ZaLea

ZaLea
Klarifikasi



Setelah menonton race yang dimenangkan oleh Zayn, Kini Leona dan anak-anak Moonlight Shadow sudah berada di markas. Mereka bermaksud menghabiskan malam ini di markas. Bukan semua, lebih tepatnya hanya Leona dan SDPnya.


"Le sebenernya gimana ceritanya sih Lo bisa jadian sama si Zayn Zayn itu?" Si biang gosip mulai beraksi. Siapa lagi kalau bukan Dirga. Tangannya sibuk mencomot snack yang ada didepannya.


"Lo kalau mau makan-makan aja. Telan dulu tuh makanan jangan ngomong sambil makan. Keselek tahu rasa Lo." Ucap Arga tangannya melayangkan kacang kulit kearah Dirga.


"Sewot aja Lo sama Gue. Lo semua juga penasarankan?" Santainya menatap semua yang ada di ruangan khusus Leona.


Sesaat kemudian pertanyaan itu diangguki semuanya.


"Nah kan. Sekarang Lo jelasin Le." tambahnya.


"Kenapa Gue serasa diintrogasi sama mak gue ya."


"Udah buru, nggak usah banyak alesan."


"Oke, jadi gini. Sebelumnya Gue pernah diantar pulang sama dia, waktu bang Rangga telat jemput Gue. Pas sampe rumah, ternyata bang Rangga juga sudah ada di rumah sama mama dan dia ngelihat bang Rangga."


"Trus apa hubungannya sama bang Rangga?" Arga ikut penasaran.


"Penasaran juga kan Lo. Pakai sok sokan mencibir Gue." Dirga mendengus pada Arga.


"Mau diterusin nggak nih? Masih panjang nih ceritanya."


"Terusin aja Le, biar pada puas." jawab Zaidar mewakili semua.


"Nah, entah dari mana ternyata Zayn itu kenal sama bang Rangga. Bahkan dia tahu kalau bang Rangga sudah punya cewek. Dan dia ngira kalau Gue itu selingkuhan bang Rangga."


"Dari situ, dia nyuruh Gue ngejauhin bang Rangga."


Semua masih asik mendengarkan penjelasan ku layaknya mereka memperhatikan pelajaran di kelas.


"Bang Rangga kan Abang Gue, ya nggak mungkinlah Gue bisa jauhin Bang Rangga.


"Waktu kita di rooftop beberapa hari lalu, setelah kalian semua pada turun. Dia juga ada disana. Saat Gue mau turun, dia nyegah Gue. Dia lagi lagi minta Gue buat mutusin Bang Rangga. Apanya yang mau diputusin? Nggak mungkinkan hubungan abang adek Gue sama Bang Rangga harus putus gara-gara dia."


"Trus, kapan Zayn nembak Lo Le?" tanya Ando yang mulai pusing karena gagal paham, Yang lain mengiyakan pertanyaan Ando.


"Ya hari itu juga. Dia nggak nembak Gue, tapi lebih ke maksa Gue buat jadi pacarnya dia." Pipi Leona tiba-tiba memerah mengingat Zayn yang tanpa permisi mengambil ciuman pertamanya.


"Jadi Lo iyain gitu aja?" Zaidar merasa ini konyol.


"Le pipi Lo merah." Bisik Nena. Seketika itu aku langsung menutupinya. Untung saja para cowok tidak sadar akan hal itu.


"Pasti ada yang Lo kurangin kan dari cerita Lo." tambahnya. Saat itu juga ku hadiahi Nena dengan tabokan kecil di pahanya.


"Ya nggak Gue iyain juga. Abis itu Gue menghindar dari dia. Kurang lebih seminggu ini."


"Nah, gara-gara kita nongkrong di cafe gue tadi sore. Akhirnya Gue terpaksa ngeiyain paksaan dia."


"Lah, emang Zayn juga ada di cafe Lo? Kok gue nggak lihat?" Tanya Dirga, kepo mode on.


"Bukan cuma di cafe Gue. Dia masuk ke ruangan Gue."


"Hah, kok bisa?"


"Makanya, Gue nggak bisa lagi nolak dia."


"Gue takut Zayn membongkar rahasia Gue."


"Tunggu- tunggu, jadi Zayn mata-matain Lo? Dia nggak tahu status Lo disini kan?" Tanya Ando serius.


"Lo mesti lebih hati-hati Le."


"Benar banget tu."


"Pusing gue, mesti meranin dua wajah didepan dia."


"Ya kalu Lo nggak mau gitu, Lo punya dua pilihan sekarang." Ucap Nena yang membuat semua mata tertuju padanya.


"Biasa aja kali lihatnya. Kayak pada lihat apa aja."


"Maksud Lo apa Ne?" Aku pun ikut penasaran.


" Pertama, Lo putusin Zayn dengan konsekwensi Zayn nyebarin bahwa Lo pemilik ZaLA cafe atau yang kedua, Lo bilang jujur sama Zayn kalau Lo juga Leon di Moonlight shadow. Kalau Lo jujur kan Lo nggak harus pura-pura lagi didepan dia."


"Solusi Lo nggak ada yang benat Ne. Memberatkan semua." jawabku.


Hari semakin larut, tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 02.30 pagi. Rasa ngantuk juga sudah menyerang. Satu per satu dari kami tumbang di tempatnya masing-masing. Aku melihat pada semuanya, hanya Nena yang masih belum menutup mata.


"Ne, Lo nggak ngantuk?" tanyaku sambil menguap.


"Gue nungguin Lo."


"Nungguin Gue?"


"Nungguin cerita Lo yang bikin pipi Lo merah." bisiknya sambil mendekat kearahku.


"Apaan sih Ne."


"Jadi benarkan ada apa-apa? Lo nggak bisa bohong dari Gue Le."


"Zayn ngambil ciuman pertama Gue Ne." Kataku malu. Nena benar, Gue nggak akan pernah bisa bohong sama dia.


"Serius Le? ciuman bibir?" Akupun mengangguk.


"Jadi ini yang bikin Lo jadi luluh sama si Zayn."


"Udah deh, jangan ngeledekin Gue."


"Tapi nggak apa Le. Gue senang, Lo udah nggak jomblo lagi." Nena menampilkan cengirannya.


"Sekarang Lo ikhlas nerima dia?"


"Ya, kita jalanin aja dulu. kalau dia nggak nyaman pasti juga bakal minta putus."


"Trus, kalau Lo sudah terlanjur cinta gimana?"


"Ya maka dari itu, Gue berusaha buat membentengi hati Gue."


"Semangat, semoga Lo berhasil."


" Udah ah, yuk tidur."


Aku dan Nena pun akhirnya ikut terlelap.


** Terima kasih, sudah setiap membaca novel ini. Jangan lupa tinggalkan jejak ya kawan.


Aku butuh suport kalian semua.