
Adrian melangkahkan kakinya ke dalam rumah megah milik keluarga Nicoline, diruang tamu sudah ada ketua orang tuanya sekaligus Gabriella yang menunggu Adrian disana. Nyonya Nicoline langsung berdiri menghampiri Adrian, memeluk tubuh erat putranya sembari mengucap maaf sekaligus syukur karena Adrian mau kembali ke rumah. Setelah memeluk nyonya Nicoline, kemudian tuan Nicoline dan terakhir Gabriella adiknya.
“kemana saja kau pergi?”. Tanya Gabriella
“urusan”.
“duduklah, daddy ingin bicara penting denganmu”.
Adrian duduk di antara mereka semua sebelum makan malam,
“ada apa dad?”.
“kau tidak ingin menikah?”. Tanya tuan Nicoline yang membuat Adrian menajamkan pendengarannya
“menikah?”. Ulang Adrian
“iya menikah, kau sudah waktunya menikah Adrian”.
“aku belum berniat melakukannya”.
“kalau begitu bagaimana kalau daddy kenalkan dengan anak teman daddy, dia lulusan terbaik sekaligus pintar, dia juga cantik, setara dengan keluarga kita”.
“sayang-“. Panggil nyonya Nicoline, bahkan wanita paruh baya itu tidak berniat melakukannya pada Adrian karena dia tau Adrian menyukai Juliet atau Niana putri tuan Aero
“Adrian belum berniat menikah”.
“kau masih berharap bersama wanita itu?”.
“cukup, Adrian, kau masuk kamar ya nak, biar mommy yang bicara pada daddy mu”.
“sayang, Adrian sudah dewasa”.
“biar, kau pergi nak, Gabriella juga”.
Adrian dan Gabriella beranjak dari duduknya dan pergi kelantai dua menuju kamar mereka masing-masing. Adrian duduk di ranjangnya dengan terduduk, dilihatnya sebuah foto yang terpampang di atas nakas samping tempat tidurnya, foto dimana diambilnya secara diam-diam saat kelulusan Juliet waktu sekolah menengah atas.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuat Adrian kembali memasang wajah datarnya “masuk”.
Pintu terbuka, Gabriella berada di sana, dia masuk dan duduk di samping Adrian. “kau tidak apa-apa? bagaimana keadaan Juliet?”.
“seperti yang kau lihat ditayangan televisi”.
“kau sama sekali tidak berbicara dengannya”.
“dia membenciku”.
“karena mommy? Itu tidak adil untukmu, waktu itu kau masih sama belum mengerti apapun”.
“wajar selama ini Juliet menderita karena ulah mommy yang membiarkan mereka masuk dan mencoba membunuh tuan Aero, ayah Juliet”.
Gabriella memeluk Adrian erat “sudahlah”.
Jalan Juliet terhenti tatkala wanita itu merasa ada yang aneh dalam perutnya, dia terburu menuju toilet yang ada
diruangannya, beberapa kali sekretaris Juliet yang tengah mengandung melihat keadaan Juliet tapi Juliet adalah tipe orang yang selalu mengunci pintunya saat tengah bekerja, jadi dia tidak bisa masuk memastikan atasannya baik-baik saja. Hingga Hardin datang membawa sebuah berkas yang harus ditanda tangani oleh Juliet dari organisasi gelap.
“saya bisa bertemu dengannya sekarang?”. Tanya Hardin pada mantan sekretarisnya
“sebentar tuan Hardin”. Sekretaris tersebut menghubungi Juliet melalui telepon, tipi tidak ada jawaban. “tidak dijawab tuan, tapi tadi nona Niana sempat berlari masuk”.
“apa terjadi sesuatu?”.
“saya tidak tau, nona Niana tidak membiarkan siapapun masuk keruangannya tanpa ada ijin”.
Hardin mencoba membuka pintu ruangan Juliet, untung saja pintunya tidak terkunci. Hardin langsung masuk saat tidak melihat Juliet dimejanya.
“Niana! Niana!”. Panggil Hardin, hingga sosok yang dipanggilnya keluar dari kamar mandi.
“ada apa Hardin?”.
“kau tidak apa-apa”.
“tidak, sepertinya asam lambungku naik”.
“baiklah aku akan memanggilkan dokter kemari”.
Hardin membuka sebuah ruangan yang ada di balik rak bukunya. “kau menyimpan ruangan seperti ini?”. Tanya Juliet terkejut
“ya aku lupa memberitahumu soal ini, istirahatlah”.
“thanks Hardin”.
Hanya beberapa menit saat dokter datang memeriksa Juliet.
