Without Time Until Last

Without Time Until Last
Episode 26



Warning !!


Big Mafia, sebuah kelompok yang didirikan oleh Adrian Romero Nicoline, putra


Nicoline. Kelompok besar yang berdiri selama sepuluh tahun, dari Adrian benar-benar


masih kecil hingga sekarang. Sebelumnya Big Mafia hanya memiliki Sinc Corp,


kemudian Blue Organization sekaligus Locus Group, dan terakhir Folk Group.


Sebuah perusahaan besar berani bergabung dengan kelompok yang baru. Selama


sepuluh tahun Big Mafia sama sekali tidak memiliki musuh ataupun terlibat


masalah, semakin besar dengan beberapa perusahaan yang bergabung dengan


Cuma-Cuma. Tidak ada yang tau soal Big Mafia, hanya mereka yang bergabung dan


berhubungan langsung.


“pria itu sangat pintar menyembunyikannya”. Ucap tuan Alexander


“lalu apa yang harus saya lakukan”.


“kau pilih mendapatkannya atau menghancurkannya”.


“mereka organisasi besar”.


“lebih besar organisasi gelap”.


“saya akan mendapatkannya”.


“semoga berhasil nak”.


“saya permisi”.


Juliet hanya berjalan melewati kode Y tanpa menyapanya


sedikitpun, tujuannya saat ini adalah apartemen Adrian. Dia melupakan memory


itu setelah hilang dari kamarnya, yang Juliet tau memory itu pasti sudah


diambil oleh Adrian sendiri.


Sampai didepan apartemen Adrian, panggilan dari arah lift


membuat Juliet mengurungkan niatnya untuk mendatangi Adrian.


“Xander”. Juliet menghampiri Xander dan tersenyum manis pada pria itu


“apa yang kau lakukan disana? Aku ingin mendatangimu”.


“tadi aku mau pinjam sesuatu pada tetangga sebelah”.


“oh kau sudah makan?”.


“belum, bagaimana kalau makan malam?”.


“tentu saja, aku akan bersiap dahulu”.


Mereka masuk kedalam apartemen Juliet.


“tunggulah sebentar, aku akan berganti pakaian”.


Juliet masuk kekamarnya mengganti pakaiannya dengan dress


selutut dipadukan dengan high hells senada dengan dress yang dipakainya, tak


lupa memakai make up tipis dan membiarkan rambutnya tergerai.


“sudah?”.


Juliet mengangguk sambil menggandeng lengan Xander,


mereka berdua keluar dari apartemen Juliet. Saat berada di lift tanpa sengaja


mereka bertemu Adrian yang baru saja datang. Tatapan tajam Adrian tertuju pada


Juliet seakan mengatakan bahwa Juliet harus menerima hukumannya nanti.


Juliet dan Adrian masuk kedalam lift. “sepertinya pria


tadi tidak asing”. Ucap Xander sambil berfikir


“yang mana? Aku tidak melihat”.


“lupakan”.


Mobil Xander membawa mereka ke sebuah restaurant, saat


berada di dalam mobil, Xander kembali membuka pembicaraan.


“kau tau mobil yang terparkir disebelah mobilku siapa


pemiliknya?”. Tanya Xander, yang dimaksud adalah mobil milik Juliet


“ah entahlah aku tidak tau, memangnya kenapa?”.


“tidak, aku hanya penasaran”.


Mereka sampai disebuah restaurant mewah, Xander sudah


memesan satu meja untuk mereka berdua makan malam.


“kau menyiapkannya?”.


“iya, untuk wanita spesial sepertimu”.


Disisi lain, Adrian melihat mereka berdua dari mobil bersama Kevin.


“apa aku perlu membunuh pria itu segera mungkin?”. Tanya


Adrian sambil melihat terus kearah Juliet yang tengah menghabiskan makan malam


dengan Xander


“tapi tuan, kami tidak pernah membunuh orang sebelumnya


dan juga Xander salah satu bagian dari organisasi gelap”.


“aku tidak peduli, aku mau besok mendengar pria itu


mati”.


“baik tuan”.


Adrian dan Kevin asistennya kembali keapartemen, Adrian


menunggu Juliet hingga jam menunjukkan pukul 12 tengah malam saat pintu


apartemennya terbuka. Lampu menyala saat Juliet menyalakannya, pandangannya


langsung tertuju pada Adrian yang tengah mengamatinya dari sofa.


Juliet langsung melepaskan sepatu high hells nya dan


berlari menghampiri Adrian, memeluk pria itu erat. ‘kau bisa membuatnya luluh


padamu Juliet’ semangat Juliet pada dirinya sendiri.


“maafkan aku”. Ucap Juliet sambil menciumi leher Adrian


“jangan salahkan aku kalau pria itu besok sudah tidak bernyawa lagi”. Jawab Adrian dengan nada datarnya


Juliet terdiam, apa yang dikatakan Alexander benar, jika


Adrian ada dipihaknya maka dengan cepat dia menemukan siapa pelaku pembunuhan


ayahnya.


