
Warning !!
Big Mafia, sebuah kelompok yang didirikan oleh Adrian Romero Nicoline, putra
Nicoline. Kelompok besar yang berdiri selama sepuluh tahun, dari Adrian benar-benar
masih kecil hingga sekarang. Sebelumnya Big Mafia hanya memiliki Sinc Corp,
kemudian Blue Organization sekaligus Locus Group, dan terakhir Folk Group.
Sebuah perusahaan besar berani bergabung dengan kelompok yang baru. Selama
sepuluh tahun Big Mafia sama sekali tidak memiliki musuh ataupun terlibat
masalah, semakin besar dengan beberapa perusahaan yang bergabung dengan
Cuma-Cuma. Tidak ada yang tau soal Big Mafia, hanya mereka yang bergabung dan
berhubungan langsung.
“pria itu sangat pintar menyembunyikannya”. Ucap tuan Alexander
“lalu apa yang harus saya lakukan”.
“kau pilih mendapatkannya atau menghancurkannya”.
“mereka organisasi besar”.
“lebih besar organisasi gelap”.
“saya akan mendapatkannya”.
“semoga berhasil nak”.
“saya permisi”.
Juliet hanya berjalan melewati kode Y tanpa menyapanya
sedikitpun, tujuannya saat ini adalah apartemen Adrian. Dia melupakan memory
itu setelah hilang dari kamarnya, yang Juliet tau memory itu pasti sudah
diambil oleh Adrian sendiri.
Sampai didepan apartemen Adrian, panggilan dari arah lift
membuat Juliet mengurungkan niatnya untuk mendatangi Adrian.
“Xander”. Juliet menghampiri Xander dan tersenyum manis pada pria itu
“apa yang kau lakukan disana? Aku ingin mendatangimu”.
“tadi aku mau pinjam sesuatu pada tetangga sebelah”.
“oh kau sudah makan?”.
“belum, bagaimana kalau makan malam?”.
“tentu saja, aku akan bersiap dahulu”.
Mereka masuk kedalam apartemen Juliet.
“tunggulah sebentar, aku akan berganti pakaian”.
Juliet masuk kekamarnya mengganti pakaiannya dengan dress
selutut dipadukan dengan high hells senada dengan dress yang dipakainya, tak
lupa memakai make up tipis dan membiarkan rambutnya tergerai.
“sudah?”.
Juliet mengangguk sambil menggandeng lengan Xander,
mereka berdua keluar dari apartemen Juliet. Saat berada di lift tanpa sengaja
mereka bertemu Adrian yang baru saja datang. Tatapan tajam Adrian tertuju pada
Juliet seakan mengatakan bahwa Juliet harus menerima hukumannya nanti.
Juliet dan Adrian masuk kedalam lift. “sepertinya pria
tadi tidak asing”. Ucap Xander sambil berfikir
“yang mana? Aku tidak melihat”.
“lupakan”.
Mobil Xander membawa mereka ke sebuah restaurant, saat
berada di dalam mobil, Xander kembali membuka pembicaraan.
“kau tau mobil yang terparkir disebelah mobilku siapa
pemiliknya?”. Tanya Xander, yang dimaksud adalah mobil milik Juliet
“ah entahlah aku tidak tau, memangnya kenapa?”.
“tidak, aku hanya penasaran”.
Mereka sampai disebuah restaurant mewah, Xander sudah
memesan satu meja untuk mereka berdua makan malam.
“kau menyiapkannya?”.
“iya, untuk wanita spesial sepertimu”.
Disisi lain, Adrian melihat mereka berdua dari mobil bersama Kevin.
“apa aku perlu membunuh pria itu segera mungkin?”. Tanya
Adrian sambil melihat terus kearah Juliet yang tengah menghabiskan makan malam
dengan Xander
“tapi tuan, kami tidak pernah membunuh orang sebelumnya
dan juga Xander salah satu bagian dari organisasi gelap”.
“aku tidak peduli, aku mau besok mendengar pria itu
mati”.
“baik tuan”.
Adrian dan Kevin asistennya kembali keapartemen, Adrian
menunggu Juliet hingga jam menunjukkan pukul 12 tengah malam saat pintu
apartemennya terbuka. Lampu menyala saat Juliet menyalakannya, pandangannya
langsung tertuju pada Adrian yang tengah mengamatinya dari sofa.
Juliet langsung melepaskan sepatu high hells nya dan
berlari menghampiri Adrian, memeluk pria itu erat. ‘kau bisa membuatnya luluh
padamu Juliet’ semangat Juliet pada dirinya sendiri.
“maafkan aku”. Ucap Juliet sambil menciumi leher Adrian
“jangan salahkan aku kalau pria itu besok sudah tidak bernyawa lagi”. Jawab Adrian dengan nada datarnya
Juliet terdiam, apa yang dikatakan Alexander benar, jika
Adrian ada dipihaknya maka dengan cepat dia menemukan siapa pelaku pembunuhan
ayahnya.
