ZaLea

ZaLea
Amazing



"yuk masuk, kita lihat hasilnya." ajak Zayn, tangannya reflek menggandeng tanganku.


Aku yang sudah terpana dengan tampak depan rumah pohon itu menurut begitu saja.


"Zayn, ini yakin designnya kamu yang buat?" Tanyaku tidak percaya setelah kami selangkah didepan pintu masuk.


"Kamu lihat sendiri by, design ini belum pernah ada atau belum pernah aku temui sebelumnya." katanya." Ini murni keluar dari otakku, dan mungkin ini bisa jadi rekomendasi design ruangan di cafe kamu." Imbuhnya.


"Yakin mau ngasih design ini buat cafe aku?"


"Kalau buat kamu kenapa tidak?" Jawab Zayn.


"Zayn, sebenarnya apa yang kamu mau dari aku?" tanyaku sedikit curiga. "Ini bukan gaya kamu. Setahuku Zayn yang aku kenal bukan seperti ini." lanjutku.


"Memangnya Zayn yang kamu kenal selama ini seperti apa by?"


"Ya, ya Zayn yang aku tahu. Dia seorang yang dingin, sok cuek, suka maksa, sok ganteng, banyak lainnya." Jawabku terbata karena gugup. "Ini nggak kamu banget."


"Kamu benar by, di mata orang yang belum kenal baik dengan aku, aku memang seperti yang kamu sebutkan tadi." Jawab Zayn yang sedang berjalan menuju jendela di rumah pohon ini.


"Tapi tunggu, aku bukan sok ganteng ya. Karena kenyataanya pacar kamu ini memang ganteng by."


"Cih, narsis." gumamku.


"Bukan narsis by, tapi kenyataan. Bukankah begitu?"


"Hm..". 'Ya Tuhan, ada ya manusia se narsis ini. Parahnya dia pacarku.' Lanjutku dalam hati.


"Sini deh by." Ajaknya, memintaku mendekat padanya.


"Cantik nggak?" Tanya Zayn saat aku sampai di sebelahnya. Zayn menunjuk kearah jauh kedepan.


"Wow, amazing. Cantik banget Zayn." Ucapku spontan saat mataku menangkap kebun bunga yang tertata rapi dengan berbagai jenis bunga didalamnya yang sangat pas dipadu padankan.


"Sayangnya, ada yang lebih cantik dari kebun bunga itu."


"Apa Zayn? Dimana?"


"Di sini, di hadapan aku." Jawabnya yang membuatku langsung menoleh. Zayn sudah beralih posisi yang tadi menghadap jendela kini menghadap tegak ke arahku. " Kamu lebih cantik dari apapun by." lanjutnya.


"Itu fakta." Jawabku, setelahnya aku kembali menatap kebun bunga itu. Jujur, saat ini hatiku layaknya taman bunga seperti yang aku lihat. Tapi tidak mungkin juga aku memperlihatkannya pada Zayn. Buru-buru aku menetralkan hatiku yang hampir porak poranda hanya karena mendengar gombalan dari Zayn.


"Back to topic Zayn, apa maksud kamu bawa aku kesini?"


"Tidak ada maksud apa-apa by. Aku cuma mau menghabiskan waktu berdua dengan kamu dan kamu orang pertama yang aku ajak kesini."


"Really?"


"Yes, of course."


"Jadi?"


"Jadi, ini tempat kita. Tidak ada orang lain yang bisa masuk ke sini tanpa seijin kita."


"Katakan saja seperti itu by, asal kamu bahagia."


"Tapi sayang Zayn, hatiku masih belum bergerak untukmu."


"Itu karena kamu tidak mau Membukanya by. Buka hatimu dan biarkan aku masuk." pembicaraan kami sudah semakin serius. Aku harus lebih waspada.


"Lakukan semaumu, mungkin besok, lusa atau hari berikutnya aku bisa membukanya."


"Okey by, untuk sementara ini tidak apa. Asal kamu tidak mengucap putus pada ku. Masih aku maklumi."


Zayn tidak tahu saja, sejak kejadian di cafe dulu aku sudah memutuskan untuk membuka hati ini untuknya.


Suasana hening cukup lama, kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Mata kami memandang jauh ke depan.


"By, i love you!" ucapan Zayn yang masih menatap depan memecah keheningan.


"Aku tahu Zayn." lirihku.


"Tidak bisakah kamu membalas kata-kataku? Sebatas kata?" tanyanya seperti menuntut.


"Apakah kamu mau mendengar kebohongan? Sesuatu yang terlihat manis tapi sesungguhnya itu hanya kata-kata kosong belaka?" aku balik bertanya.


"Belum adakah setitik cahaya untukku di hatimu?" tanya Zayn yang terdengar sangat lembut. Kini posisinya sudah kembali memghadapku.


"Setitik, ya hanya setitik." jawabku menampilkan senyum terindah serta menyatukan ibu jari dan telunjukku.


Zayn membalas senyum itu. Aku tahu, senyumku memberikan semangat baru baginya untuk berjuang meluluhkan hatiku. Memang itulah yang aku inginkan.


Aku juga harus meyakinkan perasaannya dan perasaanku sendiri sebelum aku menyerahkan hati ini untuknya.


Direngkuhnya tubuhku ke dalam pelukannya. Aku tidak menolak selama itu masih dalam tahap wajar karena tadi aku yang mengatakan untuknya melakukan semaunya.


"Terima kasih By, terima kasih sudah memberiku harapan. Meskipun itu baru setitik. Tapi aku pastikan, cahaya yang baru setitik itu akan menyebar luas memenuhi ruang hatimu." tuturnya.


"Inikah Zayn Gibran Alvaro yang sebenarnya?" Kembali aku menanyakan, aku mendongak menatapnya dari bawah. Zayn bukan Zayn yang aku kenal diluaran.


"Apa lagi yang kamu ragukan By?"


"Kamu begitu hangat dan lembut Zayn." Kata itu meluncur begitu saja.


Mata kami saling mengunci. Tatapannya terasa mendamba. Zayn mengendurkan pelukannya.


"Bolehkah aku merasakannya lagi tanpa memaksa?" tanyanya saat sebuah jari mengelus bibirku dan berakhir memegang daguku.


"Bukankah kamu lebih suka memaksa?" Jawabku spontan dengan seringaiku.


"By?" Pintanya, hanya aku balas dengan senyuman. Seakan bisa mengartikan senyumanku, Zayn perlahan menurunkan kepalanya. Dengan perlahan kedua bibir kami bertemu. Awal yang lembut, sangat lembut Zayn memagut bibirku dengan hati-hati. Ciuman itu semakin dalam tidak ada lagi kesan memaksa, meskipun aku belum membalasnya.


#To be continued...


jangan lupa vote coment dan likenya ya... plese, kiriman hadiahnya dong.