
Pagi-pagi Aku dikejutkan dengan berisik suara ponselnya.
"Aduh, siapa sih pagi-pagi begini nggak punya kerjaan telfon-telfon orang? Nggak tahu apa, jam segini tuh enak-enaknya tidur." Gerutuku sambil meraba-raba nakas samping tempat tidur.
Aku memicingkan mata, menatap jam dinding yang tegak bergantung disana.
"Hm, jam 06.15. Benarkan ini jam enak-enaknya tidur." Tidak puas hanya mengomel sekali. Aku lirik ponselku yang terus berbunyi. Mataku memicing, "Nomor tidak dikenal." Batinku.
"Siapa sih,?" Aku penasaran dengan siapa yang sudah menggangguku sepagi ini karena biasanya tidak ada seorangpun yang berani melakukannya.
Setelahnya ku geser tombol warna hijau yang ada disana.
"Hallo,...."
"Selamat pagi cantik." Jawab orang dari sebrang.
"Siapa ya?"
"Pemilik hatimu Zaraku sayang." lanjutnya.
"Dih, nih orang PD banget. Pagi-pagi sudah halu. Tapi dia tahu nama gue lho."
"Sekali lagi ini siapa ya? Pagi-pagi jangan main-main deh." Emosiku sedikit tersulut.
"Tenang dong sayang, Gue cuma mau kasih ucapan selamat pagi buat lo." Tukasnya lagi tanpa mau menyebutkan siapa dirinya.
"Ini bukan suara Zayn lho. Sebenarnya siapa dia? Bagaimana dia bisa punya nomor gue? Hm, untung bukan yang nomor pribadi."
"Kalau Lo cuma mau iseng, mending cari orang lain. Gue nggak minat buat bahan bercandaan Lo."
"Gue cuma mau kasih tahu Lo, kalau cowok Lo bukan cowok baik-baik. Tunggu saatnya Gue bakal rebut Lo dari dia." tut tut tut. Telepon nyasar itu sudah terputus.
"Gila, belum tahu saja dia Gue ini siapa. Tapi apa dia musuhnya si manekin songong ya?"
"Ah bod*. Nggak bakal Gue pikirin. Mending Gue balik tidur lagi.
Baru saja ponselku tergeletak, sedetik kemudian dia berbunyi lagi.
"Apa lagi sih? Mau ngomong apa lagi Lo?" Cerocosku tanpa melihat siapa yang menelpon.
"Apa sih by? Kamu ngapain angkat telfon langsung marah-marah gitu?" Tanya seseorang dari sebrang.
"Oh, ini kamu Zayn. Sorry, tadi aku nggak lihat siapa yang telfon." Masih tersisa kedongkolan dalam hatiku. Hingga Zayn ikut terkena imbasnya.
"Kamu habis telfonan sama siapa? Dari tadi Aku telfon nggak bisa nyambung. Sibuk terus. Sekalinya diangkat, Aku kena semprot." Kalimat paling panjang dari Zayn yang pernah Gue dengar dari mulut Zayn saat telfon begini. Biasanya paling banyak hanya lima atau enam kata.
"Habisnya, Aku juga jadi emosi karena telfon kamu nggak bisa-bisa."
"Kok ngegas sih?"
"Nggak ngegas sayang."
"Nah itu? Dari nada suara kamu saja kedengeran kalau kamu lagi emosi."
"Iya iya maaf, Aku nggak emosi sama kamu. Eh, kok malah jadi kamu yang marah sama Aku sih by?"
"Jadi mau panggil Baby apa Sayang nih? Dua-duanya dipakai. Maruk benar?"
"Udahlah jangan bahas Aku. Tadi itu siapa? kenapa kamu bisa marah-marah setelah terima telfon dari dia." Tanyanya ulang.
"Nggak tahu. Orang salah sambung." Jawabku tegas.
"Mau apa lagi Zayn? Kamu telfon cuma mau tanya ini? Udah ya, Aku mau balik tidut lagi. Aku masih ngntuk."
"Nggak, jangan tidur. Aku dibawah. Masih didepan gerbang rumah kamu."
"Gila kamu, pagi-pagi gini sudah sampai sini saja. Mau ngapain?"
"Mau numpang tidur. Ya mau ngapel lah. Semalemkan nggak bisa ngapel."
"Ngapel pagi buta. Yang benar saja kamu Zayn. Sudah sana balik." Tut Tut Tut... telfonku segera ku matikan.
Aku melupakan Nena yang masih tidur di kamarnya dan curut-curut yang masih tergeletak di ruang keluarga.
Ya, bagaimana tidak. Kantuk masih melanda, semalah kami berenam begadang sampai jam 2 malam. untung ini weekend jadi sekolah libur.
Aku kembali merebahkan tubuhku. Tak lupa ku silence ponselku agar Aku nyenyak tanpa gangguan.
Tidak lama...
"Tok tok tok."
"Dek, bangun sayang ada nak Zayn tuh di bawah." teriak mama dari balik pintu.
"Aduh, tuh anak pakai masuk segala lagi. Biarin saja deh. Sekali-kali gue kerjain dia."
*** Ayo dong besty,... korbanin jempol kalian buat karyaku ini. gratis lho
ditunggu apresiasinya ya...