Without Time Until Last

Without Time Until Last
Episode 35



Adrian berdiri disamping mobilnya menunggu Juliet keluar dari gedung Aero Corp, pria itu tersenyum tatkala melihat Juliet yang tersenyum pula padanya. Juliet mengcup bibir Adrian singkat dan masuk kedalam mobil, dan untuk pertama kalinya Adrian mengajak Juliet dengan menggunakan supir, bahkan disana juga ada Kevin.


“hi Kevin, bagaimana kabarmu?”. Tanya Juliet


“baik nona”.


“jadi kenapa kau menggunakan supir dan juga mengajak Kevin”.


“keselamatanmu”.


“hahahaha jangan berlebihan Adrian”.


“aku tidak mau seperti kemarin, hari ini kita pulang ke mansion”.


“baiklah”.


Mobil membawa mereka ke sebuah toko perhiasan yang dipilihkan nyonya Nicoline.


“bagaimana mommy bisa tau tempat ini?”. Tanya Juliet begitu keluar dari mobil


“kami pernah tinggal di California, entahlah aku tidak tau. Ayo”. Adrian menggandeng tangan Juliet dan mengajaknya masuk. Seorang pria dengan penampilan yang menarik keluar menyambut mereka berdua


“hai, tuan Adrian dan nyonya Adrian?”. Ucapnya


“Niana”.


“ya kau akan menikah dengan tuan Adrian”.


“panggil saja Niana”.


“baiklah-baiklah nona Niana”.


Adrian hanya terkekeh melihat perdebatan mereka.


“nyonya Nicoline sudah menghubungiku, aku memiliki banyak koleksi cincin yang pasti cocok di jari manismu, ayo ikut denganku”.


Mereka masuk kesebuh ruang besar dengan desain mewah dimana banyak sekali perhiasan mahal terpampang disana. “perhiasan yang sekarang kau lihat adalah satu-satunya di dunia, dan kau bisa memilih yang kau mau”.


Juliet berjalan kearah dimana banyak sekali cincin.


“no no no, cincin kalian bukan disitu”. Pria itu berjalan kearah berlawanan, membuka sebuah kotak berwarna perak “ini dia pilihan nyonya Nicoline”.


“wahh”.


“kau menyukainya?”. Bisik Adrian


“ya aku menyukainya”. Jawab Juliet


“cobalah”.


Juliet memakai cincin itu dijarinya dan sangat cocok dengan ukuran jarinya.


“nyonya Nicoline sangat pintar memilihnya karena memang pantas di jarimu”. Ucap pria pemilik toko tersebut


“kami ambil ini”.


“baiklah”.


Selesai dengan cincin pernikahan, mereka makan siang terlebih dahulu disalah satu restaurant paling mewah di kota, makanannya pun sangat fantastic dari harga maupun rasa.


“mommy memang selalu begitu?”. Tanya Juliet


“ya, dia memilih sesukanya”.


“tapi aku menyukainya”.


“aku tau itu”.


Juliet memeluk lengan Adrian posesif saat mereka keluar dari restaurant beberapa orang wartawan mengambil foto mereka secara diam-diam karena memang penjagaan mereka sangat ketat sejak kejadian kemarin.


Mereka masuk kedalam mobil untuk pergi fitting baju pernikahan, sebenarnya nyonya Nicoline sudah memilihkan tempatnya tapi Juliet lebih memilih ditempat Joy, Juliet tau kalau Joy memiliki selera yang sama dengannya, sempat beberapa kali Juliet mengintip saat Joy menggambar beerbagai gaun di buku nya.


Mobil Adrian berhenti di tempat Joy, wanita itu langsung menyambut Juliet.


“hi Juliet”. Panggil Joy


“hi”. Mereka berpelukan. “oh ya ini Adrian”.


“Adrian”.


“joy. Ayo masuk, aku menyiapkan beberapa gaun yang bisa kau pilih”.


“thanks Joy”.


Beberapa gaun dipajang disalah satu ruangan, Juliet memilihnya dari yang paling dekat hingga ke ujung. Gaun yang pertama yang dia coba, Adrian tidak menyukainya. Gaun kedua, hingga gaun terakhir.



“kau sangat cantik”. Ucap Adrian sambil melongo melihat Juliet


“thanks”.


“aku menyukainya, bagaimana denganmu?”. Tanya Juliet pada Adrian


“ya aku menyukainya”.


“baguslah”.


Setelah fitting baju pernikahan, mereka langsung kembali ke mansion mengingat kehamilan Juliet yang masih sangat muda dan Juliet tidak boleh terlalu lelah pula. Sampai di mansion, Juliet bertemu dengan nyonya Nicoline, wanita itu sedikit terkejut karena dia kira nyonya Nicoline akan kembali ke Paris terlebih dahulu dengan tuan Nicoline dan Gabriella.


