Without Time Until Last

Without Time Until Last
Episode 39



Juliet dan Adrian masuk kedalam club yang sama seperti club pada umumnya, bahkan


Juliet tidak merasakan ada yang berbeda, hingga membuatnya berfikir Adrian bisa


sekaya itu.


“jadi apa?”. tanya Juliet


“ini club milikku”.


“hanya itu?”.


Adrian menggeleng, pria itu menuntun Juliet ke salah satu pintu paling ujung, saat


pintu itu dibuka oleh penjaga, sebuah ruangan layaknya ballroom hotel mewah


dengan beberapa sofa yang tertata rapid an juga ada bar nya sendiri. Di ujung


ruangan luas penuh orang-orang berpakaian mahal itu ada panggung kecil dimana


seorang wanita yang hanya memakai pakaian dalam menari. Suara musiknya tidak


sebising yang diluar, hampir sama tapi dari bar nya pun banyak minuman high


class yang disediakan.


Adrian membawa Juliet duduk disalah satu sofa.


“tunggulah disini”. Ucap Adrian sambil memanggil salah satu pengawalnya hingga datang


“pastikan istriku baik-baik saja”.


“baik tuan”.


Adrian meninggalkan Juliet disana dengan pengawal Adrian.


“kemana dia?”. Tanya Juliet pada pengawal yang berdiri disebelahnya


“saya tidak tau nyonya”.


“kau bisa memberitahuku tempat apa ini?”.


“tidak, tuan Adrian sudah berpesan bahwa dia sendiri yang akan memberitahu nyonya”.


“baiklah”.


Hanya beberapa menit saat Adrian kembali menghampiri Juliet.


“maaf membuatmu menunggu sayang”. Adrain duduk di sebelah Juliet, semua orang duduk


di sofa nya masing-masing.


Penari yang ada di panggung turun dan masuk, digantikan beberapa wanita berpakaian


sangat minim masuk dan berdiri diatas panggung menunjukkan tubuh indahnya.


“maksudnya apa ini?”. Tanya Juliet berbisik


“mereka di jual”. Adrian menunjukkan sebuah papan yang dibawa wanita-wanita itu, sebuah


nominal “itu harga yang mereka patok sendiri atas dirinya dan tubuhnya”.


“kau-“.


“organisasi gelap melelang wanita, kalau aku hanya menjualkan mereka sesuai yang mereka mau


dan menyediakan tempat yang terbaik untuk semua pelanggan disini. Jika mereka


ingin bergabung dengan bisnis ini maka mereka harus membayar sangat mahal”.


“tapi-“.


“setiap Negara, aku memiliki club disetiap Negara”.


“kau sangat kaya”.


“tidak sekaya dirimu”.


“tapi itu hasil kerja kerasmu”.


“aku pernah salah dan pernah gagal hingga jatuh diperusahaan daddy”.


“proses”.



Adrian dan Juliet bergandengan tangan masuk kerumah keluarga Nicoline, hanya ada tuan


dan nyonya Nicoline, putrinya tengah berada di perusahaan yang sekarang


menjabat menjadi seorang CEO. Nyonya Nicoline menggandeng Juliet masuk dan


duduk disofa, wanita paruh baya itu nampak sangat antusias ingin bercerita


maupun cerita pengalaman honeymoon.


Sedangkan Adrian mengobrol dengan daddy nya dihalaman belakang, pasti bisnis bukan yang


lain, tuan Nicoline adalah orang yang sangat gila kerja dulunya sebelum


sekarang dirumah aja.


Suara cempreng Gabriella terdengar diseluruh penjuru rumah, wanita itu langsung


menghampiri Juliet dan memeluknya erat. “kau tau, aku ingin shopping denganmu”.


Ucap Gabriella sembari duduk di samping Juliet


“aku sudah membelikan barang kesukaanmu”.


“benarkah?”.


“ya, Adrian mengatakan padaku apa yang kau sukai”.


Gabriella tersenyum “ah dia diam-diam mengetahui apa yang kusuka”.


“barangnya dibawa pelayan kekamarmu”.


“baiklah terima kasih kakak ipar”. Gabriella beranjak dari duduknya menuju lantai atas


untuk pergi ke kamar.


“kenapa kau membelikan untuk anak nakal itu?”. Ucap nyonya Nicoline


“ngga papa, hanya ingin mom, oh ya niana juga membelikan sesuatu untuk mommy, masih


diambil pelayan di dalam mobil”.


“astaga sayang, jangan terlalu berlebihan, thank you”.


“sama-sama mom”.


“kapan kembali ke California?”.


“lusa, Niana harus kembali ke kantor”.


