
Zaidar prov
Zara Leona Arthur, gadis cantik, manis, penyayang, mandiri, manja pada orang yang dia sayang tapi tidak ada lembut-lembutnya sebagai seorang gadis.
Aku tidak tahu kapan rasa sayang seorang sahabat ini berubah menjadi rasa cinta seorang pria kepada lawan jenisnya. Semakin Aku berusaha menepisnya, semakin Aku tidak bisa menyangkalnya.
Aku jatuh cinta kepada sahabatku sendiri, sahabat sekaligus penolong dalam hidupku.
Aku ingat waktu pertama kali Aku bertemu dengannya. Waktu itu kami baru kelas satu SMP, Aku yang merasa ketakutan dengan hasil ujian semester yang minus mencoba menghindar dari orang tuaku. Hasilnya, Aku pergi ke sebuah taman. Aku bersembunyi di sama sampai sore dengan harapan orang tuaku akan mencemaskanku dan akan lupa dengan hasil ujianku yang jelek.
Namun na'as, tiba-tiba ada tiga preman yang datang menghampiriku. Mereka bermaksud merampokku atau mungkin menculikku. Di saat Aku merasa ketakutan, dengan berani seorang gadis kecil seumuranku datang menantang ketiga preman itu.
"Heh, paman-paman yang sudah tua! Tidak malu kalian menghadang anak kecil?" Ucap lantang gadis itu.
"Aduh dek, kamu anak kecil jangan ikut campur. Mau kamu ikut saya bawa juga?" Kata seorang preman itu.
"Paman mau coba bawa saya? Coba saja kalau bisa." Tantangnya.
Ketiga preman itu merasa geram, dengan cepat mereka mulai meringkus gadis cantik itu. Aku terkagum dengan keahlian bela dirinya.
"Wow, keren sekali." Batinku.
"Segitu saja paman?" Tanya gadis itu pada ketiga preman yang sudah terkapar kesakitan.
"Makanya, jangan meremehkan anak kecil. Saya anak kecil bukan sembarangan anak kecil. Kalahkan jadinya!" Tambahnya.
Setelah itu gadis itu menghampiriku.
"Hai, kamu nggak apa kan?" tanyanya.
"Tidak, aku tidak apa. Terima kasih ya. Sudah menolong saya."
"Leona." Ucapnya seraya mengulurkan tangan kanannya.
"Zaydar." Jawabku
"Mulai sekarang kita teman. Aku lihat seragam kita sama, Kita satu sekolah. Mungkin satu angkatan. Ayo kita pulang."
"Kita satu sekolah? Kok Aku tidak pernah melihatmu?" Tanyaku bingung.
"Ya karena Aku baru pindah dan akan mulai masuk setelah libur semester nanti. Aku baru selesai mengurus semua administrasinya. Termasuk mengambil seragam. Makany Aku tahu kalau seragam kita sama."
"Baiklah, kita teman Leona."
"Ayo Aku antar pulang, sopirku ada di sebrang."
"Terima kasih Le."
"Dalam kamus pertemananku, tidak ada kata terima kasih Zay."
"Okey, apapun itu Aku akan tetap jadi sahabatmu. Dalam keadaan apapun." Tekatku kala itu.
Lamunan Zaydar tersadar kala sebuah kacang kulit mengenai jidatnya.
"Woi Zay, mikirin apa Lo? Sampai ngalamun gitu, dipanggil juga nggak nyaut-nyaut." Tanya Arga yang terkenal paling usil saat sedang berkumpul seperti ini.
"Lagi mikirin masa lalu." Jawab Zay singkat.
"Kisah masa lalu Gue, karena dirumah ini Gue jadi ingat saat pertama Gue ketemu Leona." Jujur Zaydar.
"Udahlah. Kalau sesuatu yang menyangkut si Lele, semua orang punya ceritanya sendiri-sendiri." Sanggah Dirga.
"Benar banget tuh." Jawab Ando dan diangguki semuanya.
"Eh, apa apaan tuh pakai sebut-sebut nama Gue. Panggil Gue Leona, bukan Lele. Emang Gue punya kumis apa dipanggil ikan lele. Ogah Gue." Sergah Leona saat menuruni tangga selepas mandi.
"Iya Leona sayang." Rayu Arga.
"Wah, playboy karatan sudah mulai berani yah panggil-panggil sayang?"
"Enak saja karatan! Masih mulus nih, tega bener Lo bilang Gue karatan."
"Kalau nggak karatan kenapa udah lama nggak laku?"
"Wah Le, parah Lo. Pulang nih Gue lama-lama."
"Sudah-sudah. Kenapa malah pada ribut sih." Nena menengahi keduanya.
"Do, ada jadwal nggak minggu depan?" Tanyaku pada Ando. Sudah pasti yang Aku tanyakan soal Race.
"Untuk sebulan ini kita free dulu Le. Dua minggu lagi ada PAS. Jadi anak-anak sepakat buat kita-kita fokus belajar."
"Wih, nggak kerasa ya. Bentar lagi kita kelas tiga." Semangat Dirga.
"Masih setengah tahun lagi kali Dir. Ini baru semester pertama." Potong Zaydar.
"Okey, jadi semua free tapi buat donasi rutin masih tetap jalan." Tanyaku.
"Yes." jawab Ando dengan ibu jarinya yang terangkat.
"Pas nih. Liburan nanti pas jadwal bang Nadeo buat pulang. Kita bisa minta tambahan dana." Ideku.
"Bang Nadeo emang the best." Arga bersuara.
"Abang pulang. Nene nggak sabar buat ketemu Abang." Lirih Nena yang tidak ada satupun dapat mendengarnya dengan jelas.
"Lo ngomong apa Ne?" Tanya Ando.
"E eh, nggak. Aku nggak ngomong apa-apa kok."
Tanpa sepengetahuan siapapun, Nena menjalin hubungan dengan Abang sulung Leona. Mereka serius menjalin hubungan. Cukup lama, Nadeo mengutarakan hatinya saat Nena duduk di kelas satu SMA. Mereka juga intens bertukar kabar. Berbekal rasa saling percaya antara keduanya, hubungan mereka mulus tanpa hambatan.
Nadeo Argawinata Arthur, putra pertama Arthur Coraldo. Pria berusia 25 tahun itu menaruh hati pada adik angkatnya sejak dia masih berada di bangku SMA. Meski jarak umur mereka terbilang terpaut tujuh tahun, tapi itu bukan kendala. Sifat Nena yang dewasa bisa mengimbangi diri Nadeo dalam segala hal. Hanya satu yang disayangkan. Mereka masih backstreet dari semua orang.
Mereka berencana mengungkap hubungan mereka ketika Nena lulus sekolah.
*** Lanjut besok lagi ya reader...
Jangan lupa kasih dukungan, vote like komentnya...
Ditunggu juga sarannya yang membangun ya besty...