ZaLea

ZaLea
Suasana kelas



Seperti biasa, aku yang tengah asik bercengkrama dengan teman-teman gengku yang notabennya laki-laki dikagetkan dengan teriakan Ando yang nyaring.


"Leeeeee....." teriaknya sambil berlari kearahku. Hanya para sahabatku yang memanggilku Leona itupun tidak setiap saat.


"Lo ngapa sih do? lari-lari teriak-teriak ngga jelas." bukan aku yang menjawab melainkan Dirga.


Saat ini posisi kami memang sedang duduk melingkar mengitari mejaku. Jadi memudahkan yang lain untuk menimpali.


"Apa do?" tanyaku setelahnya.


"Sini gue bisikin." ucap Ando sambil mencari celah diantara Arga dan Zaidar.


Diantara kami hanya ada Aku, Arga, Zaidar dan disebelahku Dirga dan satu-satunya sahabat perempuanku Nena. Nena hanya sekedar nimbrung dan tahu saja apa yang terjadi dan kami lakukan. Dia hanya akan menjadi pendengar setia jika kami membicarakan hobby kami tanpa ada perasaan ingin merasakannya.


"Ada race dadakan. Gue baru dapat notif. Nanti malam jam sebelas di tempat biasa." jawab Ando setengah berbisik yang hanya kami berenam yanh bisa mendengarnya.


"Hadiahnya?" seringai Arga.


"Lima Belas juta. Lumayanlah untuk acara yang dadakan." jawab Ando antusias.


"Gimana Le? Mau berangkat?" tanya Zaidar memastikan, yang sedari tadi hanya diam mendengarkan.


"Masuklah. Lumayan juga buat disumbangin." jawabku.


"Oke, kumpul di basecamp jam sembilan." putus Dirga.


"Lo masih ngga mau ikut juga Ne?" tanya Arga pada Nena. Kini pandangan kami terarah pada Nena.


"Aku sudah bilang. Untuk yang satu ini aku benar-benar tidak minat." ucap Nena. Bisa aku tebak, Nena tidak terlalu suka keramaian. Selain pada kami, bisa dikatakan Nena mengunci rapat-rapat mulutnya.


"Terserahlah. Tapi kalau suatu saat lo mau ikut, kita pasti bakal seneng banget." Arga pasrah mendengar ucapan Nena.


"Yang penting kalian hati-hati. Menang kalah nggak penting. Keselamatan yang utama." lanjut Nena dengan ceramahnya.


"Lo emang teman gue yang paling waras." ucapku sambil memeluk Nena. Nena pun membalas pelukanku.


Jam sekolah telah usai, tidak ada pelajaran dihari pertama karena para guru masih asik rapat membahas kurikulum semester ini. Tapi sayangnya kami para siswa tidak dipulangkan lebih awal.


Dari lorong koridor sekolah aku melihat empat laki-laki berjalan dengan santainya. Aku mengenal dua diantaranya tapi untuk yang lainnya, kurasa aku belum pernah melihatnya.


"Dirga, itu dua orang yang jalan sama Rido dan Alvin siapa? lo tahu ngga?" tanyaku pada Dirga si lemes. Seisi sekolah sudah hampir sepi karena jam sekolah sudah berlalu beberapa menit.


"Oh, semua yang terjadi di sekolah ini tidak akan luput dari kamera seorang Dirga." jawabnya bangga.


"Yang depan namanya Zain Gibran Alvaro. Dibelakang namanya Antony Ginting. Mereka anak baru pindahan dari luar kota. Satu kelas sama Ridho dan Alvin. Anak XI Mipa 1." tambahnya panjang lebar.


"Lengkap banget Dir?" ucap Zaidar dengan tangannya yang siap menimpuk perut Dirga.


"Tapi lo puaskan sama informasi gue." tanya Dirga dengan cengirannya.


"Oh.. Kok aku punya firasat ya sama dia?" ucapku memotong ocehan mereka. Seketika semua pandangan mengarah padaku.


"Eits, jangan ada pikiran aneh-aneh ya. Kalian tahu sendiri instingku selalu berfungsikan?" tanyaku. Pandangan mereka masih sama tapi semakin menuntut penjelasan.


"Aku pikir akan ada sesuatu antara aku sama dia." tambahku. Mereka masih diam.


"Lo ngga lagi jatuh cinta pada pandangan pertama kan Le?" tanya Arga memecah keheningan.


"hmmh, mana ada." jawabku singkat.


"Le jantung lo amankan?" kini Ando memastikan.


