
"Janji ya, sampai rumah Lo mesti jelasin semua ke gue."
"Iya, sekarang Lo diam. Pura-pura saja Lo belum pernah kesini."
"Emang gue belum pernah ke sini. Ngapain gue mesti pura-pura."
"Iya iya ah. Bawel Lo."
"Kalian dari tadi bisik-bisik ngomongin apa sih?" Dirga menyela.
"Dih, si admin lambe turah. Panjang banget radarnya. Tahu aja kalau ada orang yang lagi bisik-bisik." jawabku.
"Eh oge*, kalian bisik-bisik di samping gue. Mau tidak mau gue juga dengar. Sayang saja nggak kedengeran jelas."
"Sudah sudah, malah pada ribut disini sih. Lo juga Dir, nggak usah terlalu kepo. Ini tuh urusan cewek."
"Siapa juga yang kepo, palingan juga lagi bahas itu si rambut biru!"
"Rambut biru?" sautku dan Nena bersamaan.
"Maksud Lo siapa?"
"Tuh, orangnya kesini." jawabnya ringan.
"Mampus gue. Mau ngapain dia kesini." batinku.
"Malam Za, gue baru tahu kalau Lo juga kesini malam ini." Kata Zayn. Ya, orang yang dimaksud Dirga adalah Zayn. Tapi tunggu, rambut biru? astaga, aku baru sadar kalau saat ini gaya rambut Zayn berubah dengan warna biru kehitaman.
"Zayn apa yang Lo lakuin sama rambut Lo?" pikiranku melayang.
"Za, Zara?" Zayn melambaikan tangannya didepan mukaku. Aku tersadar saat Nena menyenggol pinggangku.
"Ah iya, lagi pengen aja ikut mereka." jawabku sekenanya. "Untung kita misah sama anak-anak yang lain jadi nggak kelihatan banget kalau gue buka masker dan zayn pun nggak akan curiga." batinku.
"Oh iya, tumben ketua MS (Moonlight Shadow) nggak ikut main?" Tanya Zayn pada ketiga cowok yang ada disampingku.
"Dia absen dulu kali ini. Capek katanya." Jawab Arga asal. Diangguki yang lain.
"Terus dia dimana sekarang.?" Ternyata Zayn masih penasaran.
"Namanya orang capek ya pasti tidur dirumah. Memangnya mau kemana lagi?" Arga sedikit terbawa emosi. Ya, dari kami semua memang Arga yang kurang bisa menerima orang baru. Apa lagi type orang yang banyak tanya-tanya seperti Zayn kali ini.
"Slow bro, Gue pinjam Zara bentar." Ucap Zayn yang langsung menarikku pergi.
"Mau ngapain Lo?" Kali ini Zaidar yang maju menghadang Zayn.
"Sudah Zay, kalau Leona nggak keberatan biarkan mereka bicara sebentar." Nena menengahi.
"Ne, Lo emang penyelamat gue." tatapanku tertuju pada Nena.
"Nggak apa Zay, gue ikut dia sebentar Dan kalian semua jagain Nena ya. Jangan sampai hilang." Ucapku, dan mereka semua diam.
"Lo mau ngajak gue kemana sih Zayn?" tanyaku setelah beberapa kami melangkah.
"Gue kenalin sama teman-teman gue."
"Ngapain, nggak penting juga gue kenal sama mereka."
"Emang nggak penting, gue cuma mau mereka tahu siapa dan gimana cewek gue."
"Childish" gumamku.
"Ya Sudah, kalau Lo dengar harusnya Lo berhenti jalannya."
"Sayangnya itu terlambat, karena kita sudah sampai di depan mereka." Jawabnya, dan benar saja tanpa aku sadari aku sudah berada diantara anggota Darknight.
"Widih, siapa nih bos? Tumben tumbenan Lo gandeng cewek?"
"Iya nih, mana kita belum pernah lihat lagi."
"Eh bentar, Lo Zara bukan sih?" Tanya Anton memastikan. Karena dari kesemua orang yang ada disini, hanya Anton yang aku tahu.
"Lo kenal juga Ton?"
"Sekedar tahu sih, kalau kenal banget enggak. Kita beda kelas, gue juga nggak pernah tegur sapa sama dia." Anton menjelaskan. Sedangkan aku dan Zayn hanya mendengarkan mereka berbicara semau mereka dulu.
"Lo ngapain ngajak Zara kesini Zayn?"
"Gue cuma mau kenalin Zara sama kalian. Kenalin, dia Zara pacar gue."
"What?" Teriak mereka kompak, tidak lepas dengan Anton yang juga ikut kaget.
"Sejak kapan kalian dekat? Perasaan Lo sama gue mulu pas di sekolah." Anton mulai dengan mode introgasinya. Ya, Anton itu satu server sama Dirga.
"Kalian nggak perlu tahu sejak kapan kita mulai dekat. Yang penting kalian tahu saja, kalau mulai sekarang Zara pacaran sama gue."
"Zayn, Sudahkan? Gue balik sama anak-anak ya. Nggak enak soalnya gue kesini sama mereka. Kasihan juga teman cewek gue, dia disan sendirian."
"Eh Za, Lo tahu nggak kenapa malam ini leader MS nggak ikut balapan ini?" Anton memotong sebelum Zayn menjawabku.
"Gue nggak tahu. Gue juga belum kenal sama dia. Gue baru pertama kali kesini."
"Wah, sayang sekali Zayn. Lawan terberat Lo nggak datang Zayn. Kurang seru nih."
"Malah bagus dong, kalau lawan terberat nggak ada. Berarti kesempatan menang jadi lebih banyak."
"Benar juga sih Za, tapi asal Lo tahu ya. Si Zayn tuh penasaran banget sama itu Leader cewek. Aghhh" Anton mengaduh. Saat perutnya mendapat tabokan dari tangan Zayn.
"Bisa diam nggak?"
"Slow kali Zayn. Gue kan cuma bilang Lo penasaran bukan Lo jatuh cinta sama itu si leader MS. Lagian Zara juga nggak apa-apakan ya?" Tanyanya hanya ku balas dengan senyuman.
"Gue ke anak-anak dulu ya." Aku sekejap berbalik dan berjalan kearah Nena dan yang lain.
"Gue anterin." Jawab Zayn yang langsung menggandeng tanganku. Memandang tangan kami yang bertautan, ada bayangan aneh yang melintas otakku. Hatiku seakan berdesir tidak karuan. Apa ini? Ada perasaan aneh yang belum pernah aku rasakan.
"Sudah, gue sudah sama teman-teman gue. Lo cepetan balik sana. Lo mesti siap-siap juga kan."
"Gue balik ke sana dulu ya semua." Pamitnya pada semua.
"Jagain Zara, dia pacar gue." Lanjutnya. Tidak lupa Zayn mengacak pucuk kepalaku.
"Le?" Sekarang semua mata tertuju padaku menuntut penjelasan.
"Rumit. Gue jelasin nanti kalau ada waktu.
"Sudah-sudah dibahas nanti. Tuh udah mau mulai tuh balapannya."
*Jangan lupa mampir kasih like, vote dan komentnya ya readers.
Aku butuh kalian buat penyemangatku.😘😘😘