
Juliet masuk keapartemennya membawa banyak paper bag dan ditaruh di meja, wanita itu mencari
Yasmine, hingga menemukannya di balkon bersama Flody.
“Yas”. Panggil Juliet yang membuat Yasmine menengok
“Juliet, kau sudah kembali”.
Juliet membawa Flody kedalam gendongannya “aku membelikanmu beberapa pasang pakaian, ada dimeja, kau
bisa melihatnya sendiri”.
Yasmine tersenyum sembari sedikit berlari kearah meja dimana Juliet menaruh belanjaannya, Yasmine sangat senang, untuk pertama kalinya wanita itu memakai pakaian bagus setelah beberapa tahun menjadi tahanan di club malam dan hanya memakai baju minim seadaannya dari club.
“thank you”. Yasmine memeluk Juliet erat
“sama-sama, cobalah, kurasa itu ukuranmu, maaf aku tidak mengajakmu pergi belanja bersama”.
“tidak apa-apa, aku senang sekali”.
“baguslah kalau kau menyukainya”.
Jam menunjukkan pukul 7 malam, Juliet tengah bersiap di kamarnya. Wanita itu sangat cantik memakai
dress warna hitam pendek, rambut yang dibiarkan tergerai panjang berwarna pirang. Memakai riasan tipis seperti biasanya, Juliet keluar dari kamar, diluar tidak ada siapa-siapa, setelah makan malam Yasmine langsung masuk kamarnya sedangkan Flody tengah tertidur dikarpet ruang santai.
Juliet keluar dari apartemen, menuju apartemen milik Adrian.
Pintu terbuka, Adrian sangat tampan dengan kaos putih yang di pakainya, pria itu tersenyum melihat
kedatangan Juliet keapartemennya sesuai janjinya tadi sebelum mereka berpisah di lift. Juliet dengan santainya masuk kedalam apartemen Adrian, sedangkan pria itu hanya mengikuti dibelakangnya.
Hingga Juliet menuju dapur, dia melihat isi lemari pendingin melik Adrian yang full dengan wine sekarang
kosong, hanya minuman berkaleng.
“kau mencari wine?”. Tanya Adrian yang memeluk Juliet dari belakang
“hanya memastikan kalau kau tidak menyimpannya lagi”.
Adrian terus menciumi pundak Juliet yang terekspos, hingga pria itu melihat sebuah bekas luka di lengan atas belakang. Sedikit terkejut, Adrian membalikkan tubuh Juliet menghadap kearahnya. Pria itu menyentuh lembut pipi Juliet “kau tidak mengatakan kalau ada luka, kapan?”. Tanya Adrian yang membuat Juliet menunduk
“itu tidak sengaja tergores kaca”.
Adrian menatap mata Juliet hangat “kenapa kau masih bekerja pada mereka? Aku tidak ingin kau terluka, aku
bisa menghidupimu, bagaimana kalau kita menikah saja?”.
Juliet melepaskan tangan Adrian dari pundaknya, dan menatap Adrian tajam.
“dari awal aku sudah katakan jangan ikut campur dengan urusanku, pekerjaanku”.
“maaf, kau tau aku selalu khawatir tentangmu”.
“aku bisa menjaga diriku sendiri, demi daddy”.
Adrian hanya diam, dia berdehem lalu membuka lemari pendinginnya yang berisi beberapa sayuran yang
dibelinya tadi. “duduklah, aku akan memasak makan malam untukmu”. Ucap Adrian
“hahaha kapan kau bisa memasak?”.
Adrian melihat kearah Juliet yang terkekeh “rasakan saja nanti, kau akan menyukainya”.
“baiklah-baiklah”.
Juliet meninggalkan Adrian yang tengah memasak di dapur, wanita itu pergi kekamar Adrian. Disana ada
sebuah foto besar, wajah Juliet yang tengah tersenyum dari samping. Di nakas juga ada foto mereka berdua, saat Juliet membuka laci, dia menemukan foto Adrian bersama kedua orang tuanya dan juga Gabriella.
Juliet tersenyum melihat keluarga lengkap Adrian, berbeda dengannya yang bahkan kedua orang tuanya tidak
ada sejak Juliet sendiri kecil. Juliet kembali meletakkan foto keluarga Adrian pada tempatnya, namun Juliet juga menemukan sebuah memori kecil yang membuat Juliet sedikit penasaran. Juliet mengambil memori tersebut dan memasukkan nya kedalam gelang yang dia pakai, setidaknya gelang tersebut dibuat untuk menaruh chip dan kebetulan Juliet memakainya.
keluar kamar manuju meja makan, makanan sederhana tersedia dimeja makan.
