Without Time Until Last

Without Time Until Last
Episode 31



Mobil yang membawa Juliet berhenti dipinggir jalan, wanita itu berniat untuk membeli beberapa pasang pakaian di butik milik temannya sekatu sekolah menengah atas. Semua orang melihat Juliet berbisik, setiap hari seperti itu sejak dia menjadi Niana dan tinggal bersama daddy nya yang dikabarkan mati ternyata masih hidup.


“Juliet!”. Teriak Joy “ups nona Niana Aero”.


“hahahaha panggil saja Juliet seperti biasanya”.


“ya itupun kalau aku mau dibunuh oleh pengawalmu”.


“mereka tidak akan melakukan hal bodoh hanya karena panggilan”.


“baiklah-baiklah, apa yang membawamu datang kemari setelah bertahun-tahun kau tidak ada kabar lalu muncul tiba-tiba dengan nama Niana?”.


“aku membutuhkan pakaian yang cocok untuk acara formal”.


“menghadiri meeting? Kau adalah CEO sekarang, aku akan memilihkan pakaian terbaik untukmu”.


“thank you Joy”.


“tunggu sebentar”. Joy masuk kedalam untuk mengambilkan pakaian yang diinginkan oleh Juliet, sedangkan Juliet


melihat-lihat gaun yang di pamerkan disana. Mimpi Joy sejak pertama kenal Juliet, wanita itu memang sangat berbakat.


Sewaktu sekolah menengah atas, Joy selalu mengikutinya bahkan saat berangkat kesekolah, berharap Juliet mau berteman dengannya. Joy duduk disebelahnya, mereka tetangga saat Juliet tinggal di rumah paman Samuel.


Joy keluar dengan sebuah setelan pakaian yang sangat menawan “ini cocok untukmu”. Ucap Joy


“wow”.


“kau bisa mencobanya”.


“tentu saja”. Juliet mengambil pakaian tersebut dari Joy dan masuk keruang ganti.


Juliet keluar dengan penampilan yang sangat berbeda, lebih formal dan lebih dewasa. “kau sangat menarik, harusnya ada pria yang melirikmu”.


“aku tidak berniat untuk berhubungan”.


“dengan pria yang berada di sebelahmu saat konferensi pers”.


“hardin?”.


“siapapun namanya, tapi dia sungguh panas”.


“dia sudah kuanggap saudaraku sendiri, atau kau mau dengannya? Harusnya dia sudah menikah, tapi entahlah dia selalu sibuk dengan urusannya”.


“dengan senang hati”.


“kau menyukainya”.


“please Juliet, siapa yang tidak menyukai pria sepanas itu”.


“aku akan mengatakan padanya”.


“apa kau gila”.


“ya”.


“Juliet!!”.


“mau minum kopi bersamaku?”.


“tentu saja”.


Juliet dan Joy keluar dari butik milik Joy, mereka berjalan di ikuti pengawal Juliet dibelakangnya.


“kau tidak risih?”. Tanya Joy sambil sesekali melirik pengawal Juliet yang ada dibelakang mereka.


“ya seperti yang kau rasakan”.


“tapi kau membutuhkannya karna kau seorang CEO Aero Corp, perusahaan ternama di dunia”.


“milik ayahku”.


“kau pewarisnya”.


“aku tidak begitu tertarik tapi aku harus melakukannya”.


Sampai dikedai coffee, Juliet dan Joy langsung masuk untuk duduk di salah satu meja yang menghadap langsung kearah jalanan. Pengawal Juliet menunggunya di luar dengan setia. Saat sedang memesan coffee, Juliet bertemu dengan Kevin.


“nona Niana”. Panggil Kevin


“Kevin”.


“bagaimana kabar nona?”.


“baik, bagaimana kabarmu?”.


“baik juga”.


“baguslah, apa yang kau lakukan disini?”.


“tuan Adrian menyuruhku mencarikan coffee late selagi dia ada meeting”.


“bagaimana kabarnya?”.


“sangat buruk sejak kau pergi”.


“aku turut bersedih”.


“nona Niana tidak berniat untuk mengunjungi tuan, dia sedang ada di California”.


“lain kali, aku sangat sibuk”.


Pesanan Kevin sudah jadi, pria itu membayarnya lalu pamit untuk pergi terlebih dahulu karena Adrian sudah menunggu coffee nya.


Adrian melepaskan jasnya dan juga dasi yang melekat dikemeja yang ia pakai, tak lupa dua kancing atasnya yang juga ia lepasnya.


“lama sekali”. Ucap Adrian sambil menerima Coffee yang ia pesan


“saya bertemu dengan nona Niana”.


Adrian menghentikan kegiatan meminum coffee nya saat mendengar nama Niana disebut.


“dimana?”.


“kedai coffee”.


“kau berbicara apa dengannya?”.