“sepertinya nona Niana hamil”. Ucap dokter tersebut ragu mengingat Juliet belum menikah “tapi saya akan cek lebih lanjut”.
Hardin melihat Juliet yang juga nampak terkejut, hari itu juga Juliet melihat menggunakan tes kehamilan, dan benar,
dia sedang mengandung.
“sepertinya sudah berumur 4 minggu lebih”. Ucap dokter keluarga Aero
“kau bisa merahasiakan ini?”. Tanya Hardin dengan wajah datarnya
“saya dokter tuan Aero, saya mengabdi padanya, jadi apapun masalah keluarga Aero saya menyimpannya baik”.
Setelah dokter pergi, Juliet dan Hardin duduk termenung di ranjang.
“bagaimana bisa terjadi? Siapa ayahnya?”.
“aku hanya berhubungan dengan Adrian, tapi aku bisa merawatnya sendiri, kau tidak perlu mengatakan pada siapapu atas kehamilanku”.
“dan aku akan dibunuh tuan Aero”.
“daddy akan menikahkanmu dengan Adrian”. Suara dari luar membuat Hardin dan Juliet langsung melihatnya, tuan Aero berdiri disana. “daddy sangat senang kau memiliki nya”. Tuan Aero menghampiri Juliet, mengusap rambut putrinya lembut. “mommy mu dulu juga begini dengan daddy, dan daddy langsung menikahinya”.
“tapi Niana tidak ingin menikah dengan Adrian”.
“kau tidak bisa membiarkan anakmu lahir tanpa ayah”.
“Niana bisa merawatnya sendiri”.
“daddy tau kau bisa, tapi dia juga butuh sosok ayah Niana”.
“ikuti daddymu Niana, jangan egois”.
►
Tuan Nicoline dan nyonya Nicoline masuk ke kamar Adrian saat pria itu masih sibuk termenung di depan kaca jendela nya sambal menghisap rokok ditangannya.
“kita akan ke California besok”. Ucap tuan Nicoline yang membuat Adrian sedikit terkejut.
“kau memiliki anak dan tidak mengaatakan pada daddy dan mommy”.
“maksud mommy?”.
“daddy mu dan tuan Aero bersahabat lama, bahkan sejak mereka sekolah dulu. Mereka berniat menjodohkanmu dengan putrinya, Niana. Tapi sepertinya kau sudah mempercepatnya Adrian, Niana mengandung anakmu”.
“apa?”.
“kau tidak tau?”.
Adrian menggeleng
“sudahlah, karna ulahmu Aero mencaci maki ku, kau telah mengotori putrinya jadi kau harus menikahinya”.
Adrian tiada henti mengucap syukur atas kehamilan wanita yang sangat dicintainya, itu adalah harapannya agar Juliet mau menikah dengannya, dan sekarang Tuhan mengabulkan doa nya dengan memberikan
sebuah kehidupan di perut Juliet, yaitu darah daging nya.
Keberangkatan di percepat, pesawat pribadi keluarga Nicoline terbang menuju California untuk melamar putri keluarga Aero.
Selama beberapa jam Juliet duduk didepan meja rias bersama kedua maid yang bertanggung jawab atas dirinya. “sepertinya gaunku beberapa kekecilan”. Ucap Juliet
“kami sudah menyiapkan gaun nona “. Dua orang main membawakan beberapa gaun indah yang di gantung.
Juliet memilihnya satu persatu, dan jatuh pada gaun indah berwarna putih. Setidaknya gaun itu bisa menampung tubuhnya walaupun sedikit terbuka dibeberapa bagian yang emnampakkan tubuh indah milik Juliet.
Dengan make up natural, Juliet keluar dari kamarnya. Wanita itu menuruni tangga, matanya bertemu langsung dengan mata Adrian, mata teduh yang selalu membuatnya nyaman. Gabriella tersenyum melihat
Juliet yang sangat cantik, begitupula Juliet, beberapa hari sebelumnya saat mereka mengobrol, Juliet marah pada Gabriella tapi saat itu pula Juliet mengatakan sudah memaafkan semuanya, tapi dia hanya butuh waktu untuk menerima Adrian kembali. hingga hari ini, saat ada kehidupan lain dalam dirinya, saat
ini pula Juliet harus belajar tidak keras kepala dan tidak egois.
Adrian menggenggam tangan Juliet lembut “maafkan aku”. Ucap Adrian lirih
“aku sudah memaafkanmu”.
Adrian membawa Juliet kedalam pelukannya. “kau membuatnya terjepit Adrian”. Ucap Julier lirih
“maaf”. Adrian menyentuh perut Juliet lembut.
“apa perlu kita menunda pernikahan hingga bulan depan?”.
___________________________________________________________________________