ZaLea

ZaLea
Wacana Bergabung



"Pagi semua." Sapaku pada SDP squad dengan senyum yang mengembang.


"Pagi." Balas semuanya.


"Cerah benar Le?" Timpal Nena selepas Aku duduk di kursiku.


"Iya Ne, semua sudah clear sama Zayn. Gue juga sedikit plong rasanya."


"Soal Arya?"


"Hm. Itu yang utama Ne. Gue ngerasa bersalah banget sama Zayn."


"Tp Dia welcome saja kan?"


"Iya, untungnya Zayn mau maafin kesalahanku yang itu."


"Gue lebih setuju Lo sama Zayn daripada sama Si Arya-Arya itu Le." Sergah Dirga membalikan badan.


"Gue juga." Sahut Arga.


"Noh, orangnya datang." Ucap Ando ketika Arya baru masuk ke kelas.


Arya yang baru masuk pun seketika menatapku. Aku yang tahu itu, segera memalingkan pandangan. Canggung rasanya mengingat kejadian waktu itu.


"Le, waktu itu nggak kenapa-kenapa kan?" Nena memang yang paling ngerti. Dia seperti bisa baca hati Aku.


"Nggak apa kok Ne. Semua aman terkendali." Jawabku menenangkan.


"Sukur deh."


"Tapi kok Kalian seperti jadi perang dingin gitu ya?" dalam hati Nena merasa ada yang janggal. "Ya sudahlah, mungkin belum waktunya Kamu mau berbagi cerita." Tambahnya.


*****


"Pagi By." Sapa Zayn ketika Aku dan teman-temanku dikantin saat istirahat pertama.


"Pagi Zayn." Balasku menatapnya.


"Cie, tambah lengket nih kayaknya?" Ejekan si biang gosip terdengar. Siapa lagi kalau bukan Dirga.


"Kamu sendirian? Teman-teman Kamu mana?" Tanyaku saat melihat Zayn yang menghampiri kami sendiri.


"Tuh, mereka di meja sana."


"Kamu mau disini apa sama mereka? Aku nggak enak Zayn, kalau hanya demi Aku. Kamu jadi agak jauh sama mereka."


"Ajak gabung saja mereka kesini." Potong Ando.


"Emang boleh mereka gabung kesini?" Tanya Zayn sedikit berkerut.


"Kenapa nggak? Kalau mau ya gabung saja." Jawabku dengan senyum mengembang.


"Boleh gabung nih?" Anthony memastikan.


"Duduk saja." Jawab Ando, Aku hanya diam mendengar tingah basa-basi mereka.


"Wah, kayaknya dua gank motor bisa bersatu nih." Celetuk Arga.


"Uhuukk... uhuukkk...." Celetukan Arga membuat Aku tersedak. Untung saat ini Aku sedang minum. Andai Aku tersedak saat Aku makan siomay, Bisa langsung melayang sebelah sepatuku ke kepalanya.


"Hati-hati By. Nggak ada yang minta kok."


"Emhm..." Ando berdehem menetralkan. Semua yang ada disini merasa sedikit tersentil dengan celetukan Arga.


"Benar juga yang Lo bilang Ar. Tapi sayang, leader MS nggak da disini."


"Ehmmmm..." Kali ini Aku yang berdeham.


"Nggak apa, Leon nggak pernah ngambil keputusan sendiri disini kok. Kalau kita setuju, 80% Leon juga setuju." Andi memberi pendapat.


"Serius Do?" Tanyaku sengan lirikan maut padanya.


"Ehehehe,.. Gue bilang 80%, jadi ada 20%nya Leon punya pendapat sendiri. Ya nggak Guys?" Sanggahnya membela diri seraya meminta dukungan dari yang lain.


"Gue sependapat. Leon emang tegas, tapi Dia selalu melibatkan kita dalan keputusannya." Timpal Arga.


"Gue salut sama kalian." Balas Anthony mengangguk-anggukkan kepala.


"Gue jadi pengen kenalan sama Leon." Celetuk Ridho.


"Nggak usah kenalan segala. Kalau ketemu di race ya tinggal balapan saja." Putus Zayn yng sedari tadi hanya melirikku.


Aku tahu dan Aku merasa, memang sedari tadi Zayn terus mekirikku seolah mencari jawaban atas semuanya.


"Emang Lo nggak penasaran lagi Zayn?."


"Sudah nggak. Buat apa berusaha mengenal orang yang nggak mau dikenal."


"Maksud Kamu apa Zayn?" Jujur, Aku menatapnya bingung.


"Bukan apa-apa By, menurut Aku. Mungkin saja Leon punya alasan sendiri sehingga Dia nggak mau identitasnya terekapose. Nanti kalau sudah waktunya, Dia pasti bakal ngasih tahu semua." Jawabnya.


"Owh..." Hanya itu yang keluar dari mulutku.


Tanpa sadar, saat Aku dan Zayn berbalas tanya jawab. Semua perhatian sekeliling Kami tertuju pada Kami tanpa sepatah kata.


Hingga Kembali suara Dirga terdengar. "Serasa habis lihat Drama keluarga ya? Hahhhahaha..." Selorohnya sambil tertawa.


"Dah, balik makan. Dari tadi makanan dianggurin." Ucap Zaydar yang dari tadi hanya menyimak dengan Nena.