Without Time Until Last

Without Time Until Last
Episode 24



Hi Niana, putri daddy yang sangat cantik. Daddy harap ketika kamu melihat ini kamu


tidak menetesakan air mata, entahlah daddy rasa daddy akan segera bertemu mommy


mu. Maafkan daddy dan mommy yang meninggalkanmu sendiri, jangan menangis, kalau


kamu menangis mommy dan daddy pasti juga akan sangat sedih. Niana, di dunia ini


tidak ada orang yang benar-benar baik, tapi akan ada orang yang tulus padamu.


Paman Samuel akan menjagamu, dan paman Alexander akan menggantikan sosok daddy


untukmu, I love you baby.


Juliet mengusap air matanya, sebuah tangan menyentuh pundaknya lembut. “menangislah kalau kau ingin


menangis”. Ucap Adrian lembut


Juliet hanya menunduk, bahkan dia melupakan cara menangis, Juliet mengusap air matanya “aku tidak


apa-apa”.


Adrian membawa Juliet kedalam pelukannya. “aku sudah berjanji akan menjagamu dan juga membantumu”.


“terima kasih”.


“makanan sudah siap, kau harus makan terlebih dahulu”.


Mereka berdua pergi ke ruang makan, seperti biasanya makanan buatan Adrian sangat enak. Dering ponsel


Adrian menyela makan malam mereka, sebuah nama Mommy terpampang dilayar.


“sebentar”.


Adrian beranjak dari duduknya menerima panggilan dari ibunya.


”halo mom”.


“Adrian kapan kamu pulang ke Paris”.


“belum sekarang mom”.


“mommy meridukanmu nak”.


“Adrian pasti pulang”.


“kau bawa gadis itu kerumah, mommy ingin mengenalnya”.


“siapa?”.


“kekasihmu, Gabriella mengatakan pada mommy”.


“tunggu keadaan membaik mom”.


“mommy tunggu, mommy harap kau tidak melupakan ulang tahun pernikahan mommy dan


daddy”.


“hm iya”.


Adrian menutup ponselnya kembali duduk di meja makan dengan Juliet.


“orang tuamu?”. Tanya Juliet


“mommy, menyuruhku kembali ke paris sebelum ulang tahun pernikahannya”.


“kenapa kau tidak kembali?”.


Adrian memegang kedua tangan Juliet “please ikutlah denganku ke Paris”.


Juliet terdiam, dia melepas tangan Adrian “aku akan memikirkannya nanti”.


“baiklah aku akan menunggumu”.


“aku sudah selesai, aku akan tidur dahulu”. Juliet beranjak dari duduknya menuju kamar Adrian,


merebahkan tubuhnya di ranjang, menutupnya dengan selimut dan mulai memejamkan


mata.


Jam menunjukkan pukul 1 dini hari, saat mata Juliet terbuka lebar. Tenggorokannya kering, dilihatnya


Adrian yang sudah tertidur pulas di sampingnya, dengan pelan Juliet membuka


selimut, turun dari ranjang menuju dapur untuk mengambil air minum.


Tarrr


Suara pecahan gelas terdengar dari lantai dua, Juliet langsung melihat keatas. ‘siapa yang berisik


jam segini, ku fikir Adrian mengerjakan pembantu disini’


Aaaaaaaarggg


Suara kembali terdengar, derangan dan jeritan dari lantai dua. Juliet memberanikan dirinya menaiki


tangga menuju lantai dua, saat sampai di lantai dua, dia melihat beberapa


penjaga disana. ‘kenapa ada penjaga disini’ Juliet menempar banda berat kearah


kaca yang membuatnya pecah dan semua penjaga berlarian kearah jendela tersebut,


dia beruntung kamar Adrian kedap suara, mungkin Adrian tidak akan bangun.


Juliet langsung kearah lorong tersebut, diujung ada sebuah pintu berwarna hitam pekat, berbeda dengan


desain interior mansion ini yang identic warna putih. Juliet berusaha membuka


pintu itu tapi tidak bisa, dikunci.


Terpaksa Juliet menggunakan jepit rambutnya untuk membuka pintu itu, dan berhasil terbuka. Matanya


membelalak saat melihat wanita yang tengah disetubuhi beberapa pria.


Sebuah tangan menutup kedua matanya. “apa yang kau lakukan disini!”. Ucap Adrian membawa Juliet pergi dan


menutup pintunya kembali.


Adrian melemparkan Juliet keranjang, pria itu menatap tajam Juliet. “apa aku mengijinkanmu masuk


kesana?”. Tanya Adrian dengan wajah dinginnya


“cihh kau sama saja dengan penjahat lain, kau memperbudak wanita”. Ucap Juliet dengan wajah tak kalah


dingin dan mengejek


Adrian menarik rambut Juliet kasar “aku tidak pernah menunjukkan siapa aku sebenarnya padamu, apa kau


ingin melihatnya hm”.


