Without Time Until Last

Without Time Until Last
Episode 41



Juliet melepas sepatunya sembari menyalakan lampu apartemen miliknya yang sudah sangat


lama tidak di kunjungi sejak menikah. Masih sama seperti sebelum dia pergi,


semuanya tertata rapi, makanan di lemari pendingin kosong hanya tersisa


beberapa wine. Wanita itu melepas blazernya dan menaruh tasnya di sofa,


mengambil air mineral yang ada di meja dan duduk sejenak di meja makan. Tanpa


disadari ponselnya yang ada di dalam tas berdering, panggilan dari Adrian, dia


melupakan kalau Adrian akan menjemputnya. Hingga pintu apartemennya terbuka


beberapa menit kemudian. Adrian berdiri didepan pintu sembari menghela nafas


berat, pria itu menghampiri Juliet dan mencium bibirnya seduktif.


Adrian mengangkat tubuh Juliet dan didudukkan di meja tanpa melepas ciuman mereka,


tangan Juliet meraba dada Adrian yang masih terbalut kemeja warna biru muda


yang dipakainya. Ciuman mereka terlepas, Adrian menyentuh pipi Juliet dan


mengusapnya lembut.


“aku beberapa kali menghubungimu, tapi tidak ada jawaban, bukankah aku menyuruhmu


untuk stay dan aku akan menjemputmu”.


“maaf, aku melupakannya”.


“tidak masalah, lain kali angkat teleponmu”.


Juliet mengangguk dan memeluk Adrian erat.


Mereka duduk di sofa sembari menonton tayangan televisi, sambil menunggu makan malam


yang mereka pesan beberapa waktu yang lalu namun tak kunjung datang. Siapa lagi


kalau bukan Kevin yang membelikan malam-malam makanan yang di inginkan oleh


Juliet.


Juliet duduk di pangkuan Adrian dengan tagan Adrian yang terus memeluk Juliet,


sesekali mengusap perut Juliet. Pria itu menghembuskan nafasnya di rambut


Juliet “aku suka wangimu”. Ucap Adrian yang hanya membuat Juliet terkekeh


pelan.


Makanan mereka datang, Kevin hanya menaruhya di meja dan meninggalkan apartemen Juliet.


Adrian dan Juliet menghabiskan makan malam mereka disana, makanan yang di


ingkan Juliet sekaligus makan malam Adrian.


“aku mendapatkan sekretaris pengganti, namanya Luna, dia mahasiswi”.


“kenapa kau memilihnya?”.


“aku suka cara dia berbicara dan melihat orang lain, pekerjaannya sangat bagus”.


“bagaimana kuliahnya?”.


“Luna akan cuti selama dua bulan, kalau kerjanya bagus aku akan membayarnya dua kali


lipat”.


“semoga dia bisa bekerja baik”.


“semoga”.


Selesai menghabiskan makan malam, Juliet langsung ke kamarnya untuk membersihkan diri,


sedangkan Adrian mengerjakan beberapa pekerjaan yang harusnya di lembur, tapi


kekhawatirannya terhadap Juliet membuat dia menghentikannya sementara.


Adrian duduk bersandar di ranjang dengan laptop yang dihadapannya.


“kau tidak mandi terlebih dahulu?”. Tanya Juliet sehabis dari kamar mandi, wanita


itu hanya memakai jubah mandinya.


“sebentar lagi”.


Juliet hanya mengangguk dan mengganti jubah mandi yang dipakainya dengan baju tidur


yang diambil dari lemari, tepat di depan Adrian dia mengganti pakaiannya. Pria


itu hanya memandangi tubuh Juliet dari belakang yang semakin hari semakin


menggoda dimatanya. Juliet berbalik badan setelah memakai pakaian tidurnya.


“apa ada yang salah?”. Tanya Juliet saat melihat pandangan Adrian


“tidak ada, tidurlah”. Adrian menepuk ranjang sebelahnya


Juliet melangkahkan kakinya menuju ranjang dan merebahkan tubuhnya disebelah Adrian,


wanita itu sedikit memeluk pinggang Adrian yang tengah duduk menyandar di


sandaran ranjang.


Sembari melihat Adrian yang mengerjakan pekerjaannya, Juliet mulai tertidur. Adrian


yang menyadari hal tersebut, meletakkan laptopnya dan menata tidur Juliet agar


wanita itu lebih nyaman. Selesai semua, Adrian menuju kamar mandi membersihkan


tubuh.