“aku tidak peduli, aku hanya ingin bersamamu”.


“aku milikmu sayang”. Adrian membalikkan tubuh Juliet


hingga wanita itu ada dibawahnya, menciumi leher Juliet seduktif. “aku sangat


menyukai baumu”. Adrian menurunkan gaun yang dipakai oleh Juliet, pria itu


“kau melakukannya kemarin?”. Tanya Juliet dengan nada


kesal


“hahaha kau tau, aku mahannya untuk tidak melakukan, tapi


dadamu sangat menggodaku”.


Adrian meremas dada Juliet gemas yang membuat wanita itu


semakin mendesah, perlahan Juliet membuka kancing kemeja putih yang dipakai


Adrian, wanita itu tersenyum sembari menyentuh dada bidang Adrian dari atas


hingga berhenti di celana pria itu.


“kau ingin bermain dengannya?”. Tanya Adrian yang dijawab


anggukan oleh Juliet “bukalah”. Juliet melepaskan ikat pinggang yang dipakai


Adrian, menurunkan celana pria itu pelan hingga benar-benar terlepas menyisakan


boxernya.


Adrian membawa Juliet masuk ke kamarnya dengan


terburu-buru, menutup pintu kamarnya menggunakan kaki, menurunkan Juliet


diranjangnya, melepaskan celana dalam milik Juliet. Adrian tersenyum melihat


Juliet yang menggerak-gerakkan kaki saat pria itu mengecup perlahan kakinya


dari bawah.


(Skip dulu ye, bingung aing)


Adrian mengusap rambut Juliet lembut, tubuh mereka yang


masih basah karena keringat masing-masing. Juliet tidak henti mengecup leher


Adrian.


“berhenti sayang, atau kita ronde 3”. Ucap Adrian yang


membuat Juliet menghentikan kegiatannya.


“emmm aku mau ikut denganmu ke Paris”.


“apa kau serius?”.


“ya aku serius”.


“baiklah aku akan menyiapkan keberangkatan kita kesana”.


“Adrian”. Panggil Juliet


“hm kenapa sayang?”.


“jika kau disuruh memilih dua orang paling penting dalam


hidupmu kau akan memilih salah satu kan?”.


“tentu saja, aku harus memilih kan”.


“apakah aku menjadi orang yang kau pilih”.


“ya, aku menintaimu tentu saja kau yang akan ku pilih”.


“terima kasih”. Juliet kembali memeluk Adrian erat,


menenggelamkan kepalanya di pelukan Adrian.


Suara dering ponsel Adrian membuat pria itu menengok


kebelakang dimana dia menaruh ponselnya disana, Adrian menerima telepon dari Jeff.


“Adrian”.


“ada apa? kau bisa membangunkan nya”. Ucap Adrian lirih


agar Juliet tidak terbangun


“aku mendapatkannya”.


“apa”.


“aku mendapatkan siapa dibalik luka bakar itu”.


“jadi?”.


“William mengatakan padaku itu luka bakar ketua white organization”.


“bagaimana dia bisa masuk? Pakai logikamu”.


“ada orang yang membantunya”.


“sekarang kau ada dimana?”.


“Paris”.


“aku akan segera menyusul”.


Adrian mematikan ponselnya, menaruhnya kembali dinakas,


memeluk Juliet erat sambil mencium kening wanita itu. Pagi menyapa mereka,


Adrian sudah berdiri rapi menggunakan kemeja putih dibalut jas mahalnya, bau


parfume milik Adrian membuat Juliet membuka mata.


“kau sudah bangun?”. Tanya Adrian


“mau kemana?”.


“Paris”.


“kenapa terburu?”.


“urusan penting, bersiaplah, kita akan segera berangkat


ke bandara”.


“aku juga?”.


“tentu saja, kau mengatakan akan ikut denganku ke Paris”.


Adrian memberikan paper bag berisi baju dan juga sepatu


yang akan dipakai oleh Juliet.


“aku harus pulang keapartemenku terlebih dahulu”.


“untuk apa? aku sudah menyiapkan keperluanmu”.


“tapi-“.


“senjatamu?”. Adrian mendekat kearah Juliet “aku ada


disampingmu, aku yang akan melindungimu”. Adrian membantu Juliet bangun


“sekarang mandilah, aku akan menunggumu diluar”.


“okay”.


Juliet berjalan kekamar mandi untuk membersihkan tubuhnya


yang lengket, menggunakan pakaian yang diberikan oleh Adrian. Juliet cukup


menyukainya karena simple, Jeans dipadukan dengan kemeja biru muda, Juliet


mengikat rambutnya, dia juga memakai riasan sedikit agar bibirnya tidak begitu


pucat.


___________________________________________________________________________________