Juliet berusaha melepaskan tangan Adrian dari rambutnya. Hingga Adrian sendiri melepaskan rambut Juliet,


ranjang, kembali terjatuh di atas ranjang tersebut karna dorongan kuat Adrian.


Juliet memundurkan tubuhnya, wanita itu mencari-cari dimana pistolnya tapi tidak ada.


“kau mencari ini?”. Adrian mengeluarkan sebuah pistol yang sama persis dengan milik Juliet. “kau


melupakannya sayang”. Adrian melemparkan pistol milik Juliet ke sofa.


“apa yang kau lakukan?”. Ucap Juliet


“menghukummu”.


Adrian menindih tubuh Juliet, pria itu menyobek kemeja yang dipakai Juliet. “indah”. Menciumi leher


Juliet yang membuat wanita itu mendesah.


(Skip)


Cahaya matahari menbangunkan Adrian dari tidurnya, matanya melihat Juliet yang masih terlelap


dengan banyak bekas kissmark di leher dan juga dadanya. Adrian menyentuh lembut


wajah Juliet “aku tidak akan menyakitimu seperti semalam kalau kau mengikuti


ucapanku, aku hanya ingin melindungimu Niana, kau tau aku sangat mencintaimu”.


Ucap Adrian yang sebenarnya didengar jelas oleh Juliet.


Hingga mata Juliet benar-benar terbuka, Adrian mengecup lembut bibir Juliet “aku meminta maaf soal semalam”.


Ucap Adrian


“aku memaafkanmu jika kau melepaskan wanita itu”.


“baiklah aku akan melepakannya”.


“kenapa kau melakukan itu padanya?”.


“karena dia menyakiti milikku”.


“maksudmu?”.


“mandilah, aku akan mengajakmu bertemu dengannya”.


Juliet beranjak dari ranjang, saat menapakkan kaki dilantai, rasa nyeri dibagian kewanitaannya


membuat Juliet terjatuh. Adrian langsung bangun dan membantu Juliet “kau tidak


apa-apa, maafkan aku karena kasar”.Adrian membopong Juliet ke kamar mandi,


membantu Juliet membersihkan tubuhnya. Bahkan membantu Juliet memakai gaun yang


indah.


“apa masih sakit?”. Tanya Adrian sembari memeluk Juliet dari belakang didepan kaca


Juliet menggeleng.


“syukurlah, kalau masih sakit, aku akan memanggilkan dokter untukmu”.


“tidak perlu”.


“sesuai janjiku, aku akan mengajakmu ke lantai dua”.


Juliet dan Adrian menaiki tangga menuju lantai dua, dua orang penjaga menunduk hormat kepada mereka.


Pintu terbuka lebar, seorang wanita terduduk dengan rambut yang berantakan dan


juga tanpa busana di ranjang, hanya tertutupi oleh selimut. Wanita itu


mendongak melihat kearah Juliet dan Adrian.


“Kyle”. Ucap Juliet


Kyle menatap tajam kearah Juliet, wanita itu beranjak dari ranjang ingin memukul Juliet tapi ditahan oleh


kedua penjaga. “lepaskan aku! Aku akan membunuhnya!”. Ucap Kyle berteriak


Juliet langsung keluar dan berdiri di luar ruangan tersebut.


“kenapa kau melakukan hal itu pada Kyle?”. Tanya Juliet


“karena dia menyakitimu”.


“itu dulu Adrian!”.


“jika aku tidak datang waktu itu, kau akan diperkosa oleh orang suruhan Kyle”. Ucap Adrian lirih


Juliet langsung memeluk Adrian erat “terima kasih telah menjagaku sejak dulu”.


“Niana, aku mencintaimu sejak dulu, aku akan menghancurkan siapapun yang menyakitimu, termasuk Kyle”.


“tapi-“.


“tuan”. Panggilan Kevin membuat Juliet dan Adrian menghentikan pembicaraannya, Kevin berbisik pada


Adrian.


“sesuai janjiku”. Ucap Adrian


“baik tuan”.


“kalian berbicara soal apa?”. tanya Juliet penasaran


“aku akan melepaskannya”.


“Kyle”.


“iya, aku akan memastikan kau baik-baik saja, jadi jangan khawatirkan apapun soal ini”.


“aku bisa menjaga diriku sendiri Adrian”.


“ya aku tau”.


Juliet tersenyum.


Beberap menit kemudian, Kyle keluar dari ruangan tersebut, memakai dress dan juga rambutnya sudah rapi,


wajahnya yang banyak lebam tertutupi make up, Kyle dibawa Kevin keluar dari


mansion itu, saat melewati Juliet, Kyle menatap Juliet seakan membunuhnya.


___________________________________________________________________________________


Kyle