“aku tidak peduli, aku hanya ingin bersamamu”.
“aku milikmu sayang”. Adrian membalikkan tubuh Juliet
hingga wanita itu ada dibawahnya, menciumi leher Juliet seduktif. “aku sangat
menyukai baumu”. Adrian menurunkan gaun yang dipakai oleh Juliet, pria itu
“kau melakukannya kemarin?”. Tanya Juliet dengan nada
kesal
“hahaha kau tau, aku mahannya untuk tidak melakukan, tapi
dadamu sangat menggodaku”.
Adrian meremas dada Juliet gemas yang membuat wanita itu
semakin mendesah, perlahan Juliet membuka kancing kemeja putih yang dipakai
Adrian, wanita itu tersenyum sembari menyentuh dada bidang Adrian dari atas
hingga berhenti di celana pria itu.
“kau ingin bermain dengannya?”. Tanya Adrian yang dijawab
anggukan oleh Juliet “bukalah”. Juliet melepaskan ikat pinggang yang dipakai
Adrian, menurunkan celana pria itu pelan hingga benar-benar terlepas menyisakan
boxernya.
Adrian membawa Juliet masuk ke kamarnya dengan
terburu-buru, menutup pintu kamarnya menggunakan kaki, menurunkan Juliet
diranjangnya, melepaskan celana dalam milik Juliet. Adrian tersenyum melihat
Juliet yang menggerak-gerakkan kaki saat pria itu mengecup perlahan kakinya
dari bawah.
(Skip dulu ye, bingung aing)
Adrian mengusap rambut Juliet lembut, tubuh mereka yang
masih basah karena keringat masing-masing. Juliet tidak henti mengecup leher
Adrian.
“berhenti sayang, atau kita ronde 3”. Ucap Adrian yang
membuat Juliet menghentikan kegiatannya.
“emmm aku mau ikut denganmu ke Paris”.
“apa kau serius?”.
“ya aku serius”.
“baiklah aku akan menyiapkan keberangkatan kita kesana”.
“Adrian”. Panggil Juliet
“hm kenapa sayang?”.
“jika kau disuruh memilih dua orang paling penting dalam
hidupmu kau akan memilih salah satu kan?”.
“tentu saja, aku harus memilih kan”.
“apakah aku menjadi orang yang kau pilih”.
“ya, aku menintaimu tentu saja kau yang akan ku pilih”.
“terima kasih”. Juliet kembali memeluk Adrian erat,
menenggelamkan kepalanya di pelukan Adrian.
Suara dering ponsel Adrian membuat pria itu menengok
kebelakang dimana dia menaruh ponselnya disana, Adrian menerima telepon dari Jeff.
“Adrian”.
“ada apa? kau bisa membangunkan nya”. Ucap Adrian lirih
agar Juliet tidak terbangun
“aku mendapatkannya”.
“apa”.
“aku mendapatkan siapa dibalik luka bakar itu”.
“jadi?”.
“William mengatakan padaku itu luka bakar ketua white organization”.
“bagaimana dia bisa masuk? Pakai logikamu”.
“ada orang yang membantunya”.
“sekarang kau ada dimana?”.
“Paris”.
“aku akan segera menyusul”.
Adrian mematikan ponselnya, menaruhnya kembali dinakas,
memeluk Juliet erat sambil mencium kening wanita itu. Pagi menyapa mereka,
Adrian sudah berdiri rapi menggunakan kemeja putih dibalut jas mahalnya, bau
parfume milik Adrian membuat Juliet membuka mata.
“kau sudah bangun?”. Tanya Adrian
“mau kemana?”.
“Paris”.
“kenapa terburu?”.
“urusan penting, bersiaplah, kita akan segera berangkat
ke bandara”.
“aku juga?”.
“tentu saja, kau mengatakan akan ikut denganku ke Paris”.
Adrian memberikan paper bag berisi baju dan juga sepatu
yang akan dipakai oleh Juliet.
“aku harus pulang keapartemenku terlebih dahulu”.
“untuk apa? aku sudah menyiapkan keperluanmu”.
“tapi-“.
“senjatamu?”. Adrian mendekat kearah Juliet “aku ada
disampingmu, aku yang akan melindungimu”. Adrian membantu Juliet bangun
“sekarang mandilah, aku akan menunggumu diluar”.
“okay”.
Juliet berjalan kekamar mandi untuk membersihkan tubuhnya
yang lengket, menggunakan pakaian yang diberikan oleh Adrian. Juliet cukup
menyukainya karena simple, Jeans dipadukan dengan kemeja biru muda, Juliet
mengikat rambutnya, dia juga memakai riasan sedikit agar bibirnya tidak begitu
pucat.
___________________________________________________________________________________