Jam menunjukkan pukul 7 pagi saat Adrian membuka matanya, disamping masih ada


Juliet yang terlelap, beberapa telepon masuk ke ponsel Juliet, Adrian hanya


melihatnya sekilas karena kalaupun dijawab juga sudah terlewat. Sebelum membangunkan


Juliet, Adrian menghubungi Kevin untuk menyiapkan sarapan untuk mereka berdua


di meja makan, lalu setelahnya pergi kekamar mandi.


Adrian sudah menggunakan pakaian rapi, hari ini dia akan menghadiri rapat penting


anggota big mafia. Pria itu menyentuh pipi Juliet lembut sembari berbisik


lirih.


“bangun sayang”. Ucap Adrian yang membuat Juliet menggeliat dan membuka matanya


“jam berapa sekarang?”.


“setengah 8”.


“biarkan aku tidur 15 menit lagi”.


“sayang, kau harus sarapan tepat waktu, ayo bangun”.


“iya iya”. Juliet bangun dari tidurnya menuju kamar mandi, sedangkan Adrian keluar


kamar, dimeja makan sudah ada makan pagi yang dipesan oleh Adrian pada Kevin.


Beberapa menit kemudian Juliet keluar dari kamar dengan pakaian kerja yang sudah rapi,


dan rambutnya dan dibiarkan tergerai. Wanita itu melihat dimeja ada segelas


susu.


“kau minum susu Adrian?”. Tanya Juliet sambil duduk


“milikmu”.


“aku tidak suka susu”.


“kau butuh, demi anak yang ada dalam kandunganmu”. Juliet mengusap perutnya


“baiklah”.


Selesai menghabiskan makan pagi, mereka berdua berangkat kekantor masiing-masing,


terlebih dahulu Adrian mengantarkan istrinya kemudian dia sendiri menuju markas


big mafia.


Gedung menjulang tinggi dengan banyak sekali penjagaan di luar maupun didalam sama


halnya dengan organisasi gelap. Mobil Adrian memasuki gedung tersebut saat


beberapa orang sudah ada disana, termasuk Kevin.


“tuan”. Panggil Kevin menghampiri Adrian yang baru saja keluar dari mobilnya


“Kev, jam berapa?”.


“jam 9 lebih 30 menit tuan”.


“baiklah”.


Adrian dan Kevin menuju ke lantai 10 dimana akan diadakan rapat penting anggota big


mafia, disana juga ada jeff yang baru saja datang dari paris.


“jeff”.


“hei men”.


“kapan sampai disini?”.


“baru saja tadi pagi, kenapa kau mendadak mengadakan rapat anggota, bahkan tahun ini


kita sudah mengadakannya”.


“hanya ingin meneliti, ada yang aneh dengan data bulan ini”.


“wahh kau jeli sekali, bagaimana mungkin ada yang mengkhianatimu”.


“entahlah, tapi aku sudah tau siapa”.


“bagus”.


Sedangkan disisi lain, Luna memasuki ruangan Juliet sembari membawa beberapa berkas yang


harus ditanda tangani Juliet.


“nyonya, ada yang harus ditanda tangani”.


“taruh saja dimeja”.


“baik nyonya”. Luna menaruh berkas lembaran kertas tersebut dimeja, dia bahkan


melamun saat melihat foto Adrian di meja Juliet.


“ada apa lagi Luna?”. Tanya Juliet sambil melihat kearah Luna


“tidak ada nyonya, saya permisi”.


Juliet mengangguk, dia merasa ada yang aneh dengan Luna. Wanita itu menghubungi kode D


*“halo kode X”. *


“kau bisa datang ke Aero Corp sekarang?”.


“tentu saja kode X”.


Juliet menutupp ponselnya, tidak butuh lama saat Luna mempersilakan kode D masuk


keruangan Juliet, Juliet menghampiri kode D yang duduk di sofa setelah menutup


rapat pintu ruangannya.


“kau tahu wanita yang mempersilakanmu masuk?”.


“ya kode X, dia sekretaris yang baru?”.


“benar, aku mau kau mencari semua tentangnya”.


“apa ada yang aneh”.


“ya, aku tidak akan mencari tahu tentangnya kalau tidak ada yang aneh”.


“baik kode X, saya akan segera kembali dengan data tentang wanita itu”.


“bagus”.


Kode D meninggalkan ruangan Juliet, pria itu sekali melihat kearah Luna, ketimbang


seorang sekretaris, Luna lebih cocok sebagai mata-mata.


Luna duduk di balik mejanya, wanita itu baru saja mendapatkan surel dari Kyle.


Wanita itu tengah hamil, aku mau kau membunuh janin yang ada dalam kandungannya


Luna terdiam, dia bukan penbunuh walaupun dia sudah berjanji pada Kyle akan


membantunya, tapi tidak membunuh orang lain apalagi bayi yang dikandung oleh


majikannya.