Juliet duduk dimeja makan didepan Adrian, wanita itu meminum air putih yang disediakan di meja, dan mulai
mencoba makanan yang dibuat oleh Adrian.
Adrian meihat Juliet menunggu wanita itu bersuuara atas makanan yang dibutnya malam ini, tapi reaksi
Juliet hanya mengangguk-anggukan kepala.
“jadi apa?”. tanya Adrian
“lumayan”.
“lumayan doang?”.
“iya, kenapa?”.
“kau tidak ingin memuji makanan yang kubuat”.
“biasa aja makanannya”.
“terserah lah”.
Juliet tertawa lebar, “hahaha makanan ini sangat enak, aku hanya becanda”. Juliet kembali memakan makanan yang ada dihadapannya dengan lahap, sedangkan Adrian malah memilih mengamati wanita itu sembari
tersenyum.
Selesai menghabiskan makan malam, Juliet membersihkan piring kotor sedangkan Adrian menuju kamarnya, pria
itu melihat dilaci dan benar dugaannya, Juliet mengambil memori miliknya yang ditaruh di laci samping ranjang.
Juliet masuk kamar milik Adrian, melihat pria itu yang tengah berada di kamar mandi, Juliet memutuskan
untuk tidur diranjang milik Adrian, memejamkan matanya sebentar.
Suara pintu kamar terbuka membuat Juliet melihat kearahnya, hanya memakai handuk yang dililitkan di
pinggang dengan tubuh dan rambutnya yang masih basah karena air. Juliet langsung memalingkan wajahnya pura-pura menata rambutnya yang berantakan, sedangkan Adrian menyentuh pundak Juliet lembut, mengusapnya pelan.
Adrian mengumpulkan rambut Juliet jadi satu genggaman tangan kanannya, pria itu mendekatkan wajahnya
kearah leher Juliet, mengecupnya perlahan, membuat banyak kissmark di leher belakang milik Juliet. Adrian selalu terdiam melihat luka yang menggores tubuh Juliet, seakan dia tidak bisa menjaga orang yang disayanginya. Tapi Juliet adalah orang yang harus ia hancurkan, namun hati Adrian terus menolak untuk menyakitinya bahkan sepucuk
kuku pun.
Adrian menurunkan dress yang dipakai Juliet, menyisakan bra dan celana dalam milik wanita itu, sedangkan
Juliet hanya diam mengikuti alur Adrian yang mengeksplotasi tubuhnya. Adrian membalikkan tubuh Juliet hingga menghadap kearahnya, mendekatkan wajahnya kewajah Juliet, mengecup bibir Juliet lembut, semakin lama ciuman mereka semakin panas, saling ******* satu sama lain. (ngga kuat aing teh, skip ae lah)
Disisi lain, Yasmine tterbangun dari tidurnya saat suara bel apartemen Juliet berbunyi beberapa
kali. Yasmine melihat keluar sepi, dia hanya beraggapan Juliet sedang tidur pulas, mau tidak mau Yasmine melihat siapa yang bertamu. Mata gadis tu terbelalak saat melihat Xander berdiri didepan pintu dengan serangkaian bunga
mawar dijam yang sudah menunjukkan pukul 9 malam.
Yasmine terjatuh dilantai, tangannya gemetar. Dia perlahan berdiri dan berjalan menuju kamar Juliet,
beberapa kali Yasmine mengetuknya pelan bahkan memanggil nama Juliet tapi tidak ada sahutan. Akhirnya Yasmine membka pintu kamar Juliet, tidak ada siapa-siapa, ranjangnya masih rapi, bau parfume Juliet masih berada di kamar itu sangat menyengat di hidungnya.
Yasmine terdiam di dalam kamar Juliet, hingga dia teringat dengan pistol milik Juliet, wanita itu
mencari-cari pistol yang harusnya Juliet memilikinya karna ada peluru ia temukan dimeja kemarin, namun beberapa tempat dia buka, tidak ada sama sekali. Suara bel sudah behenti, Yasmine keluar dari kamar Juliet menuju arah pintu, melihat dari lubang yang ada di pintu, tidak ada siapapun diluar, hatinya lumayan lega. Lalu Yasmine berfikir kembali bagaimana mungkin Xander bisa datang keapartemen Juliet.
Ponsel Juliet berdenting pesan masuk, namun wanita itu masih sibuk dengan Adrian diatas ranjang.
Aku datang keapartemenmu, tapi kau tidak membukakan pintu, kuharap kau membukanya,
aku menaruh bunga diluar, aku pulang.
______________________________________________________________________________