apa Lo bilang dia nggak baik buat gue?" Tanyaku menyelidik.


"Dia sudah punya pacar lain selain Lo Zara. Dan mereka pacaran sudah berjalan dua tahun." Terangnya.


"Dia tahu kalau bang Rendra punya pacar, bahkan benar kalau bang Rendra udah pacaran sama kak Zaina selama dua tahun." batinku.


"Jadi Gue mau Lo putusin pacar Lo yang namanya Ananta atau Rendra itu." Tukas Zayn.


"Semua gara-gara Rendra Ananta Arthur." gumamku.


"Sory Zayn, gue nggak bisa putus hubungan sama dia." Jawabku. "Karena dia itu abang gue." lanjutku dalam hati.


"Kenapa? Kenapa Lo nggak bisa putusin dia? Dia sudah menduakan kalian." Sepertinya Zayn mencoba memprovokasiku. Aku masih diam. Hingga tiba-tiba Zayn menarikku dan memegang kedua pundakku.


Ditatapnya kedua mataku, mata kami kembali beradu. "Apa lagi ini? Zayn jangan lagi begini. Jantung gue bisa nggak sehat." batinku.


"Jadilah pacar gue, dan lupain dia." Pintanya. Dengan sekuat tenaga aku berusaha mengembalikan kesadaranku.


"Zayn, Lo nembak gue?" Pertanyaan itu lolos begitu saja keluar dari mulutku.


Tidak ada jawaban apapun. sekian detik hanya diam dan diam yang ada.


Hingga


Cup


Zayn mengecup keningku. Tiga detik rasanya nafasku berhenti. Aku tidak bisa mendengar detak jantungku. Tatapan dan pikiranku kosong. Seperti orang yang sedang terhipnotis. Selanjutnya aku kembali tersadar ketika aku mendengar kata-kata Zayn.


"Mulai detik ini, Lo resmi jadi pacar Gue." Ucapnya melepaskan lenganku dari genggamannnya dan berniat keluar mendahuluiku.


Aku masih mematung mencerna semuanya. Ku tepuk-tepuk kedua pipiku dengan tanganku. "Hah, Gue sekarang punya pacar? dan Gue punya pacar dengan cara kayak gini?" tanyaku pada diriku sendiri.


"Mamaa...... Adek sudah gila gara-gara bang Rendra. Bang Nadeo, abang cepetan balik." Teriakku dalam hati.


#Kasih suportnya ya kawan... kasih bunganya dong,... dukungan, like dan komentnya ya...