ZaLea

ZaLea
Ale *AryaLeona*



"Za Zayn!" Aku tergagap, otakku tiba-tiba kosong. Seperti seorang yang tengah terpergok selingkuh oleh kekasihnya.


Segera ku tarik tanganku yang ada di genggaman Arya. Arya hanya diam. Tidak tahu apa yang ada dipikiran kedua laki-laki yang ada dihadapanku saat ini.


"Baby, Kamu disini? Maaf, seharian Aku nggak kasih kabar sama Kamu. Aku lagi ada kerjaan sama papa." Jelas Zayn dengan wajah datarnya. Apa ini? Aku tidak bisa menebak apa yang dipikirkan Zayn. Tidak ada emosi didalam kalimatnya.


"Ahh, iya Zayn. Kenalkan, ini Arya. Dia temanku." Tidak tahu apa yang akan Aku katakan, akhirnya Aku memperkenalkan Arya pada Zayn.


"Hallo, Aku Zayn. Kekasih Zara." Jelas Zayn. Diulurkan tangannya kearah Arya.


"Arya." Balas Arya menyambut tangan Zayn. "Al, dia menyebut kamu dengan panggilan Zara?" Imbuh Arya mengarah padaku.


"Memangnya kenapa? Apa salahnya?" Sergah Zayn sebelum Aku menjawab kalimat Arya.


"Bukan, tidak ada yang salah dengan panggilanmu." Jawab Arya sambil terkekeh.


"Ar," Panggilku pada Arya. Berharap Dia mau mengerti kode yang Aku berikan.


"Oh iya Zayn, Kamu baru datang atau sudah selesai?" Tanya Arya.


"Aku baru dari dalam. Tadi habis bertemu sama kolega papa." Jelasnya.


"Ya sudah, kalau gitu. Al, kita pulang sekarang ya. Aku takut tante Viona nyariin kamu. Aku juga pengen ngobrol sama tante. Kangen juga suasana rumah kamu." Ajak Arya.


"Zara biar saya antar pulang." Sergah Zayn.


"Ale kesini bareng Saya. Itu berarti Ale tanggung jawab Saya. Permisi." Arya beranjak dari duduknya dan langsung menarikku keluar.


Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Hatiku berat, entah pada siapa. Tapi kakiku menurut saja pada langkah Arya. Zayn hanya diam dalam pandangannya.


"Zayn, maaf." Lirihku menatap kearahnya. Entah Zayn dengar atau tidak Aku tidak tahu.


Sampai di samping mobil, Arya langsung membukakan pintu untukku.


"Masuk Al." Akupun menurut. Tidak tahu apa, Aku tidak bisa menolak apa yang Arya katakan langsung didepanku.


"Kita ke apartemenku Al." Ucap Arya saat sudah melaju.


"Bukannya Kamu mau mengantarku pulang Ar?"


"Kita masih butuh waktu Al, masih banyak yang mau Aku katakan padamu."


"Tapi mama?"


"Tadi saat istirahat, Aku sudah minta ijin sama tante Viona."


"Jadi, mama sudah tahu kamu pulang?"


"Iya. Semalam setelah laki-laki itu mengantarkan barangmu yang tertinggal di mobilnya, Aku datang kerumah dan mengobrol sebentar sama tante Viona."


"Mama kok nggak bilang apa-apa sama Aku?"


"Gimana mau bilang, Kamu saja tidak pulang semalam."


"Iya juga sih " Gumamku, "Aku saja belum pulang dari semalam."


"Al, Aku tahu semua pergerakan Kamu. Aku tahu genk motor Kamu. Aku tidak akan menghalangimu. Aku cuma mau kamu baik-baik, kamu harus hati-hati."


"Terima kasih Ar."


"Sudah sampai, yuk turun!."


"Aku turun sendir Ar." Sahutku, Aku tahu Arya akan kembali membukakan pintu untukku.


"Iya." Jawabnya. bergerak membuka pintu mobil bersamaan denganku.


"Ar, ini beneran Kamu sudah ijin sama mama kan?" Tanyaku memastikan saat kami berjalan kearah lift.


"Iya sayang, Kalau tidak percaya Kamu boleh telepon lagi tante Viona." Perasaanku sedikit menghangat mendengat Arya memanggilku dengan sebutan Sayang.


"Ya sudah, nanti sampai di dalam Aku beneran konfirmasi sama mama."


Bip bip bip bip bip bip ting.