“mommy”. Juliet sedikit berlari memeluk nyonya Nicoline


“Niana, jangan berlari”.


“maaf, kenapa mommy tidak mengatakan kalau stay disini?”.


“mommy ingin memberikan kejutan pada kalian berdua, sampai kalian menikah mommy stay disini”.


“yah mom”. Ucap Adrian yang membuat nyonya Nicoline melotot padanya.



Hardin merapikan jas saat tengah menunggu Joy didepan rumahnya, pria itu untuk pertama kalinya berkencan dengan wanita, dia hanya sibuk dengan kertas-kertas dimejanya tanpa sempat bermain wanita sejak dulu. Joy keluar dari rumah memakai dress selutut yang menambah cantik wanita itu. Sekilas Hardin sangat terpukau dengan Joy, namun kesadarannya langsung kembali dan membukakan pintu mobil untuk Joy.


“kau sangat tampan”. Ucap Joy malu-malu


“kau juga cantik”.


“thanks”.


Mobil mereka berhenti disebuah restauran berkelas, Hardin membukakan pintu mobil untuk Joy dan menggandeng tangannya. Beberapa kali Joy tersenyum melihat Hardin yang sangat tegas dalam hal apapun, hingga mereka sampai dimeja yang sudah dipesan oleh Hardin. Dilntai paling atas menikmati langit yang hari ini banyak sekali bertaburan bintang, dinner romantic dengan lilin diatas meja dan juga bunga mawar.


Pelayan datang membawa makanan dan diletakkan dimeja bersamaan sebotol wine dan juga gelasnya.


“thanks”. Ucap Joy


Mereka hanya diam selama menikmati makan malam, Hardin beberapa kali mencuri pandang terhadap Joy yang sibuk makan.


“ehm”. Dehem Hardin yang membuat Joy mendongak melihatnya “aku mau bicara”. Ucap Hardin


“bicara saja”.


“aku menyukaimu”.


“ha?”. Joy meletakkan sendok dan garpu nya, melihat Hardin tajam “bisa kau ulangi?”.


“ah lupakan saja”.


“aku juga menyukaimu”.


“apa?”.


“ya aku menyukaimu”.


Beberapa pelayan datang mebawakan serangkaian bunga mawar dan juga memberikan kotak kecil berwarna merah pada Hardin.


Hardin mengambil kotak itu dan berjongkok di bawah Joy sembari membuka kotak kecil merah yang berisi sebuah cincin.


“aku tau kita baru saja bertemu bahkan baru saja saling mengenal, aku tidak pernah merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta ataupun berhubungan dengan wanita sebelumnya, tapi saat kau hadir semuanya berubah, tingkah mu dan semua tentangmu selalu berada di kepalaku setiap saat, aku berharap kau menghilang, tapi semakin aku berusaha menghilangkan, semakin jelas sosokmu dalam fikiranku. Mungkin wajahku akan terlihat aneh dan tingkahku saat ini konyol jika dilihat orang, tapi aku sungguh berusaha melakukan yang terbaik dihadapanmu. Joy, apa kau mau menjadi kekasihku?”. Ucap Hardin panjang lebar, sembari menunggu jawaban Joy, pria itu menunduk takut


“ehm maaf Hardin, tapi-“.


“aku tidak masalah kalau kau menolakku saat ini atau kau butuh waktu untuk menjawabnya”.


“bukan itu, tapi kufikir kau akan melamarku, jadi kau hanya memintaku menjadi kekasihmu?”.


“bisa aku ulangi saja?”.


“lupakan, aku mau mejadi kekasihmu. Kita masih banyak waktu untuk terus saling mengenal”.


Hardin langsung memeluk tubuh Joy erat, tepuk tangan dari orang-orang sekitar yang melihat keromantisan mereka terdengar nyaring.


Langkah kaki lemah membawa Kyle meninggalkan rumah dimana dia tinggal setelah beberapa orang datang kerumahnya, orang-orang yang pernah menyetubuhinya saat di tempat Adrian. Hanya membawa tas kecil nya


Kyle menjauhi rumah menuju ke pinggiran kota California menaiki bus yang berhenti di halte tidak jauh dari rumahnya.


“nyonya ingin pergi kemana?”. Tanya seorang wanita yang duduk di samping Kyle


“aku tidak tau”.


“kau tersesat?”.


“seseorang mengejarku, aku harus pergi sebelum tertangkap”.


“kalau begitu kau bisa tinggal bersamaku”.