“tetap jaga dirimu, kau sedng mengandung sayang”.


Setelah berkunjung seharian dirumah keluarga Nicoline, Juliet dan Adrian langsung


pulang ke mansion mereka. Adrian harus menghadiri suatu acara yang diadakan


oleh Jeff, tanpa Juliet tentunya karena itu masalah bisnis dan Adrian tidak


ingin membawa Juliet kedalam pekerjaannya mengingat Juliet tengah mengandung


anaknya dan tempat yang akan di hadirinya akan berbau alcohol dan juga asap


rokok.


“kau pergi malam ini?”. Tanya Juliet sambil merapikan kemeja dan dasi yang dipakai


Adrian


“ya, jaga dirimu baik-baik dan jangan keluar kemana-mana”.


“iya Adrian, bagaimana kalau aku bosan”.


“kau bisa membaca buku diruang baca”.


“bernarkah aku boleh kesana?”.


“ya, tapi hati-hati naik tangganya, pelayan akan membantumu”.


Juliet mengangguk.


Adrian mengecup dahi Juliet dan meninggalkan mansion bersama sopirnya menuju tempat


yang sudah di beritahu oleh Jeff.


Saat berjalan menuju keruang baca dengan salah satu pelayan, Juliet menerima


panggilan dari sekretarisnya.


“ya halo”.


“nona Niana, sekretaris pengganti saya mengalami kecelakaan dan harus dirawat selama beberapa bulan”.


“kalau begitu carikan yang baru”.


*“baik, kapan nona akan kembali?”. *


“lusa aku akan datang”.


“nona Niana ada wawancara dengan salah satu mahasiswi Jurnalistik”.


“kirimkan aku jadwalku untuk lusa”.


“baik nona Niana”.


“istirahatlah, kau tidak perlu datang ke kantor, biar semua di urus oleh asistenku”.


“baik nona terima kasih, saya akan segera mencari sekretaris pengganti”.


“baik thanks”.


Juliet mematikan ponselnya dan kembali berjalan menuju ruang baca milik Adrian,


diruangan itu semua serba warna navy, termasuk sofa dan juga rak-rak yang


menjulang tinggi. Mata wanita itu jatuh pada ssalah satu buku yang ada di rak


paling pojok, Juliet mengambilnya dan duduk di sofa untuk membaca buku tebal


tersebut.


“kau bisa kembali ke bawah”.


“baik nyonya”.


Juliet hanya sendirian di ruang baca, suasana sepi menambah hawa wanita itu semakin


masuk kedalam buku yang di abaca. Buku yang menceritakan seorang mafia yang


padda akhirnya mati terbunuh, mafia yang tak pernah memiliki keluarga, dalam


buku itu juga menegaskan bahwa dia tak akan pernah menciptakan kelemahannya,


yaitu keluarga dan cinta adaah kelemahan manusia.


Disisi lain, Adrian baru saja keluar dari mobilnya, pria itu berjalan dengan beberapa


pengawal disampingnya masuk kedalam sebuah club yang berbeda, bukan club


miliknya melainkan club milik blue organization. Setelah pintu masuk pria itu


langsung di sambut oleh Jeff yang sudah menunggunya.


Mereka berdua duduk disalah satu sofa dengan minuman dimeja dan juga rokok, didepan


mereka akan diadakan lelang besar-besaran.


“barang apa malam ini?”. Tanya Adrian


“wanita dan anak-anak”.


“apa kau gila?”.


“tidak, kami bekerjasama dengan organisasi gelap”.


Diujung Adrian melihat Hardin yang juga ada disana dengan pria yang sering bertemu


Juliet. Hardin tersenyum sopan pada Adrian, begitupula Adrian.


“dimana istrimu?”. Tanya Jeff


“aku tidak akan mengijinkannya datang kesini, dia sedang hamil”.


“kau benar”.


Acara lelangpun di mulai, satu persatu wanita berpakaian minim keluar, Adrian hanya


melihatnya tanpa berniat mengangkat papan angka yang tersedia dimejanya. Hingga


ke lima, seorang anak kecil umur 9 tahun keluar menggunakan dress yang hampir


mirip dengan dress yang dipakai Juliet saat pertama kali Adrian mengetahui


Juliet.


Adrian terus berusaha menghindari pandangan untuk melihat anak itu.


“ada masalah apa?”. tanya Jeff


“tidak ada”.


Hardin mengangkat papannya dengan harga yang paling tinggi, sama seperti Adrian, pria


itu melihat anak kecil yang berdiri dipanggung seperti Juliet sewaktu umur 9


tahun saat dia harus menjauhi ayahnya yang mana adalah keluarga satu-satunya


yang di miliki.