“apa dia baik-baik saja”.


“sepertinya sangat baik tuan, mungkin nona Niana akan mengunjungi anda jika dia tidak sibuk”.


“hanya omongan”.


Adrian kembali meminum coffee nya sedangkan Kevin meninggalkan mansion pribadi milik Adrian. Pria itu melihat kearah langit diluar, lalu melihat kearah sofa dimana Juliet duduk dengan wajah kesalnya saat


Adrian pergi dan dia sendiri disana.


Suara dering ponsel Adrian membuyarkan lamunannya.


“halo”.


“Adrian, pulanglah, Mommy merindukanmu”.


“aku harus mengurus bisnis disini”.


“kau masih marah dengan mommy”.


“aku tidak pernah marah dengannya”.


“tapi kau tidak pulang sejak hari itu”.


“aku tutup, aku harus meeting”.


Adrian menutup panggilan Gabriella, selalu seperti itu. Bahkan Adrian sama sekali tidak pulang kerumahnya, beberapa kali tuan Nicoline menghubunginya namun Adrian tak pernah menjawab, hanya Gabriella yang


dijawab, tidak dengan yang lain.


Disisi lain, tuan Aero tengah berada di salah satu restaurant ternama di California, pria paruh baya itu menunggu tamunya yang datang dari jauh.


“Hardin”. Panggil tuan Aero pada Hardin yang berdiri di sebelahnya


“ya tuan”.


“bagaimana Niana?”.


“dia belajar sangat cepat”.


“baguslah”.


Tamu yang di tunggunya pun tiba, Aero berdiri dari duduknya dan menjabat tangan pria itu yang tak lain adalah Nicoline, sahabatnya dengan Alexander.


“bagaimana kabarmu?”. Tanya Nicoline


“baik sekali, bagaimana dengan istri dan anakmu?”.


“baik, aku sungguh meminta maaf soal itu Aero”.


“tidak masalah, istrimu menyesalinya, bagaimana Adrian?”.


“dia tidak pulang sejak hari itu”.


“biarkanlah terlebih dahulu, dia lebih hebat dari yang kita kira sebelumnya”.


“ya kau benar, aku melihat Niana di salah satu stasiun televisi, putrimu sangat cantik dan juga cerdas”.


“dan sepertinya kita akan berbesan”.


“mungkin, aku mengenalnya saat sebelum aku tau bahwa dia putrimu, Adrian membawanya kerumah”.


“anak muda jaman sekarang masih sama seperti dulu”.



Juliet dan Joy keluar dari kedai Coffee, setelah mengantarkan Joy ke butik miliknya, Juliet langsung pulang


keapartemennya. Wanita itu melihat pintu apartemen Adrian yang sudah lama pria itu tidak ada disana, namun fikiran Juliet ternyata salah, pintu itu terbuka dan mata mereka bertemu.


“Juliet”.


“Adrian”.


Juliet cepat-cepat menuju apartemennya, namun Adrian menghentikan tangan Juliet saat wanita itu akan membuka pintu apartemennya.


“tunggu”.


“apa yang kau inginkan Adrian?”.


“kenapa? kenapa kau menghindariku?”.


“tidak ada apa-apa, tapi lebih baik jika kau jauh dariku”.


“aku tidak bisa melakukannya Niana”.


“berhenti melakukan hal bodoh, sampai kapanpun aku tidak akan pernah bersamamu Adrian”.


“kita bisa Niana, lihat aku sekarang”. Adrian menggenggam tangan Juliet erat “lihat aku Niana dan katakan kalau kau tidak mencintaiku”.


Juliet melihat kearah Adrian tajam “aku tidak mencintaimu Adrian”. Ucap Juliet dengan penuh penekanan disetiap katanya “lepas”. Setelah pegangan Adrian terlepas, Juliet masuk keapartemennya meninggalkan Adrian yang masih mematung didepan pintu apartemen Juliet.


Dibalik pintu, Juliet terduduk dilantai, air matanya jatuh. ‘aku mencintaimu Adrian, tapi aku tidak bisa bersamamu’ lirih Juliet. Wanita itu mengusap air matanya saat mendengar dering ponsel dari tas selempang yang ia pakai.


“ya”.


“ini Gaby, apa kau bisa membujuk Adrian untuk pulang?”.


“maksudmu? Aku tidak berhubungan dengannya lagi”.


“Adrian tidak pulang kerumah sejak kejadian itu, dia marah besar dengan mommy”.


“aku tidak ada hubungan apa-apa soal itu”.


“Niana, dia mencintaimu sangat. Dan aku yakin kau juga mencintainya”.


“aku tidak mencintainya”.


“jangan berbohong pada dirimu sendiri, Tuhan maha memaafkan, apa kau tidak ingin


memaafkan semuanya?”.


“apa kau bilang?”.


____________________________________________________________________________