"Jantung gue masih aman ngeb." kuarahkan pandanganku pada Ando.


"Kalau ngga percaya cek aja sendiri." jawabku.


Tanpa pikir panjang, Dirga yang ada disamping kananku mengulurkan tangannya kearah da**ku. Namun aku yang sadar akan hal itu langsung menepisnya.


"Mau apa lo?" ucapku dengan tatapan sinis.


"Ya cek jantung lo lah." jawab Dirga dengan santai.


"Gila kali lo mau sentuh da** gue."


"Lo sendirikan yang nyuruh buat cek." jawab Dirga dengan watadosnya.


"Sudah-sudah. Leona aman kok." Nena yang menengahi.


"Tapi Le, kalau kamu sudah punya firasat seperti itu. Artinya kamu harus hati-hati sama dia." Tambah Nena memperingatiku.


"Gue ngerti Ne. Tapi kan gue belom ngerti dia akan muncul sebagai apa." jawabku.


"Sudah, kuy jalan." ajakku pada semua untuk pulang. Sesaat mataku dan mata orang itu bertemu. Mata Zain, sorot mata yang tajam dengan alis yang tebal menambah kesan seakan ingin menerkam apa yang dilihatnya.


Seutas senyum smirk dilontarkannya. Aku yang tak tahu apa maksudnya tak menganggapnya apa-apa. Ku jalankan motor sportku bersama yang lainnya menuju rumah masing-masing.


Satu informasi, walaupun Nena tidak suka balapan liar, tapi Nena juga bisa mengendarai motor sport seperti kami. Nena juga bisa bela diri. Bahkan dia sudah mengantongi sabuk hitam di taekwondo. Bisa dibilang Nena bukan anak alim yang cupu.


Malam hari pukul sembilan


Kami berlima sudah berada di basecamp, untuk sekedar membunuh waktu sampai nanti kami akan berangkat ke arena balap.


"Le, dalam race ini hanya ketua geng yang akan ikut tanding." ucap Ando.


"Jadi dari kita cuma gue yang bakal ikutan?" tanyaku.


Dari kelima puluh anggota, hanya setengah dari geng yang bisa berkumpul malam ini. Mengingat acara yang dadakan, tidak sedikit dari kami yang tidak dapat menyinkronkan waktu. Tapi tak apa, itu tidak jadi masalah. Asal tidak ada baku hantam, semua akan aman terkendali.


Tepat pukul 21.45 kami berangkat ke lokasi. Sebelumnya aku sudah mengubah penampilanku. Dari Zara Leona Arthur yang cantik dengan rambut tergerai menjadi Leon seorang gadis tomboy dengan rambut yang aku cepol keatas dan tertutup wig pendek.


Hanya kelima sahabatku yang tahu identitas asliku dalam geng ini, anggota yang lain tahunya aku hanya seorang cewek tomboy yang suka balap liar. Mereka juga tidak pernah tahu persis wajah asliku karena aku selalu mengenakan masker ketika bertemu mereka.


Satu jam setelahnya, kami sudah ada di lokasi. Banyak juga yang mengikuti race ini.


"Le, gue laporan ke sana dulu." ucap Ando setelah memberhentikan motornya. Ando yang kami jadikan informan menyangkut soal geng dan race. Bila disekolah ada Dirga si lemes, dalam geng ada Ando yang cekatan.


"hm.." jawabku.


Tidak butuh lama Ando pun kembali dan memberikan sedikit info menyangkut race kali ini.


"Le, kali ini ada lima belas ketua geng motor yang akan ikut. Tapi ada satu geng motor yang baru gabung mereka dari luar kota." ucap Ando panjang lebar dan hanya ku balas dengan memicingkan mata.


Ando yang tahu arti tatapan mataku kembali menjelaskan.


"Lo kayaknya harus hati-hati sama dia. Gue rasa firasat lo tadi siang memang akurat." lanjutnya.


"Maksud lo?" tanyaku memastikan apa yang saat ini ada dipikiranku setelah mendengar ucapan Ando.


"Lo lihat arah jam dua dari hadapan lo." ucapnya. Akupun mencari diikuti semua orang yang mendengarnya.


Aku, Arga, Zaidar dan Dirga akhirnya mengerti apa maksud ucapan Ando sedangkan yang lainnya hanya dapat memasang muka tidak paham akan situasi saat ini. Yang mereka tahu hanya segerombolan geng motor baru dengan stiker Darknight dimotor dan tulisan itu dijaket mereka.


Bersambung........


mohon vote like dan komentnya ya... biar autor lebih semangat.