"Silahkan masuk princess." Ucap Arya ketika membuka pintu.


"Hm, Ar. Kenapa Kamu nggak pulang ke rumah utama Kamu saja? Kamu tinggal disini?"


"Dirumah terlalu banyak penjagaan Al dan Kamu tahu dari dulu Aku tidak suka dikekang."


"I know."


"Dan Aku tahu, Kamupun sama." Jawab Arya seraya berjalan kearahku dengan sebotol jus buah naga dan dua buah gelas kosong.


"Jus buah naga, Ar. Sudah lama Aku tidak meminumnya."


"Maaf, gara-gara Aku. Kamu jadi seperti merubah jati dirimu." Arya mendudukan dirinya tepat disampingku dan menuangkan jus itu kedalam gelas. Aku hanya tersenyum mendengarnya.


Hening...


greb


Tanpa aba-aba Arya memelukku dengan erat. Lama tidak ada satu katapun terucap.


"Arya."


"Aku merindukanmu Al, Aku rindu padamu my princess."


Suara Arya bergetar, menyeruakan semua isi hatinya. Pelukannya semakin mengerat. Dari suara yang keluar, Aku tahu bahwa Arya menitikan air mata.


"My prince." Lirihku. Akupun ikut membalas pelukan Arya.


Tidak dipungkiri, Aku juga sangat merindukan Arya. Hangat dekapannya yang sangat Aku rindukan. Walaupun dulu kami masih 13 tahun, masih terlalu kecil untuk mengatakan kata cinta. Tapi waktu itu kami selalu menghabiskan waktu bersama. Bahkan bisa dibilang kami tidak terpisahkan.


Setelam berapa lama Arya melerai pelukan kami, Dielusnya pipiku. Kedua tangannya menangkup pipiku. Matanya intens menatap kearahku.


"Ale, maaf sayang. sepertinya beribu kata maaf tidak bisa menggugurkan kesalahanku." Derai air mata ku lihat dari mata amber itu.


"Arya, jangan menangis. Aku nggak suka lihat kamu menangis. Dimana Aryaku dulu? Aryaku yang selalu kuat, Aryaku yang ceria dan selalu tersenyum kepadaku?" Aku usap bulir air mata yang jatuh di pipi Arya.


Terdiam.


Perlahan Arya mendekat, Aku tahu apa yang akan Arya lakukan. Sepertinya Aku juga menginginkannya. Sejalan dengan semakin mendekatnya Arya, perlahan juga Aku menutup mataku.


Kedua benda bertemu dengan sangat lembut. Menyalurkan apa yang ingin disalurkan. Tidak ada na*su di dalamnya, hanya ada rasa rindu yang tersalurkan. Walau baru pertama kali kedua benda itu bertemu, seperti mewakili beberapa tahun tidak bertemu selama itu pula kedua benda itu tidak saling melepas. Bukan, bukan bendanya yang tidak saling melepas. Tapi kedua pemiliknya yang seakan tidak rela untuk saling melepaskan.


"Al."


"Ar." kedua kata itu keluar dari kedua benda yang sesaat terlepas. Sedetik setelahnya, keduanya kembali bertemu.


Kali ini, sedikit berbeda. Ada sedikit lu**t*n dan decap*n terdengar. Bertambah ada sedikit rasa pelepasan. Rasa untuk melepas kerinduan yang membuncah dari kedua ank manusia.


Tanpa Aku sadari, tanganku sudah mengalung di belakang leher Arya dan tangan Arya berada di pinggang dan punggungku. Entah Arya sadar atau tidak, Dia mengangkatku ke dalam pangkuannya. Arya semakin memperdalam lu****nnya.


Sedikit tersadar dan tidak ingin terjadi sesuatu yang lebih jauh, Aku mendorong tubuh Arya.


"Arya. Ini salah." Tapi hanya sebatas itu. Saat mengatakannya bahkan Aku masih ada diatas pangkuan Arya.


"Aku tidak akan berbuat lebih princess. Aku tahu batasanku."


"Apa Kamu sering melakukan ini sewaktu di prancis?"


"Aku tidak mengenal wanita manapun selain Kamu sayang."


"Oh iya?" tanyaku seakan meragukan. Saat Aku ingin beranjak, Arya menahanku.


"Biarkan seperti ini dulu princess."


"Ar, 4 tahun tidak bertemu Kamu jadi terlihat liar."


"Hanya didepanmu."